BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem kardiovaskuler merupakan
salah satu sistem utama yang ada pada organisme.
Sistem kardiovaskuler berfungsi untuk mempertahankan kualitas dankuantitas
cairan yang ada di dalam tubuh agar tetap homeostatis. Organ-organ
penyusun sistem kardiovaskuler terdiri atas jantung sebagaialat pompa utama,
pembuluh darah, serta darah. Sistem kardiovaskuler yang sehatditandai dengan
proses sirkulasi yang normal, apabila sirkulasi terhambat akibat keabnormalan
dari organ-organ penyusun sistem kardiovaskuler ini maka akan dapat
menimbulkan berbagai penyakit bahkan bisa mematikan.
Tubuh manusia tersusun atas berbagai organ penting yang
saling berhubungan dan melakukan fungsinnya masing – masing. Salah satunya
adalah jantung. Jantung merupakan organ yang sangat penting bagi tubuh
karena jantung membawa bahan-bahan yang mutlak dibutuhkan oleh sel-sel seluruh
tubuh melalui medium darah, sehingga jantung berperan penting dalam sistem
sirkulasi.
Denyut nadi dan tekanan darah merupakan hal yang amat
penting dalam bidang kesehatan pada umumnya dan khususnya di bidang Kedokteran,
karena denyut nadi maupun tekanan darah merupakan faktor-faktor yang dapat
dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler seseorang.
Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah
terhadap satuan luas dinding pembuluh darah (arteri). Tekanan ini harus
adekuat, yaitu cukup tinggi untuk menghasilkan daya dorong terhadap darah dan
tidak boleh terlalu tinggi yang dapat menimbulkan beban kerja tambahan bagi
jantung. Tekanan sistol adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri
sewaktu darah dipompa kedalam pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel.
Sedangkan tekanan diastol adalah tekanan terendah yang terjadi di arteri
sewaktu darah mengalir keluar pembuluh-pembuluh hilir tersebut sewaktu
relaksasi ventrikel. Tekanan arteri ini akan berubah tergantung pada volume
darah dalam pembuluh dan daya regang dinding pembuluh darah.
Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dengan memasukkan
kanula kedalam pembuluh darah arteri dan dimonitor dengan alat pendeteksi
tekanan darahnya. Cara ini tidak lazim digunakan karena tidak mudah
pelaksanaannya. Cara tidak langsung dengan menggunakan alat sphygmomanometer,
yang lebih nyaman dan mudah dilakukan setiap saat.
Denyut nadi dan tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh
berbagai faktor di antaranya adalah perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik.
Dengan mengamati serta mempelajari hasil pengaruh perubahan
posisi tubuh dan aktivitas fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah, kita
akan memperoleh sebagian gambaran mengenai sistem kardiovaskuler seseorang.
Manusia
memiliki organ ±
organ tertentu yang memiliki fungsi penting
untuk kelangsungan hidupnya,
tanpa organ tersebut manusia tidak dapat hidup. Organ yangmemiliki fungsi
penting untuk kelangsungan hidup manusia disebut organ vital. Organvital
tersebut sebagian besar terdapat pada bagian dalam tubuh, dilindungi oleh
rangkatubuh manusia. Organ vital
seperti organ otak merupakan bagian dari
sistem saraf yang membentuk sistem
koordinasi tubuh pada manusia; organ lambung, usus halus, dan usus
besar merupakan bagian dari sistem pencernaan, yang berfungsi mencerna
makanan yang kitamakan, mengubahnya dari bentuk kasar menjadi bentuk halus,
sehingga dapat diasorbsioleh usus halus, dan hasil metabolisme makanan tersebut
dapat diedarkan ke seluruhtubuh oleh darah.
Jantung adalah organ vital terpenting yang berfungi memompa darah ke
seluruhtubuh yang membentuk sistem
peredaran darah dalam tubuh bersama pembuluh daraharteri dan pembuluhdarah
vena.Selain organ ± organ yang telah disebutkan di atas masih ada lagi
organ vital yangmembentuk sistem di dalam tubuh yang memiliki fungsi penting
untuk kelangsunganhidup manusia.Dalam
praktikum anatomi fisiologi manusia, mahasiswa dikenalkan mengenaiorgan ± organ
dalam melalui alat peraga.
Denyut nadi dan tekanan darah merupakan
hal yang amat penting dalam bidang kesehatan pada umumnya dan khususnya di
bidang Kedokteran, karena denyut nadi maupun tekanan darah merupakan
faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem
kardiovaskuler seseorang.
Tekanan
darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding
pembuluh darah (arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi untuk
menghasilkan daya dorong terhadap darah dan tidak boleh terlalu tinggi yang
dapat menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung. Tekanan sistol adalah
tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri sewaktu darah dipompa kedalam
pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel. Sedangkan tekanan diastol adalah
tekanan terendah yang terjadi di arteri sewaktu darah mengalir keluar
pembuluh-pembuluh hilir tersebut sewaktu relaksasi ventrikel. Tekanan arteri
ini akan berubah tergantung pada volume darah dalam pembuluh dan daya regang
dinding pembuluh darah.
Pengukuran
tekanan darah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung dengan memasukkan kanula kedalam pembuluh darah
arteri dan dimonitor dengan alat pendeteksi tekanan darahnya. Cara ini tidak
lazim digunakan karena tidak mudah pelaksanaannya. Cara tidak langsung dengan
menggunakan alat sphygmomanometer, yang lebih nyaman dan mudah dilakukan setiap
saat.
Denyut
nadi dan tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya
adalah perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik.
Dalam tubuh kita terdapat banyak aliran darah
yang sering kita sebut dengan pembuluh darah. Bila pembuluh darah dipotong atau
dirobek, sangat penting untuk menghentikan keluarnya darah dari sistem sebelum
berakhir dengan kematian. Dari sudut mekanisme pendarahan dapat berhenti jika
(1) bila tekanan darah dalam pembuluh darah lebih kecil dari pada tekanan
diluar pembulu darah, keadaan tersebut dapat terjadi jika banyak darah yang
tergenang disekitar pembulu darah yang robek terjadi penurunan tekanan darah
secara menyeluruh (2) bila ada sumbat yang dapat menyumbat lubang pembuluh
darah yang robek. Pembentukan sumbat hemostatis dari komponen-komponen darah
merupakan mekanisme yang penting dalam hemostasis alamiah. Adanya gangguan
terhadap homeostasis alamiah mengakibatkan pendarahan agak sukar dikendalikan
seperti halnya pada hemofilia. Sumbat hemostatis mula-mula terbentuk dari
agresi trombosit tetapi kemudian fibrin akan terbentuk. Fibrin yang merupakan
serat-serat panjang akan membentuk jendolan lewat penjeratan sel darah merah
dan sel darah putih, jendolan tadi disebut koagulum.
Pemadatan atau lebih dikenal dengan pembekuan darah mampu menghentikan
semua pendarahan kecuali pada pembuluh darah yang rusak, keping darah melekat
pada permukaan dalam dinding pembuluh darah tersebut. Dinding rombosit bersifat
sangat rapuh dan cenderung untuk melekat pada permukaan kasar seperti pada
pembuluh darah yang robek.
Pada waktu darah membeku, sebetulnya fibrin pada saat itu
adalah anyaman fibrin yang menjerat sel-sel darah. Fibrin yang
baru dibentuk bersifat sangat lekat, sehingga fibrin saling melekat. Selain
itu, sel-sel darah, jaringan-jaringan dan benda-benda asing tertentu akan
melekat pada fibrin. Sifat lekat ini sangat efektif bagi darah yang membeku.
Pada darah yang baru membeku, koagulum yang baru terbentuk itu masih merupakan
masa yang lunak seperti selei. Tetapi lamam kelamaan koagulum akan mengkerut
sampai 40% dari volume semula dan cairan akan dibebaskan. Cairan yang
dibebaskan dari koagulum tersebut disebut serum. Serum merupakan plasma tanpa
fibrinogen dan faktor-faktor lain yang terlibat dalam proses pembekuan darah.
Koagulum akhirnya akan bersifat agak keras, lebih padat. Kenyal dan lebih
efesien sebagai sumbat. Pengerutan koagulum terjadi kurang sempurna kalau
trombosit secara percobaaan diambil atau pada keadaan dimana jumlah trombosit
menurun. Koagulum yang terbentuk akan segera lenyap bila pemyembuhan luka telah
terjadi. Pross pemecahan atau penguraian koagoulum disebut fibrinolisis
Tujuan dan Manfaat
Praktikum Anatomi dan Fisiologi
Ternak yang berjudul fisiologi kardiovaskuler ini adalah mempelajari cara
pengukuran tekanan darah secara tidak langsung. Untuk mendengar bunyi jantung.
Untuk menentukan kemampuan fisik (kesehatan) seseorang dengan menilai
kesanggupan jantung dan paru-parunya melalui frekuensi dengan nadi setelah
melakukan suatu latihan/ kegiatan.
Adapun manfaat dari praktikum ini
adalah praktikan dapat mengetahui cara pengukuran tekanan darah, mendengarkan
bunyi jantung, menentukan kemampuan fisik masing-masing praktikan.
Didalam tubuh terdapat suatu hal yang terpenting yaitu
darah. Jantung merupakan organ terpenting dalam peredaran darah,yang memiliki
fungsi sebagai pemompa darah untuk dialirkan atau disirkulasikan keseluruh
tubuh melalui pembuluh darah.
Darah
merupakan jaringan pengikat dengan sel-selnya terendam dalam cairan matriks
(plasma darah) yang terdiri dari senyawa organik dan anorganik.Ilmu yang
mempelajari tentang darah disebut hematologi.
Darah mempunyai fungsi sebagai transportasi yaitu pembawa
zat-zat makanan dan oksigen ke seluruh sel di dalam tubuh, pembawa
karbondioksida dan zat metabolism atau zat yang berbahaya lainnya untuk
dibuang, mempertahankan lingkungan asam basa, mempertahankan homeostasis, serta
sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan mikroorganisme (antigen)
melalui fagostisosis dan aktivitas antibodi.
Darah yang diperiksa agar tidak membeku dapat diberi
antikoagulan. Tidak semua antikoagulan dapat dipakai karena berpengaruh
terhadap bentuk eritrosit atau leukosit, yang akan diperiksa hematologinya.
Antikoagulan (anti beku darah) yang umum digunakan ada 4 macam, yaitu: oxalat,
natrium oksalat,heparin dan Ethylene Diamine Tetra Acetic Acids (EDTA).
Pendarahan akan berhenti ketika terjadi
luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah kembali. Di tempat
terjadinya pendarahan, gumpalan darah beku terbentuk, yang menyumbat dan menyembuhkan
luka pada saatnya.Ini mungkin sebuah kejadian yang sederhana dan lumrah bagi
Anda, namun para ahli biokimia telah menyaksikan melalui penelitian mereka
bahwa hal ini sebenarnya adalah hasil dari sistem yang amat rumit yang tengah
bekerja. Hilangnya satu bagian saja dari sistem ini atau kerusakan apa pun
padanya akan menjadikan keseluruhan proses tidak bekerja.
Jika terjadi pendarahan, pembekuan darah
harus terbentuk segera untuk mencegah makhluk hidup mengalami kematian.Selain
itu, darah beku tersebut harus menutupi keseluruhan luka, dan lebih penting
lagi, harus hanya terbentuk tepat di atas, dan tetap berada di atas luka
tersebut. Jika tidak, seluruh darah makhluk hidup akan membeku dan menyebabkan
kematian, itulah mengapa bekuan darah itu harus terjadi pada waktu dan tempat
yang tepat
Pembekuan darah sangat penting tidak
hanya untuk luka yang tampak, namun juga untuk robeknya pembuluh darah halus
dalam tubuh kita yang terjadi sepanjang waktu.Meskipun tidak kita sadari,
selalu terjadi pendarahan kecil dalam tubuh yang terus-menerus.Ketika lengan
terbentur pintu atau duduk terlalu lama, ratusan pembuluh darah halus darah
robek.Pendarahan tersebut segera dihentikan dengan adanya sistem pembekuan
darah dan pembuluh darah halus dapat pulih sebagaimana keadaan normal.
Laju endap darah (LED) merupakan suatu
pemeriksaan darah yang dapat membantu penentuan status kesehatan seekor hewan.
LED ditentukan dengan mengukur jarak dalam mm yang ditempuh dalam satuanwaktu
tertentu oleh lapisan teratas yang beradadi dalam tabung-tabung standar yang
ditempatkan dalam posisi vertikal. Kecepatan pengendapan darah berbagai spesies
hewan sangat bervariasi.
Hemolisis
adalah pecahnya
membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya
(plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain
penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan
permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan
pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll. Apabila medium di
sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis)
medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui
membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung.
Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit
itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam
medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang
hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit
(plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat
dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar
eritrosit (plasma).
Hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada
dalam darah yang diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil
dengan semprit dalam suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam
suatu tabung khusus berskala hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini darah
tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah
tabung tersebut dipusingkan / sentripus dengan kecepatan dan waktu tertentu,
maka SDM akan mengendap. Dari skala Hematokrit yang tertulis di dinding tabung
dapat dibaca berapa besar bagian volume darah seluruhnya. Nilai hematokrit yang
disepakati normal pada laki – laki dewasa sehat ialah 45% sedangkan untuk
wanita dewasa adalah 41%.
Darah merupakan
jaringan pengikat dengan sel-selnya terendam dalam cairan matrik (plasma darah)
yang terdiri dari senyawa organik dan anorganik. Darah terdiri atas dua
komponen utama, yaitu plasma dan sel-sel darah. Plasma darah merupakan bagian
darah yang padat, terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit) dan keping-keping darah (trombosis).
Hemoglobin merupakan pigmen eritrosit
yang terdiri dari protein kompleks terkonyugasi yang mengandung besi. Ada
beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan kadar hb dalam darah,
yaitu metode hematin-asam, metode wong, metode cyanmethemoglobin, dan metode
oksihemoglobin. Pada praktikum ini penentuan kadar hb dilakukan dengan metode
hematin-asam.
Penghitungan total leukosit penting untuk
diagnosa klinik, tapi akan lebih memberikan gambaran yang lengkap dengan
penghitungan diferensial leukosit. Diferensial leukosit merupakan persentase
setiap jumlah sel darah putih dari total leukosit. Setiap jenis sel darah putih
mempunyai fungsi yang berbeda dalam melawan infeksi dan setiap penyakit
menghasilkan perbedaan sel daarah putih yang di dalam darah.
1.2
Tujuan dan Manfaat
Pada praktikum mengenai pemeriksaan hematologi mempunyai
tujuan yaitu tujuan dari praktikum preparat natif darah ialah pertama,
mengamati, memperhatikan bentuk sel darah (eritrosit dan leukosit) mamalia dan
unggas. Kedua, mengamati, memperhatikan ada tidaknya sel yang mengalami
pengkerutan (krenasi), dan bentuk rouleaux. Ketiga, mengamati ada tidaknya
mikroorganisme didalam darah.
Tujuan
dari praktikum Waktu perdarahan ialah untuk menentukan lama waktu perdarahan
dengan metode Duke.
Tujuan
dari praktikum waktu beku darah ialah untuk menentukan waktu beku darah (waktu
koagulasi darah) ternak atau manusia
Pada
Laju Endap Darah tujuannya ialah
untuk menentukan laju endap darah dengan tabung Watergreen.
Sedangkan tujuan praktikum Hemolisis ialah
untuk mengamati hemolisis darah dan keriput pada membran peritrosit (krenasi)
akibat perubahan larutan medium darah dan menentukan batas konsentrasi NaCl
dari medium dimana eritrosit mulai lisis (minimum
resistance) dan hemolisis total (maximum
resistance).
Pada praktikum mengenai
Hematokrit adalah menentukan nilai hematokrit (% volume eritrosit di dalam
darah) dengan metode mikrohematokrit.
Pada praktikum mengenai
hemoglobin tujuannya ialah menentukan kadar hemoglobin di dalam darah menurut
metode Sahli.
Pada praktikum mengenai
Menghitung Jumlah Sel Darah tujuannya ialah untuk mengetahui jumlah sel darah
merah dan sel darah putih per
darah.
Pada praktikum mengenai
Diferensial Leukosit (Leukogram) tujuannya ialah untuk mempelajari cara membuat preparat
ulas/upas darah, mengamati berbagai macam bentuk sel-sel darah pada preparat
darah periferr (khususnya bentuk sel darah putih), dan menghitung % jenis ssel
darah putih (leukosit) pada preparat ulas darah perifer.
Adapun manfaat dari praktikum ini
adalah pada praktikum mengenai preparat natif darah manfaatnya ialah mahasiswa
mengetahui bentuk sel darah, mengetahui ada tidaknya sel yang mengalami
pengkerutan (krenasi) dan bentuk rouleaux, mengetahui ada tidaknya
mikroorganisme dalam darah.
Manfaat dari praktikum Waktu perdarahan ialah
mengetahui lama waktu perdarahan dengan metode Duke.
Manfaat dari praktikum waktu beku darah ialah mengetahui waktu beku darah (waktu koagulasi
darah) ternak atau manusia
Pada
Laju Endap Darah manfaatnya ialah
untuk mengetahui laju endap darah dengan
tabung Watergreen.
Sedangkan manfaat praktikum Hemolisis ialah untuk mengetahui
hemolisis darah dan keriput pada membran peritrosit (krenasi) akibat perubahan
larutan medium darah dan mengetahui
batas konsentrasi NaCl dari medium dimana eritrosit mulai lisis (minimum resistance) dan hemolisis total
(maximum resistance).
Pada praktikum mengenai
Hematokrit adalah mengetahui nilai hematokrit (% volume eritrosit di dalam
darah) dengan metode mikrohematokrit.
Pada praktikum mengenai
hemoglobin manfaatnya ialah mengetahui kadar hemoglobin di dalam darah menurut
metode Sahli.
Pada praktikum mengenai
Menghitung Jumlah Sel Darah manfaatnyanya ialah mengetahui jumlah sel darah
merah dan sel darah putih per
darah.
Pada praktikum mengenai
Diferensial Leukosit (Leukogram) ialah untuk mengetahui cara membuat preparat
ulas/upas darah, mngetahui berbagai macam bentuk sel-sel darah pada preparat
darah periferr (khususnya bentuk sel darah putih), dan mengetahui % jenis sel darah putih (leukosit) pada
preparat ulas darah perifer.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Sistem
kardiovaskuler terdiri dari jantung dan dua sistem veaskuler, sirkulasi
sistemik dan sirkulasi pulmonalis. Jantung selanjutnya memompa darah ke kedua
sistem vastikuler – sirkulasi tekanan pulmonalis lambat dimana disini terjadi
pertukaran gas, dan kemudian sirkulasi sistemik, dimana darah dialirkan ke
setiap organ, sesuai suplai dari permintaan metabolisme. Tekanan darah dan
aliran darah berperan penting untuk mengontrol melalui nervus autonomi sistem.
Dan juga berpengaruh pada pembedahan dan anatesi obat.pengetahuan yang baik
tentang fisiologi kardiovaskuler merupakan kebutuhan untuk anastesi praktis
yang baik (benar) (http://www.nda.ox.ac.uk, 2008).
Setiap
orang tahu bahwa jantung merupakan organ vital. Kita tidak bisa hidup tanpa
jantung. Bagaimanapun, jantung hanyalah sebuah pompa. Kompleks dan penting,
tapi hanyalah sebuah pompa. Seperti dengan pompa-pompa yang lain jantung bisa
menjadi tersumbat, kerja menurun dan membutuhkan perbaikan (adaptasi\0. Ini
menjadi alasan mengapa kita perlu mengetahui tentang bagaimana keja jantung.
Dengan sedikit pengetahuan tentang jantung kita dan mana yang baik dan mana yang
sebaiknya atau yang buruk untuk jantung, kamu bisa setidaknya sedikit
mengurangi bahaya dari ¬penyakit jantung (www.howstuffworks.com, 2008).
Peristiwa
yang terjadi pada jantung berawal dari permulaan sebuah denyut jantung
berikutnya disebut siklus jantung. Setiap siklus diawali oleh pembentukan
potensial aksi yang spontan di dalam nodus sinus. Nodus ini terletak pada
dinding lateral superior atrium kanan dekat tempat masuk vena kava superior ,
dan potensial aksi menjalar dari sini dengan kecepatan tinggi melalui kedua
atrium dan kemudian melalui berkas AV ke ventrikel. Karena terdapat pengaturan
khusus dalam sistem konduksi dari atrium menuju ke ventrikel, ditemukan
keterlambatan selama lebih dati 0,1 detik ketika impuls jantung dihantarkan
dari atrium ke ventrikel. Keadaan ini akan menyebabkan atrium akan berkontraksi
mendahului kontraksi ventrikel, sehingga akan memompakan darah ke dalam
ventrikel sebelum erjadi kontraksi atrium yang kuat. Jadi, atrium itu bekerja
sebagai pompa pendahulu bagi ventrikel, dan ventrikel selanjutnya akan
menyediakan sumber kekuatan utama untuk memompakan darah ke sistem pembuluh
darah tubuh (Guyton, 2000).
Pada saat
berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol).
Selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung
(disebut sistol). Kedua serambi mengendur dan berkontraksi secara bersamaan,
dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan. Darah yang
kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari
seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam
serambi kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke
dalam bilik kanan. Darah dari bilik kanan akan dipompa melalui katup pulmoner
ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui
pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di
paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya
dihembuskan. Darah yang kaya akan oksigen (darah bersih) mengalir di dalam vena
pulmonalis menuju ke serambi kiri. Peredaran darah di antara bagian kanan
jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam
serambi kiri akan didorong menuju bilik kiri, yang selanjutnya akan memompa
darah bersih ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar
dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali
paru-paru (http://id.wikipedia.org, 2008).
Otot jantung berbeda dari otot kerangka dalam hal struktur
dan fungsinya. Untuk berkontraksi otot jantung tidak memerlukan stimulus sebab
otot jantung memiliki sifat otomatis. Pada sel otot jantung dapat terjadi
peristiwa depolarisasi secara spontan tanpa ada stimulus. Selain itu otot
jantung juga memiliki sifat ritmis, peristiwa depolarisasi dan repolarisasi
berjalan menurut irama tertentu (Susanto, 2012).
Jantung berongga ditemukan pada vertebrata. Jantung
ini merupakan organ berotot yang mampu mendorong darah ke berbagai bagian
tubuh. Jantung bertanggung jawab untuk mempertahankan aliran darah dengan
bantuan sejumlah klep yang melengkapinya. Untuk menjamin kelangsungan
sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodik. Apabila cairan tubuh berhenti
bersirkulasi maka hewan mati (Isnaeni, 2006:178-179).
Otot jantung (cardiacmuscle) vertebrata hanya
ditemukan pada satu tempat yakni jantung. Seperti otot rangka, otot jantung
berlurik. Perbedaan utama antara otot rangka dan otot jantung adalah dalam
sifat membran dan listriknya. Sel-sel otot jantung mempunyai daerah khusus yang
disebut cakram berinterkalar (intercalateddisc), dimana persambungan
longgar memberikan pengkopelan listrik langsung di antara sel-sel otot jantung.
Dengan demikian suatu potensial aksi yang dibangkitkan
pasa satu bagian jantung akan menyebar keseluruh sel otot jantung. Dengan
demikian, suatu potensial aksi yang dibangkitkan pada satu bagian jantung akan
menyebar ke seluruh sel otot jantung. Dan jantung akan berkontraksi. Sel-sel
otot jantung tidak akan berkontraksi kecuali dipicu oleh inpu neuron motoris
yang mengontrolnya. Akan tetapi, sel-sel otot jantung dapat membangkitkan
potensial aksinya sendiri, tanpa suatu input apapun dari sistem saraf. Membran
plasma otot jantung mempunyai ciri pacu jantung yang menyebabkan depolarisasi
berirama, yang memicu potensial aksi dan menyebabkan sel otot jantung tunggal
untuk berdenyut bahkan ketika diisolasi daari jantung dan ditempatkan dalam
biakan sel. Potensial aksi sel otot jantung berbeda dari potensial aksi sel
otot rangka, yang bertahan sampai dua puluh kali lebih lama. Potensial aksi sel
otot rangka hanya berfungsi sebagai pemicu kontraksi dan tidak menguntrol
durasi kontraksi tersebut. Pada sel jantung durasi potensial aksi memainkan
peranan penting dalam pengontrolan durasi kontraksi (Campbell, 2004: h. 262).
Darah yang kaya oksigen kembali ke atrium kiri
jantung, dan kemudian sebagian besar di antaranya dipompakan ke dalam sirkuit
sistematik. Sirkuit sistemik (systemiccircuit) membawa darah yang kaya
oksigen ke seluruh organ tubuh dan kemudian mengembalikan darah yang miskin
oksigen ke atrium kanan melalui vena. Skema ini,yang disebut sirkulasi ganda (doublecirculation),
menjamin aliran darah yang keluar ke otak, otot, dan organ-organ lain, karena
darah itu dipompa untuk kedua kalinya setelah kehilangan tekanan dalam hamparan
kapiler pada paru-paru atau kulit (Campbell, 2004: h. 45).
Sistem kardiovaskuler banyak terdapat serabut-serabut saraf
sistem saraf otonom yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu sistem parasimpatis
dan simpatis. Keduanya mempunyai efek yang saling berlawanan dalam kerja
jantung. Didalam persyarafan jantung terdapat 2 buah sensor utama yaitu
baroreseptor dan kemoreseptor. Baroreseptor terletak di lengkung aorta
dan sinus karotikus. Fungsinya adalah untuk menghambat aktivitas jantung
dan menurunnya tekanan arteria memulai refleks kegiatan jantung.
Sedangkan kemoreseptor terletak dalam badan karotis dan badan aorta. Fungsinya
untuk meningkatkan aktifitas jantung dengan adanya rangsangan dari medulla
oblongata (Evelyn, 2009).
Jantung terbagi menjadi 2 atrium (atrium dextra dan atrium
sinistra) dan 2 ventrikel (ventrikel dextra dan ventrikel sinistra).
Ruangan jantung bagian atas (atrium) dan pembuluh darah besar (arteria
pulmonalis dan aorta) membentuk dasar jantung. Secara anatomi, atrium
terpisah terpisah dari ruangan jantung sebelah bawah (ventrikel) oleh suatu
annulus fibrosus (tempat terletaknya keempat katup jantung dan tempat
meletaknya keempat katup jantung dan tempat melekatnya katup maupun otot. Jantung dibagi menjadi 2 pompa yang
terpisah yaitu bagian pompa sisi kanan dan sisi kiri. Bagian dextra
memompa darah dari seluruh tubuh menuju pulmo untuk dibersihkan. Namun bagian
sinistra memompa darah dari pulmo menuju seluruh tubuh (Sylvia ,2006).
Macam Peredaran Darah Peredaran darah manusia merupakan
peredaran darah tertutup karena darah yang dialirkan dari dan ke seluruh tubuh
melalui pembuluh darah dan darah mengalir melewati jantung sebanyak dua kali
sehingga disebut sebagai peredaran darah ganda yang terdiri dari peredaran darah
panjang/besar/sistemik Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah yang kaya
oksigen dari bilik (ventrikel) kiri jantung lalu diedarkan ke seluruh jaringan
tubuh. Oksigen bertukar dengan karbondioksida di jaringan tubuh. Lalu darah
yang kaya karbondioksida dibawa melalui vena menuju serambi kanan ( atrium )
jantung.
Peredaran darah pendek/kecil/pulmonal adalah peredaran darah yang mengalirkan darah dari jantung ke
paru-paru dan kembali ke jantung. Darah yang kaya karbondioksida dari bilik
kanan dialirkan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis , di alveolus paru-paru
darah tersebut bertukar dengan darah yang kaya akan oksigen yang selanjutnya
akan dialirkan ke serambi kiri jantung melalui vena pulmonalis (Soewolo, 1999).
Darah yang mengandung banyak CO2 mengalir melalui
vena cava superior (dari ekstremitas atas, cavitas thorax, cavitas abdominalis)
dan inferior (dari ekstremitas bawah). Darah masuk ke atrium dexter untuk
selanjutnya mengalir menuju ventrikel dexter melewati katup trikuspidal.
Kemudian darah keluar dari ventrikel untuk menuju pulmo melewati arteri
pulmonalis yang memiliki katup semilunar pulmonalis untuk dibersihkan darahnya
(disaring CO2 nya untuk diganti dengan O2 melalui
alveolus pulmo). Setelah dibersihkan darah keluar dari pulmo menuju
atrium sinister melalui vena pulmonalis. Setelah tiba di atrium dexter,
darah akan mengalir menuju ventrikel sinister melalui katup bikuspidal.
Kemudian darah akan dipompa ke seluruh tubuh melalui aorta yang terdapat katup
semilunar aorta (Wulangi, 2006).
Sistem sirkulasi berkontribusi terhadap homeostasis dalam
tubuh. Sistem ini berfungsi sebagai perangkat untuk pemindahan dan penyaluran
berbagai bahan dari suatu bagian tubuh ke bagian lain dengan cepat. Tanpa
sistem sirkulasi ini, zat-zat yang berguna bagi tubuh akan sampai dengan waktu
yang relatif lebih lama. Namun dengan sistem transportasi ini hanya perlu
beberapa detik untuk sampai ke tujuan melalui kerja pompa cepat jantung
secara difusi sehingga organ-organ didalam tubuh akan tetap bekerja secara
normal (Sherwood, 2001).
Detak
jantung akan meningkat saat seseorang berdiri, karena darah yang
kembali ke jantung akan lebih
sedikit. Kondisi ini yang mungkin menyebabkan adanya peningkatan detak jantung
mendadak ketika seseorang bergerak dari posisi duduk atau berbaring ke posisi
berdiri(Ganong, 2002).
Tekanan
sistole adalah tekanan ruangan dalam suatu bilik maksimum. Pada waktu sistole
darah terpompa ke aorta, setelah darah terpompa ke aorta dinding bilik berelaksasi
ruangan jantung membesar maksimum sehingga tekanannya menjadi minimum. Tekanan
terendah dalam ruangan jantung akibat dari otot jantung berelaksasi disebut
tekanan diastole ( Prawirohartono, 2004 ).
Debaran
atau denyutan jantung atau lebih tepat debaran apex, adalah pukulan ventrikel
kiri kepada dinding anterior yang terjadi selama kontraksi ventrikel. Debaran
atau denyutan ini dapat diraba dan dirasakan denyutannya, dan sering terjadi
dan terlihat juga pada ruang interkostal ke lima kiri, kira-kira empat
sentimeter dari garis tengah sternum, misalnya ketika kita memegang dada kita,
akan terasa adanya pukulan dari dalam ( Pearce, 2002 ).
Jantung
mempunyai empat katub utama yang terbuat dari jaringan endokarium. Katub
merupakan bangunan mirip penutup yang membuka dan menutup sebagai respon
terhadap pemompaan jantung. Dengan membuka dan menutup, katub memungkinkan
darah bergerak ke depan keseluruh tubuh dan paru-paru dan mencegah aliran darah
kembali ( Atwood et al, 1996 ).
Standart
denyut jantung pada keadaan normal tiap menit adalah sebagai berikut : kelinci
120–150 kali, marmot 120–150 kali, ayam 120–170 kali, burung merpati 100–150
kali, sapi 40–60 kali, dan domba 70–80 kali tiap menit. Denyut jantung
dipengaruhi oleh kesehatan dari hewan ternak, sehingga frekuensi denyut
jantungnya melambat. Dengan terganggunya kesehatan pada ternak memungkinkan
adanya hormon yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga ternak mempunyai
frekuensi yang dibawah normal ( Akoso, 1996 ).
Sel darah merah
pada unggas (ayam) mengalami pengkerutan (krenasi). Pada pengamatan ini
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40x. hal tersebut tidak sesui dengan
yang menyatakan bahwa Pada pengamatan sel darah merah pada darah mamamalia
terlihat bentuk sel seperti cakram, bikonkaf, sorkular dan tidak berinti. (Arifa:2011)
Mikrajuddin (2004), yang menyatakan bahwa darah manusia
ataupun hewan terdiri dari dua kompoen penting yaitu sel-sel darah dan plasma
darah (cairan drah). Dimana sel-sel darah itu sendiri terdiri dari sel drah
merah dan sel drah putih serta kepng drah, sedangkan cairan drah terdiri dari
cairan darah (Plasma darah).
Menurut Anonim (2009), yang menyatakan bahwa susunan darah
terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit),
keeping-keping darah (trombosit), dan plasma darah.
Mikrajuddin (2004), yang menyatakan bahwa darah manusi
ataupun hewan terdiri dari dua kompoen penting yaitu sel-sel darah dan plasma
darah (cairan drah). Dimana sel-sel darah itu sendiri terdiri dari sel drah
merah dan sel drah putih serta kepng drah, sedangkan cairan drah terdiri dari
cairan darah (Plasma darah).
Menurut Anonim (2009), yang menyatakan bahwa susunan darah
terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit),
keeping-keping darah (trombosit), dan plasma darah. Pada praktikum ini
ditemukan sel darah putih (leukosit), hal ini dikarenakan cirri-ciri dan
spesifikasi leukosit yang memiliki inti atau nucleus.
Syaifuddin
(2002) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik dari sel darah putih
yakni memiliki inti atau nucleus serta mampu bergerak bebas dalam darah.
Watson (2002),
yang menyatakan bahwa salah satu cirri dari sel darah putih tidak berwarna.
Pendarahan dapat
berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang
terjadi beberapa menit sampai beberapa jam. Apabila pembuluh darah mengalami
dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme
trombosit. Vasa kontraksi timbul melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot
pembuluh darah kemudian anoksia dan refleks lalu adanya serotonis yang keluar
dari trombosit yang menyebabkan vasa kontraksi ( Schmid, 1997 ).
Sistem vasikuler
darah terdiri atas lingkaran pembuluh yang aliran darahnya dipertahankan oleh
jantung yang memompa terus menerus. Sistem arteri membentuk jalinan yang menuju
kapiler yang merupakan tempat utama pertukaran gas dan metabolit antara jaringan
darah, sistem vena mengembalikan darah dari kapiler ke jantung. Sebaliknya,
sistem vasikuler limfe semata-mata adalah sistem drainase pasif untuk
mengembalikan cairan ekstra vasikuler yang berlebihan, yaitu limfe kedalam
sistem vasikuler darah ( Burkitt et al,
1995 ).
Darah adalah
suatu cairan jaringan yang beredar melalui jantung beserta pembuluhnya yang
berperan dalam:
1. Mengangkut oksigen dari alat pernapasan ke
seluruh jaringan tubuh yang membutuhkan oksigen. Tugas ini dilakukan oleh hemoglobin.
2. Sebagai benteng pertahanan tubuh dari
infeksi berbagai kuman penyakit. Tugas ini dilaksanakan oleh zat antibodi,
eritrosit dan leukosit.
3. Menjaga stabilitas suhu tubuh dengan
memindahkan panas yang dihasilkan oleh alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat
tubuh yang tidak aktif.
4. Mengatur keseimbangan asam dan basa untuk
menghindari kerusakan jaringan tubuh.
(
Prawirohartono, 2004 ).
Cairan darah
atau sering disebut darah pada avertebrata mengandung sedikit dalam plasma
darahnya. Unsur seluler darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih,
trombosit (platelets) dan zat-zat terlarut lainnya, misal protein plasma
(albumin, fibrinogen, dan globin) ( Nurcahyo, 1998 ).
Keping darah
(platelet) akan bereaksi jika terjadi luka pada pembuluh. Waktu pendarahan
adalah waktu pada saat darah keluar hingga berhenti keluar. Darah yang keluar
biasanya mempunyai selang waktu antara 15-20 detik. Biasanya setelah terjadi
pendarahan akan terjadi koagulasi darah. Jadi waktu pendarahan sangat berkaitan
dengan proses koagulasi darah ( Swenson, 1997 ).
Waktu pendarahan
adalah waktu yang dibutuhkan kulit berdarah untuk berhenti estela penusukan
kulit. Darah dihapus setiap 30 detik atau luka diredam dalam larutan fisiologis
(Sonjaya, 2008).
Anonim (2009),
waktu pendarahan adalah interval waktu mulai timbulnya tetes darah dari
pembuluh darah yang luka sampai darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh
darah. Penghentian pendarahan ini disebabkan oleh terbentuknya agregat yang
menutupi celah pembuluh darah yang rusak. Peningkatan waktu pendarahan setelah
pemberian bahan uji menunjukkan adanya efek antiagregasi platelet.
(Dsyoghi, 2010)
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yakni besar
kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas kadar
hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu pendarahan yang normal adalah 15 hingga
120 detik.
(Anonim, 2009)
Waktu pendarahan diamati sebagai interval waktu timbulnya tetes darah dari
mulai pembulh darah yang luka sampai darah terhenti mengalir keluar dari
pembuluh darah. Penghentian pendarahan ini disebabkan oleh terbentuknya agregat
pletelat yang menutupi calah pembuluh darah yang rusak.
Pada dasarnya
plasma adalah larutan garam-garam anorganik yang secara tetap ditukarkan dengan
cairan ekstra sel dari jaringan tubuh. Plasma juga mengandung protein, protein
plasma, yang dapat dibedakan dalam jenis utama yaitu albumin, globulin, dan
fibrinogen. Secara kolektif protein plasma menimbulkan tekanan osmotik koloid
didalam sistem sirkulasi, yang membantu mengatur pertukaran larutan cair
diantara plasma dan cairan ekstra sel ( Burkit et al, 1995 ).
Hemostatis
merupakan peristiwa penghentian pendarahan akibat putusnya atau robeknya
pembulih darah, sedangkan trombosit terjadi ketika endotelium yang melapisi
pembuluh darah rusak atau hilang. Peristiwa ini mencakup pembekuan darah
(koagulasi) dan melibatkan pembuluh darah, agregasi trombosit (platelet) serat
protein plasma baik yang menyebabkan pembekuan maupun yang melarutkan bekuan (
Murrary, 1999 ).
Proses pembekuan
darah adalah dimulai dari luka yang terdapat pada pembuluh darah. Sehingga
mengenai trombosit, trombosit akan pecah dan pecahnya trombosit tersebut akan
menghasilkan anzim trombokinase yang dapat mengubah protrombin menjadi trombin.
Kemudian trombin yang dibentuk tersebut akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin
yang berupa filamen-filamen/jala ( Ganong, 1995 ).
Keping darah
(platelet) akan bereaksi jika terjadi luka pada pembuluh. Waktu pendarahan
adalah waktu pada saat darah keluar hingga berhenti keluar. Darah yang keluar
biasanya mempunyai selang waktu antara 15-20 detik. Biasanya setelah terjadi
pendarahan akan terjadi koagulasi darah. Jadi waktu pendarahan sangat berkaitan
dengan proses koagulasi darah ( Swenson, 1997 ).
Koagulasi darah
adalah suatu fungsi penting dari darah untuk mencegah banyaknya darah yang
hilang dari pembuluh darah yang rusak (terluka). Bagian dari darah yang sangat
berperan dalam proses koagulasi adalah trombosit atau keping darah. Trombosit
berasal dari sistem sel di sumsum tulang yaitu mengakarosit yang berkembang
menjadi trombosit ( Nurcahyo, 1998 ).
. (Sonjaya,
2008) Waktu pendarahan biasanya dapat juga diartikan sebagai waktu ulai
keluarnya tetesan darah pertama sampai tidak ada lagi noda di kertas saring atau
tissue. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yaitu
besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan
aktivitas, kadar hemaglobin dalam plasma dan kadar globulin dalam darah.
Hemofilia yaitu
defisiensi herediter yang semuanyan menyebabkan kecenderungan pendarhan yang
sukar dibedakan satu yang lainnya (Syaifuddin, 2002).
Faktor-faktor
yang mempengaruhi proses pendarahan yaitu besar kecilnya luka atau umur,
temperature atau suhu, dalam menggunakan kertas saring yang terlalu ditekan
atau dapat pula oleh kadar kalsium dalam darah. Faktor yang lainnya yaitu
tingkat kesehatan setiap individu dan banyak tidaknya zat kalsium yang
terkansung dalam darah (Frandson,2002).
Ariwibowo
(2007), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi waktu koagulasi darah yaitu
adanya pembentukan tromboplastin, adanya ion kalsium dan substansi faktor
trombosit bereaksi dengan faktor anti hemofilik membentuk tromboplastin,
protrombin, prokonvertin, akseleretor konversi serum protrombin dan ion kalsium.Dari
data diatas juga terlihat darah masih dalam kisaran normal baik pria maupun
wanita
Siregar (2005)
yang menyatakan bahwa masa pembekuan normal berkisar 5-8 menit.
Proses koagulasi
atau penggumpalan darah terjadi ketika luka pada tubuh mulai mengeluarkan
darah. Sebuah enzim yang disebut tromboplastin yang dihasilkan sel-sel jaringan
yang terluka bereaksi dengan kalsium dan protrombin di dalam darah. Akibat
reaksi kimia, jalinan benang-benang yang dihasilkan membentuk lapisan
pelindung, yang kemudian mengeras (Indah, 2008).
Waktu beku darah
dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik Faktor
ekstrinsik dapat mengaktifkan faktor-faktor intrinsik (Drake, 2005).
(Puzzy, 2009)
Bekuan mulai terbentuk dalam 15 sampai 20 detik bila trauma pembuluh sangat
hebat, dan dalam 1 sampai 2 menit bila traumanya kecil.
Koagulum yang
terbentuk akan segera lenyap bila pemyembuhan luka telah terjadi. Proses pemecahan
atau penguraian koagoulum disebut fibrinolisis ( Wulangi, 2001).
Darah adalah cairan yang terdiri atas sel darah merah dan
sel darah putih beserta sel-sel yang terdapat didalam plasma darah. Sewaktu
darah menggumpal, sel-sel dan material yang lain akan secara bersama-sama
membentuk masa yang pekat seperti gelatin dan bagian yang berupa cairan disebut
serutin. Sel darah merah memperoleh warna dari haemoglobin yaitu suatu
substansi khusus pewarna darah yang berisi zat besi ( Akoso, 1996 ).
Sel darah merah (SDM) atau erythrocyte berasal dari bahasa
Yunani, Crythro merah dan cyte = sel, berasal dari erythrom yang merupakan
deferensiasi sel darah dalam sumsum tulang belakang. Dengan pengaruh hormon
erythropoitin akan berkembang menjadi erythoid. Erythoid akan berkembang
menjadi Erythoblast awal, erythoblas awal terus mengalami perkembangan menjadi
erythoblast akhir kemudian berkembang menjadi retikulosit dan akhirnya menjadi
erythrocyte ( Nurcahyo, 1998 ).
Erytrosit atau sel
darah merah membawa haemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah berbentuk
piring yang biconcave. Pada mamalia sel
darah merah tidak bernukleus kecuali pada awal dan pada hewan hewan tertentu.
Sel darah merah pada unggas mempunyai nucleus dan berbentuk elips. Sel darah
merah ini terdiri dari air (65%), Hb (33%), dan sisanya terdiri dari sel
stroma, lemak, mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya dan ion K (
Kusumawati, 2004 ).
Sel darah merah merupakan bagian utama dari darah. Bentuknya
bikonkaf, tidak berinti, tidak dapat bergerak bebas, dan tidak dapat menembus
dinding kapiler. Warna sel darah merah sebenarnya kekuning-kuningan, warna ini
disebabkan oleh adanya pigmen darah yang disebut hemoglobin. Hemoglobin adalah
protein rangkap yang terdiri dari hemin dan globin. Hemin adalah senyawa asam
amino yang mengandung zat besi, senyawa inilah yang menyebabkan warna darah
menjadi merah ( Prawirohartono, 2004 ).
Cairan darah atau sering disebut darah pada avertebrata
mengandung sedikit dalam plasma darahnya. Unsur seluler darah terdiri dari sel
darah merah, sel darah putih, trombosit (platelets) dan zat-zat terlarut
lainnya, misal protein plasma (albumin, fibrinogen, dan globin) ( Nurcahyo,
1998 ).
Untuk hewan yang aktivitas sehari-hari biasanya terjadi
temperatur maksimum sedangkan pada malam hari akan terjadi temperatur minimum
dan hal ini berlangsung sampai pagi hari. Pada hewan yang aktivitasnya pada
malam hari yang terjadi sebaliknya. Thermoregulasi pada manusia berpusat pada
hipothalamus antherior. Terdapat tiga komponen atau pengatur sistem pengaturan
panas yaitu thermoreseptor, hypothalamus, dan saraf afferent dan efektor
thermoregulasi ( Giancoli, 2001 ).
Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas
yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang
dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi
adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk
merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara
langsung antara dua materi padat yang berhubungan langsung tanpa ada transfer
panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki
suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran
cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan
suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju
konveksi kehilangan panas karena evaporasi ( Martini, 1998 ).
Berdasarkan pengaruh suhu dan lingkungan, suhu hewan
dibedakan menjadi dua golongan yaitu poikilotherm dan homoitherm. Hewaan
poikilotherm suhunya dipengaruhi oleh suhu lingkungan, suhu organ tubuh bagian
dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu organ luar hewan yang dipengaruhi
oleh suhu sekitarnya. Perbedaan suhu pada bagian-bagian ini diakibatkan oleh
adanya panas yang diproduksi. Panas yang diperoleh dan panas yang dilepasakan
bagian tersebut. Hewan ini disebut juga hewan berdarah dingin ( Duke, 1995 ).
Ternak pada kandang tanpa naungan mengalami cekaman atau
beban panas yang lebih besar, sehingga akan melakukan aktivitas mekanisme
termoregulasi melalui jalur evaporasi, baik melalui kulit maupun pernafasan,
yang lebih besar jika dibandingkan dengan ternak yang berada di bawah naungan (
Arif Qisthon, 2004 ).
Guyton (2003), waktu koagulasi adalah waktu yang dibutuhkan
darah untuk menggumpal dimana bervariasi untuk berbagai spesies.
Pembuluh darah yang terpotong atau rusak,
maka akan terjadi penyempitan bagian yang terluka. Hal ini terjadi karena
kontraksi miogenik otot polos sebagai suatu plasma lokal dan karena
refleks simpatik yang merangsang serabut adrogenik yang menginversi
otot polos dinding pembuluh lokal. Kontraksi ini membuat darah yang keluar dari
pembuluh darah akan berkurang (Frandson, 2002).
Pendarahan dapat berhenti sendiri misalnya
dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit sampai
beberapa jam. Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak keluar
lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme trombosit. Vasa kontraksi timbul
melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot pembuluh darah kemudian anoksia
dan reflek lalu adanya serotonis yang keluar dari trombosit yang menyebabkan
vasa kontraksi (Schmid, 2007).
Kisaran waktu pendarahan yang normal untuk
manusia adalah 15 hingga 120 detik. Trombosit
melekat pada endotel pada tepi-tepi pembuluh yang rusak. Hal ini terjadi sampai
elemen-elemen pembuluh darah yang putus menyempit. Penjedalan darah sangat
penting dalam mekanisme penghentian darah (Guyton,2009).
Pembekuan darah disebut
juga koagulasi darah. Faktor yang diperlukan dalam penggumpalan darah adalah
garam kalsium sel yang luka yang membebaskan trompokinase, trombin
dari protombin dan fibrin yang terbentuk dari fibrinogen.
Mekanisme pembekuan darah adalah sebagai berikut setelah trombosit meninggalkan
pembuluh darah dan pecah, maka trombosit akan mengeluarkan tromboplastin.
Bersama-sama dengan ion Ca tromboplastin mengaktifkan protrombin
menjadi trombin (Evelyn, 2009).
Trombin adalah enzim yang
mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin inilah yang
berfungsi menjaring sel-sel darah merah menjadi gel atau menggumpal (Poedjiadi,
2004). Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit
dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan
mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam (Frandson,
2002). Koagulasi dapat dicegah dengan penambahan kalium sitrat atau natrium
sitrat yang menghilangkan garam kalsium (Schmidt, 2007).
Darah terdiri dari dua komponen, yaitu sel sel dan cairannya (plasma).
Plasma tanpa fibrinogen biasa kita sebut dengan serum. Pada abad ke 18, terjadi
banyak kematian pada resipien tanpa diketahui sebab sebab nya. Namun
Landsteiner menemukan bahwa sel sel darah manusia dari beberapa indivisu akan
menggumpal ( beraglutinasi ) dalam kelompok kelompok yang dapat dilihat dengan
mata telanjang, apabila dicampur dengan serum dari beberapa orang, tetapi tidak
dengan semua orang. Kemudian diketahui bahwa dasar dari menggumpalnya eritrosit
tadi ialah adanya reaksi antigen antibodi. Apabila suatu substansi asing
disuntikkan ke dalam aliran darah dari seekor hewan akan mengakibatkan
terbentuknya antibodi tertentu yang akan beraksi dengan antigen.(Suryo, 2005)
Sel darah merah (eritrosit) membawa hemoglobin dalam
sirkulasi. Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dan dibentuk dalam sumsum
tulang. Pada mamalia sel darah merah kehilangan intinya sebelum masuk
sirkulasi. Pada manusia, sel darah merah hidup dalam sirkulasi 120 hari
(Ganong, 297).
Darah merupakan cairan viskus yang mengalami perubahan pada
fisiknya yang dapat ditemukan pada beberapa penyakit. Komposisi darah yang unik
suatu suspensi sel yang dapat berubah didalam larutan yang kaya protein
menghasilkan sifat fisik yang kompleks. Sebagian besar pembuluh darah, shear rates
(misalnya perbedaan velositas antara lapisan cairan) sangat tinggi yang
bersebelahan dengan dinding arteri besar sebaliknya shear rates yang rendah
terdapat pada vena kecil (Underwood,2009).
Unsur seluler suluruh darah terdiri dari sel darah merah
(eritrosit, RBC atau red blood corpuscules), beberapa jenis sel darah putih
(leukosit, WBC atau white blood corpuscules), dan pecahan sel yang disebut
trombosit. Fungsi sel darah merah adalah untuk transfor dan pertukaran oksigen
serta karbondioksida. Sedangkan sel darah putih bertanggung jawab untuk
mengatasi infeksi dan trombosit untuk hemostatis (Price, 2004).
Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat
lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat
disebabkan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik,
saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek
lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili
Elapidae (Portal Pendidikan Biologi 2002).
Enzim penyebab hemolisis umumnya termasuk ke dalam
golongan enzim lipase seperti fosfolipase. Enzim fosfolipase ditemukan pada
semua bisa ular dalam beberapa bentuk dan variasi. Bisa ular family elapidae
ditemukan 4 jenis fosfolipase, yaitu A1, A2, C, dan D yang diklasifikasikan
berdasarkan bagian mana dari ikatan ester 3- sn fosfogliserida yang
dihidrolisis (Fry 2009).
Haemoglobin adalah suatu protein yang membawa
oksigen dan yang memberi warna merah pada sel darah merah (Barger, 2002:171).
Dengan kata lain haemoglobin merupakan komponen yang terpenting dalam
eritrosit.
Haemoglobin juga merupakan protein yang kaya zat
besi yang memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen
itu membentuk oxsihaemoglobin di dalam sel darah merah. Jumlah haemoglobin
dalam darah normal ialah 15 gram setiap 100 ml darah, dan jamlah itu biasanya
disebut “100persen”. Menurut Costill (2008:48), haemoglobin adalah zat yang
terdapat dalam butir darah merah. Haemoglobin sebenarnya adalah merupakan
protein globuler yang di bentuk dari 4 sub unit, dan setiap sub unit mengandung
hame.
Hematokrit berasal dari kata haimat yang berarti
darah, dan krinein yang berarti memisahkan. (Dep Kes RI, 2009). Hematokrit
(mikro) adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan memutarnya
di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen.
Nilai hematokrit digunakan untuk mengetahui nilai
eritrosit rata-rata dan untuk mengetahui ada tidaknya anemi. Penetapan nilai
hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Nilai normal hematokrit
disebut dengan %, nilai untuk pria 40-48 vol % dan untuk wanita 37-43 vol %.
Penetapan hematokrit cara manual (metode mikro) dapat dilakukan sangat teliti,
kesalahan metodik rata-rata ± 2 % (Gandasoebrata, 2007).
Prinsip pengukuran hematokrit cara manual (metode
mikro) adalah darah vena dengan menggunakan antikoagulan, kemudian dimasukkan
ke dalam tabung kapiler yang salah satu ujungnya ditutup dengan bahan khusus
(malam) dan dipusingkan dengan kecepatan tertentu sehingga terjadi pemadatan
sel-sel darah merah. Tingginya sel darah merah diukur dengan menggunakan skala
hematokrit yang dinyatakan dalam persen terhadap seluruh darah. (wirawan,
2006).
Alat yang dipakai untuk pemeriksaan hematokrit
sendiri adalah tabung mikrokapiler, tabung tersebut dibuat khusus untuk mikro
hematokrit dengan panjangnya 75 mm dan diameter dalamnya 1,2 sampai 1,5 mm. Ada
pula tabung yang sudah dilapisi heparin, tabung tersebut dapat dipakai untuk
darah kapiler dan terdapat juga tabung kapiler tanpa heparin yang dipergunakan
untuk darah oxalat atau darah EDTA dari vena (Gandasoebrata, 2007).
Cara mikro ini cepat dan mudah tetapi daya
sentrifugal harus dikontrol dan posisi tabung saat membaca dengan skala harus
tepat. Metode tersebut memungkinkan untuk memperkirakan volume lekosit dan
trombosit yang menyusun buffy coat diantara eritrosit dan plasma, plasma harus
pula diamati terhadap adannya ikterus atau hemolisis. (Frances K. Widmann,
1989).
Keuntungan pengukuran hematokrit dengan metoda mikro
antara lain volume sampel darah yang digunakan sedikit, waktu pemusingan untuk
mendapatkan endapan sel darah merah singkat sehingga sesuai untuk kepentingan
rutin, serta dapat digunakan sampel darah kapiler yang lebih mudah.
Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat
lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat
disebabkan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik,
saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek
lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili
Elapidae (Portal Pendidikan Biologi 2002).
Enzim penyebab hemolisis umumnya termasuk ke dalam
golongan enzim lipase seperti fosfolipase. Enzim fosfolipase ditemukan pada
semua bisa ular dalam beberapa bentuk dan variasi. Bisa ular family elapidae
ditemukan 4 jenis fosfolipase, yaitu A1, A2, C, dan D yang diklasifikasikan
berdasarkan bagian mana dari ikatan ester 3- sn fosfogliserida yang
dihidrolisis (Fry 2009).
Haemoglobin adalah suatu protein yang membawa oksigen
dan yang memberi warna merah pada sel darah merah (Barger, 2002:171). Dengan
kata lain haemoglobin merupakan komponen yang terpenting dalam eritrosit.
Haemoglobin juga merupakan protein yang kaya zat
besi yang memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen
itu membentuk oxsihaemoglobin di dalam sel darah merah. Jumlah haemoglobin
dalam darah normal ialah 15 gram setiap 100 ml darah, dan jamlah itu biasanya
disebut “100persen”. Menurut Costill (2008:48), haemoglobin adalah zat yang terdapat
dalam butir darah merah. Haemoglobin sebenarnya adalah merupakan protein
globuler yang di bentuk dari 4 sub unit, dan setiap sub unit mengandung hame.
Hematokrit berasal dari kata haimat yang berarti
darah, dan krinein yang berarti memisahkan. (Dep Kes RI, 2009). Hematokrit
(mikro) adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan memutarnya
di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen.
Nilai hematokrit digunakan untuk mengetahui nilai
eritrosit rata-rata dan untuk mengetahui ada tidaknya anemi. Penetapan nilai
hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Nilai normal hematokrit
disebut dengan %, nilai untuk pria 40-48 vol % dan untuk wanita 37-43 vol %.
Penetapan hematokrit cara manual (metode mikro) dapat dilakukan sangat teliti,
kesalahan metodik rata-rata ± 2 % (Gandasoebrata, 2007).
Prinsip pengukuran hematokrit cara manual (metode
mikro) adalah darah vena dengan menggunakan antikoagulan, kemudian dimasukkan
ke dalam tabung kapiler yang salah satu ujungnya ditutup dengan bahan khusus
(malam) dan dipusingkan dengan kecepatan tertentu sehingga terjadi pemadatan
sel-sel darah merah. Tingginya sel darah merah diukur dengan menggunakan skala
hematokrit yang dinyatakan dalam persen terhadap seluruh darah. (wirawan, 2006).
Alat yang dipakai untuk pemeriksaan hematokrit
sendiri adalah tabung mikrokapiler, tabung tersebut dibuat khusus untuk mikro
hematokrit dengan panjangnya 75 mm dan diameter dalamnya 1,2 sampai 1,5 mm. Ada
pula tabung yang sudah dilapisi heparin, tabung tersebut dapat dipakai untuk
darah kapiler dan terdapat juga tabung kapiler tanpa heparin yang dipergunakan
untuk darah oxalat atau darah EDTA dari vena (Gandasoebrata, 2007).
Cara mikro ini cepat dan mudah tetapi daya
sentrifugal harus dikontrol dan posisi tabung saat membaca dengan skala harus
tepat. Metode tersebut memungkinkan untuk memperkirakan volume lekosit dan
trombosit yang menyusun buffy coat diantara eritrosit dan plasma, plasma harus
pula diamati terhadap adannya ikterus atau hemolisis. (Frances K. Widmann,
1989).
Keuntungan pengukuran hematokrit dengan metoda mikro
antara lain volume sampel darah yang digunakan sedikit, waktu pemusingan untuk
mendapatkan endapan sel darah merah singkat sehingga sesuai untuk kepentingan
rutin, serta dapat digunakan sampel darah kapiler yang lebih mudah.
Erytrosit
atau sel darah merah membawa haemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah
berbentuk piring yang biconcave.
Mamalia sel darah merah tidak memiliki nucleus kecuali pada awal dan pada hewan
tertentu. Sel darah merah pada unggas mempunyai nucleus dan berbentuk ellips.
Sel darah merah terdiri dari air 65%, Hb 33%, dan sisanya terdiri dari sel
stoma lemak, mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya serta ion K
(Kusumawati, 2004). Sel darah
merah berwarna merah kekuningan. Warna
merah berasal dari hemoglobin
SDM dapat mengikat oksigen karena adanya hemoglobin.
SDM mengkatalis reaksi antara CO2 dan air karena SDM mengandung anhidrase karbonat dalam jumlah
besar. Reaksi memungkinkan darah bereaksi dengan sejumlah besar CO2
dan mengangkutnya dari jaringan ke paru-paru (Pratiwi, 2000).
Haemoglobin merupakan zat padat dalam eritrosit yang
menyebabkan warna merah. Dibanding sel-sel lain, dalam jaringan
eritrosit kurang mengandung air. Lipid yang terdapat pada sel darah merah ialah
stromatin, limpopoterin, dan elimin. Enzim yang terdapat dalam eritrosit
antara lain anhidrase karbonat, peptidase, kolinesterase, dan enzim pada system
glikolisis (Poedjiadi, 2004).
Volume total darah mamalia umumnya
berkisar antara 7 sampai 8% dari berat badan. Bahan antar sel atau plasma
darah, berkisara antara 45 sampai 65% dari seluruh isi darah, sedangkan sisanya
35 sampai 55% diisi sel darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (leukosit), dan kepingan darah (trombosit).
Warna merah dari darah segar disebabkan adanya hemoglobin dalam darah merah. Eritrosit
mamalia dewasa tidak berinti, berbentuk cawan bikonkaf. Ukuran serta kedalaman
konkafnya berbeda untuk setiap jenis. Anjing, sapi,
domba berbentuk konkaf sedang, tetapi pada kuda dan kucing bentuknya konkaf
datar. Hewan peliharaan, ukuran eritrosit terbesar pada anjing 7,0
mikrometer dan terkecil pada kambing 4,1 mikrometer. Jumlah total sel darah
merah yang dinyatakan dalam 1mm3 darah merefleksikan perbedaan
ukurannya. Perbedaan trah (breed), kondisi, aktivitas fisik, dan umur
dapat memberikan perbedaaan dalam jumlah eritrosit (Hartono, 2000).
Menurut
Schmidt dan Nelson (2000), jumlah eritrosit tiap individu berbeda disebabkan
oleh ukuran sel darah merah itu sendiri.
Menurut
Dallman dan Brown (2001), hewan yang memiliki ukuran sel darah merah yang kecil,
jumlahnya banyak. Sebaliknya hewan yang memiliki ukuran sel darah merah yang
besar, jumlahnya lebih sedikit. Jumlah sel darah merah yang banyak menunjukan
aktivitas pada hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak akan memiliki
eritrosit dalam jumlah banyak, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi
oksigen lebih banyak dimana eritrosit memiliki fungsi sebagai transpor oksigen
dalam darah.
Menurut
Poedjiadi (2004), kelebihan haemoglobin dari keadaan normal disebut policitaemia.
Penyebabnya karena kelebihan olahraga, orang yang tinggal di daerah tinggi. Policitaemia
mengakibatkan naiknya viscositas darah, kadang sampai 5 kali lipat kadang
sampai memberatkan kerja jantung.
Menurut Evelyn (2005), jika jumlah haemoglobin
dalam darah berkurang disebut anemia. Penyebab anemia adalah karena kekurangan
zat besi, pendarahan, kegagalan penyerapan vitamin B12, dan
kekurangan oksigen dalam darah.
Delmann & Brown, 2000 Bentuk eritrosit mamalia dewasa tidak
berinti, berbentuk cawan bikonkaf. Ukuran serta kedalaman bentuk konkaf berbeda
untuk semua jenis. Pada anjing, sapi dan domba, bentuk konkaf sedang, tetapi
pada kuda dan kucing konkafnya agak datar. Pada babi dan kambing, eritrosit
berbentuk cawan datar. Bentuk eritrosit di pertahankan oleh sejenis protein
kontraktil, dekat plasmalema dan terkait membentuk selaput inti utuh yang di
sebut spektrin. Kelembutan serta plastisitas di sebabkan oleh matriks koloid
yang memungkinkan perubahan bentuk selama ada dalam pembuluh darah sampai yang
paling kecil (kapiler) tanpa menyebabkan robek atau pecahnya membran plasma.
Bila setetes darah segar di taruh pada kaca sediaan, permukaan sel akan saling
melekat sehingga merupakan tumpukan uang logam. Struktur yang kompleks tidak
hanya menentukan bentuk eritrosit, tetapi juga sifat fisiologis dasar yang
dimilikinya. Membran plasma bersifat permeabel terhadap air, elektrolit dan
beberapa polisakarida, tetapi tidak untuk hemoglobin. Karenanya osmolaritas
eritrosit ditentukan oleh hemoglobin. Osmolaritas plasma darah sama dengan
eritrosit, maka eritrosit dan plasma darah bersifat isotonik satu sama lain .
Widodo, 2004 Laju endap darah yang
ditemukan pertama kali oleh Westergren pada tahun 1921. LED merupakan
pemerikksaan yang menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara
eritrosit dengan plasma.
Barbara, 2006 Darah normal mempunyai
LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di
imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi
atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi
tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan
yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan
meningkatkan LED .
F. D. Frandson.2000 Hal ini menyebabkan net aliran
pelarut air dari cairan ke plasma darah. Akibatnya sel darah merah akan
mengembang dan dapat pecah. Adanya
hemoglobin dalam darah menimbulkan timbulnya warna merah dalam darah dan
hemoglobin tersebut merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri
dari empat pigmen porfirin merah
Gandasoebrata, 2008.Metode
pemeriksaan secara mikro berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan dicentrifuge
dalam jangka waktu dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah dan plasmanya
terpisah dalam keadaan mapat. Prosentase volum kepadatan sel darah merah
terhadap volume darah semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan hematokrit.
Prodial
(2001) profil darah sapi bali menciri anemia, pada sapi-sapi yang kondisinya
tidak baik yaitu leleran eksudat di vulva, demodekosis, distokia, kurus,
hematuria dan diare.
Darah memiliki
dua komponen penyusun yaitu plasma dan sel darah. Plasma darah merupakan bagian
dari komponen darah yang berwarna kekuning-kuningan yang jumlahnya sekitar 60%
dari volume darah, sedangkan sel darah adalah komponen selluler dari darah
termasuk sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (Leukosit) dan
keping-keping darah (trombosit). Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang
mengalir ke seluruh tubuh melalui vena dan arteri yang memasok oksigen, dan
bahan makanan ke seluruh jaringan tubuh serta mengambil karbondioksida dan sisa
metabolisme dari jaringan (Anonim, 2009).
Darah merupakan jaringan tubuh yang terdiri dari bagian cair
(plasma) dan bahan-bahan interseluler. Plasma darah dan sel-sel darah dapat
terpisah dan bebas bergerak dalam cairan interseluler. Cairan ekstrasel dalam
darah mensuplay sel-sel dengan nutrisi dan zat-zat lain yang diperlukan untuk
fungsi selular, tetapi sebelum digunakan zat ini harus ditransfort melalui
membrane sel dengan dua proses utama yaitu difusi dan osmosis serta transfor
aktif. Dinding sel eritrosit sangat permeable terhadap sifat apapun. Darah
mempunyai beberapa fungsi yang penting untuk tubuh. Darah mengangkut zat-zat
makanan dari alat pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari
jaringan tubuh ke ginjal, dan hormon dari kelenjar endokrin ke target organ
tubuh (Sonjaya, 2005).
Darah merupakan cairan dengan volume yang berbeda-beda
tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, dan umur setiap orang atau
individu. Jumlah darah dalam tubuh bervariasi tergantung pada berat tubuh
seseorang. Pada orang dewasa 1/13 berat badan kira-kira 4-5 liternya adalah darah.
Faktor lain yang juga menentukan banyaknya darah adalah umur, pekerjaan,
keadaan jantung dan pembuluh darah. Total sirkulasi dari volume darah
diperkirakan sekitar 5 s/d 8% dari total bobot badan dan angka ini bervariasi
menurut umur, spesies, besar tubuh, aktivitas, status kesehatan, status gizi
dankondisi fisiologi (bunting dan laktasi) (Syaifuddin, 2002).
Darah merupakan jaringan tubuh yang terdiri dari bagian cair
(plasma) dan bahan-bahan interseluler. Oleh karena sel mempunyai fungsi yang
sangat spesifik, sehingga sulit untuk melakukan adaptasi yang diperlukan
terhadap adanya perubahan pada lingkungannya, maka internal environment harus
dipertahankan dalam batas-batas fisiologis tertentu. Usaha untuk mempertahankan
lingkungan disekitar sel dalam batas-batas fisiologis disebut homeostasis
(Anonim, 2009).
Darah mengangkut oksigen zat-zat makanan dari alat
pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari jaringan tubuh ke
ginjal dan hormone dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh. Darah juga
berpartisipasi dalam pengaturan kondisi asam-basa, keseimbangan elektrolit dan
temperature tubuh, dan sebagai pertahanan suatu organisme terhadap penyakit.
Semuanya adalah fungsi yang berhubungan dengan pemeliharaan lingkngan interna
yang konstan (Sonjaya, 2005).
Darah
mengalir lebih lambat dari air, ini kemungkinan disebabkan oleh visikositasnya
dan sifat adhensif dari darah. Darah adalah cairan yang terdapat pada hewan
tingkat tinggi yang berfungsi sebagai alat transfortasi zat seperti oksigen,
bahan hasil metabolisme tbuh, pertahanan tubuh dari serangan kuman, dan lain
sebagainya. Beda halnya dengan tumbuhan, manusia dan hewan level tinggi punya
sistem transfortasi dengan darah. Darah membantu mengangkut zat-zat makanan
yang diperlukan oleh jaringan tubuh. Darah adalah cairan berwarna merah pekat.
Warnanya merah cerah di dalam arteri dan berwarna merah unggu gelap di dalam
vena, setelah melapas sebagian oksigen ke jaringan dan menerima produk sisa
dari jaringan (Anonim, 2009).
Pembentkan sel darah mulai terjadi pada sm-sum tulang
setelah minggu ke 20 masa kehidupan embrionik. Dengan semakin bertambahnya usia
janin, produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan
hati dan limpa semakin berkurang. Pada orang dewasa pembentukan sel darah
diluar sum-sum tulang masih dapat terjadi. bila sum-sum tulang mengalami
kerusakan atau mengalami fibrosis. Sampai dengan usia 5 tahun. Pada dasarnya
semua tulang dapat menjadi tempat pembentukan sel darah. Dengan semakin
bertambahnya usia janin, produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum
tulang dan peranan hati dan limpa semakin berkurang (Anonim, 2008).
Darah berbentuk cairan yang berwarna merah, agak kental dan
lengket. Darah mengalir di seluruh tubuh kita, dan berhubungan langsng dengan
sel-sel dalam tubuh kita. Darah manusia tersusun atas da komponen, yaitu
sel-sel darah dan plasma darah (cairan darah). Sel-sel darah terdiri atas dua
yaitu sel darah merah dan sel darah putih (Sonjaya, 2005).
Sel darah merah mengalami sejumlah stadium dalam
perkembangannya di dalam um-sum tulang. Eritroblas adalah sel besar yang
mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang
menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami
disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus. Jumlah
sel darah merah bervariasi tergantung jenis kelamin, usia, dan juga ketinggian
tempat orang tersebut hidup. Jumlah sel darah merah bisa berkurang misalnya
karena luka yang mengeluarkan banyak darah atau karena anemia (Srikini, 2000).
Trombosit mempunyai karakteristik seperti sel pada umumnya
walaupun tidak mempunyai inti dan tidak dapat melakukan reproduksi. Dalam
sitoplasma trombosit berperan aktif. Membran sel trambosit diliputi oleh
glikoprotein yang mencegah perlekatan dengan endothel normal, tetapi mrmudahkan
perlekatan dengan endothel yang rusak. Bentuk keeping darah tidak teratur dan
tidak mempunyai inti. Diproduksi pada sumsum merah, serta berperan penting pada
proses pembekuan darah Membran sel juga mengandung platelet factor 3 untuk
proses pembekuan darah (Anonim, 2009).
Plasma darah berguna dalam pengaturan tekanan osmosis darah
sehingga dengan sendirinya jumlahnya dalam tubuh akan diatur, misalnya dengan
proses ekrenasi. Plasma darah juga bertugas membawa sari-sari makanan, sisa
sisa metabolisme, hasil sekresi dan beberapa gas. Serum yang bersal dari hewan
tersebut , dapat disuntikkan kepada hewan yang peka terhadap penyakit yang sama
untuk memberikan perlindungan paif, selama antibody itu masih berada di tubuh
hewan yang peka itu (Sarkini, 2000).
Pembentukan sel
darah mulai terjadi pada sm-sum tulang setelah minggu ke 20 masa kehidupan
embrionik. Dengan semakin bertambahnya usia janin, produksi sel darah semakin
banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limpa semakin berkurang.
Pada orang dewasa pembentukan sel darah diluar sum-sum tulang masih dapat
terjadi. bila sum-sum tulang mengalami kerusakan atau mengalami fibrosis.
Sampai dengan usia 5 tahun. Pada dasarnya semua tulang dapat menjadi tempat
pembentukan sel darah. Dengan semakin bertambahnya usia janin, produksi sel
darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limpa
semakin berkurang (Anonim, 2008).
Pada sum-sum tulang terdapat sel
progenitor yang merupakan penghasil semua sel darah. Nampaknya sum-sum tulang
mempunyai kelompok sel yang menghasilkan sel darah tertentu, kecuali netrofil
dan monosit yang nampaknya berasal dari kelompok sel yang sama. . Terbentuk 8
macam sel yang berbeda dan semua dihasilkan dari satu jenis sel batang
pluripoten yang akan menurunkan 5 garis keturunan sel yang berbeda. Garis
mieloblas menghasilkan tiga jenis sel granulosit sedangkan garis monoblas dan
limfoblas menghasilkan sel agranulosit. Eritrosit atau sel darah merah dan trombosit
dibentuk dari garis keturunannya masing-masing (Watson, R 2007).
Molekul hemoglobin terdiri dari
globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organic dengan satu
atom besi. Selain itu juga dapat dikatakan bahwa hemoglobin dalah molekul protein
pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transfor oksigen dari
paru-paru ke seluruh tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke
paru-paru. Hemglobin diukur dalam satan gram per 100 ml. Nilai normal adalah
14-16 g per 100 ml. Hemoglobin mempunyai daya tarik yang kuat terhadap oksigen.
Ketika sel darah melewati paru-paru, hemoglobin akan bergabng dengan oksigen
dari udara dan warnanya menjadi cerah (Watson, 2007).
Sel darah merah mengalami sejumlah
stadium dalam perkembangannya di dalam um-sum tulang. Eritroblas adalah sel
besar yang mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian
berkembang menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian
mengalami disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang
halus. Jumlah sel darah merah bervariasi tergantung jenis kelamin, usia, dan
juga ketinggian tempat orang tersebut hidup. Jumlah sel darah merah bisa
berkurang misalnya karena luka yang mengeluarkan banyak darah atau karena
anemia (Srikini, 2000).
Sel darah putih berbentuk tidak
tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa.
Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih atau leukosit
berukuran lebih besar daripada sel darah merah, diameternya sekitar 10µm, dan
jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit per liter darah dan jumlah
in bias meningkat sampai 30 X 109 per liter darah bila ada infeksi di dalam
badan. Penngkatan ini dikenal sebagai leukositosis (Watson, R 2007).
Nelson (2000) yang menyatakan
bahwa jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh,
variasi harian, dan keadaan stress. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila
terjadi perubahan dan atau pada waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan
menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan.Banyaknya jumlah eritrosit
juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri.
Sel
darah merah tidak memiliki nucleus, tetapi berisi suatu protein khusus yang
disebt hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu pigmen berwarna kuning, tetapi efek
keseluruhan hemoglobin adalah membuat darah berwarna merah. Hemoglobin
mengandung sejumlah kecil besi dan besi ini esensial bagi kesehatan, meskipun
jumlah totalnya di dalam darah dikatakan hanya cukup untuk membat paku
sepanjang 2 inci. Dalam kondisi sehat, hamper semua sel darahmerah di dalam
darah seharusnya berbentuk eritrosit, dengan hanya sedikit retikulosit. Banyak
factor yang menentukan pembentukan normal sel darah merah (Watson, R 2007).
Eritroblas adalah sel besar yang
mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang
menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami
disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus. Pada
stadium ini sel tersebut disebut retikulosit, akhirnya, benag-benang menghilang
dan menjadi eritrosit matang yang segera dilepas ke aliran darah (Anonim,
2009).
Sel
darah merah diproduksi di dalam sum- sum merah pada tulang spongiosa, yang
terdapat pada ujung tulang panjang dan didalam tulang pipih dan tidak regular
(Anonim, 2009)
Keping-keping darah berkerut pada
pembuluh darah luka dimana trombosit melepaskan satu bahan yang membatasi
kehilangan darah sebelum koagulasi (pembekuan darah) terjadi. Pada kuda
jumlahnya berkisar antara 110.000 – 300.000 per mm3 dengan rataan 170.000 (Sonjaya,
2005).
Trombosit atau keeping darah
merupakan sel yang berbentuk oval dengan diameter 2µm.Dibentuk di sum-sum
tulang dari megakariosit, dan dalam sirkulasi jumlahnya
mencapai300.000/micron-L. (Anonim, 2009).
Pada anemia sel sabit,
akantositosis, sferositosis serta poikilositosis berat, laju endap darah tidak
cepat, karena pada keadaan-keadaan ini pembentukan rouleaux sukar terjadi. Pada
polisitemia dimana jumlah eritrosit/µl darah meningkat, Laju Endap Darah (LED)
normal (Anonim, 2009)
Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Larutan yang
mempunyai tekanan osmotik yang sama yaitu larutan isotonik. Larutan yang
mempunyai tekanan osmotik lebih besar dari pada larutan lain disebut larutan
hipertonik, sedangkan larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih rendah dari
pada larutan lain disebut larutan hipotonik. Membran sel hidup merupakan
selaput semipermiabel. Bila sel ditempatkan dalam larutan yang tekanan
osmotiknya lebih tinggi (hipertonik), air dalam sel akan keluar sehingga sel
berkeriput dan proses ini disebut plasmolisis. Sebaliknya apabila sel
ditempatkan dalam larutan yang tekanan osmotiknya lebih rendah (hipotonik), air
dari luar akan masuk ke dalam sel dan menyebabkan sel membengkan dan proses ini
disebut plasmotipse (Sumardjo, 2009).
Tonisitas merupakan suatu istilah yang digunakan untuk
menjelaskan pengaruh larutan terhadap bentuk sel menurut hukum osmosis. Larutan
disebut isotonik terhadap cairan sitoplasma sel jika memiliki konsentrasi yang
sama dengan konsentrasi partikel yang tidak dapat berdifusi. Air tidak akan
berosmosis ke dalam atau ke luar sel. Larutan disebut hipotonik terhadap sel
jika larutan lebih encer dibandingkan isi sel. Gerakan air ke dalam sel dapat
menyebabkan sel membengkak hingga akhirnya pecah. Larutan disebut hipertonik
terhadap sel jika larutan tersebut lebih kental dibandingkan dengan isi sel.
Pergerakan air keluar sel menyebabkan sel berkerut atau biasa disebut dengan
krenasi (Sloane, 2004).
Darah adalah
suatu jaringan yang terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel
darah putih) dan trombosit yang terendam dalam plasma darah cair. Darah beredar
dalam sistem vaskular, mengangkut oksigen dari paru-paru dan nutrien dari
saluran cerna ke jaringan lain di seluruh tubuh. Darah juga membawa karbon
dioksida dari dari jaringan ke paru-paru dan limbah bernitrogen ke ginjal untuk
dikeluarkan dari tubuh. Salah satu bagain atau komponen darah adalah sel darah
merah (eritrosit). Eritrosit adalah korpuskula darah yang memberi warna merah
pada darah. Eritrosit sangat lentur. Bentuk erotrosit dipengaruhi oleh
osmolaritas media sekitarnya. Pada larutan hipotonik sedang, eritrosit
membengkak. Dalam larutan yang lebih hipotonik eritrosit membengkak dan membran
selnya pecah sehingga hemoglobin keluar sel. Pecahnya eritrosit hipotonik
disebut hemolisis (Fawcet dan Bloom, 2002).
Darah
dapat dibuat preparat apus dengan metode supra vital yaitu suatu metode untuk
mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang hidup. Sel-sel darah yang hidup
dapat mengisap zat-zat warna yang konsentrasinya sesuai dan akan berdifusi ke
dalam sel darah tersebut, selanjutnya zat warna akan mewarnai granula pada sel
bernukleus polimorf (Anonim, 2012).
Tujuan
pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai berbagai unsur sel
darah tepi seperti eritosit, leukosit, dan trombosit dan mencari adanya parasit
seperti malaria, tripanasoma, microfilaria dan lain sebagainya. Sediaan apus
yang dibuat dan dipulas dengan baik merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan
hasil yang baik (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Dasar dari
pewarnaan Romanowsky adalah penggunaan dua zat warna yang berbeda yaitu Azur B
(Trimetiltionion) yang bersifat basa dan eosin y (tetrabromoflurescein) yang
bersifat asam. Azur B akan mewarnai komponen sel yang bersifat asam seperti
kromatin. DNA dan RNA. Sedangkan eosin y akan mewarnai komponen sel yang
bersifat basa seperti granula eosinofil dan hemoglobin. Ikatan eosin y pada
Azur B yang bergenerasi dapat menimbulkan warna ungu, dan keadaan ini dikenal
sebagai efek Romanowsky giemsa efek ini sangat nyata pada DNA tetapi tidak pada
RNA sehingga menimbulkan kontras antara inti yang berwarna untuk sitoplasma
yang berwarna biru (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Bahan
pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler
atau vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada keadaan tertentu dapat pula
digunakan darah EDTA. (Arjatmo Tjokronegoro, 1996)
Darah merupakan medium transport dalam tubuh. Darah
tersusun atas dua komponen, yaitu plasma darah dan sel darah. Plasma darah
merupakan bagian yang cair dan terdiri atas air, elektrolit dan protein darah.
Sel darah terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit. Sel darah merah
(erotrosit) merupakan cairan bikonkaf dengan diameter sekitar 7 mikron.
Eritrosit dapat mengalami lisis. Proeses penghancuran eritrosit terjadi karena proeses patologis
atau penambahan larutan yang tidak sesuai dengan konsentrasi dan tekanan
osmotik darah (hemolisis). Hemolisis yang terjadi pada eritrosit akan
mengakibatkan terurainya komponen hemoglobin menjadi dua, yaitu komponen
protein dan heme. Komponen protein yaitu globin yang akan dikembalikan ke pool protein dan dapat digunakan
kembali. Komponen heme akan dipecah menjadi dua, yaitu besi yang masih bisa
digunakan dan bilirubin yang kan diekskresikan (Handayani dan Haribowo, 2008).
Hemolisis merupakan suatu keadaan yang menunjukkan
pecahnya membran sel darah merah (eritrosit) yang menyebabkan hemoglobinkeluar,
karena sel darah merah didedahkan dalam medium atau larutan yang bersifat
hipotonis. Hemolisis dapat pula diartikan peningkatan destruksi eritrosit yang
disertai peningkatan produksi eritrosit. Diagnosis banding hemolisis dapat
dikelompokkan berdasarkan penyebab intrinsik dan ekstrinsik hemolisis. Penyebab
intrinsik ditandai dengan adanya kelainan pada eritrosit, termasuk kelainan
membran, hemoglobin dan enzim. Penyebab hemolisis ekstrinsik ditandai dengan
sel eritrosit abnormal, disertai proses ekternal yang menyebabkan hemolisis
(Schwartz, 2005).
Hemoglobin
merupakan protein yang mengandung zat besi dan memiliki afinitas terhadap
oksigen untuk mmebentuk oksihemaglobin didalam eritrosit. Dari mekanisme
tersebut dapat berlangsung proses distribusi oksigen dari pulma menuju jaringan
(Pearce, 1991).
Hemoglobin adalah metalprotein pengangkut oksigen yang
mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul
hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul
organik dengan satu atom besi. Hemoglobin adalah protein yang kaya akan
zat besi. Memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen
itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini
maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan (Evelyn, 2009).
Hitung jenis leukosit dilakukan pada
counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran
1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang
akan digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga
eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak
boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada
sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml
darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada
darah. Hemoglobin adalah kompleks protein-pigmen yang mengandung zat
besi. Kompleks tersebut berwarna merah dan terdapat didalam eritrosit. Sebuah
molekul hemoglobin memiliki empat gugus haeme yang mengandung besi fero dan
empat rantai globin (Brooker, 2001).
Dalam
system sirkulasi darah merupakan bagian penting yaitu dalam transport oksigen.
Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagiancair yaitu berupa plasma darah
dan serum. Bagian padatnya yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit), dan keping darah (trombosit).(Dep Kes, 1989).
Hematokrit
berasal dari kata haimat yang berarti darah, dan krinein yang berarti memisahkan
(Dep Kes RI, 1989)
Darah
adalah cairan yang berwarna merah yang terdapat dalam pembuluh darah. Volume
darah manusia ± 7 % dari berat badan atau ± 5 liter untuk laki–laki dan 4,5
liter untuk perempuan. Penyimpanan darah dapat dilakukan dengan memberikan
natrium sitrat atau natrium oksalat, karena garam–garam ini menyingkirkan
ion–ion kalsium dari darah yang berperan penting dalam proses pembekuan darah
(Abbas, 1997).
Darah
merupakan suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut
dengan plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan
pengikat dalam arti luas karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan
substansi interselular yang berbentuk plasma. Secara fungsional darah merupakan
jaringan pengikat yang dalam artiannya menghubungkan seluruh bagian-bagian
dalam tubuh sehingga merupakan integritas. Darah yang merupakan suspensi
tersebut terdapat gen, dimana gen merupakan ciri-ciri yang dapat diamati secara
kolektif atau fenotifnya dari suatu organisme. Pada organisme diploid, setiap
sifat fenotif dikendalikan oleh setidak-tidaknya satu pasang gen dimana satu
pasang anggota tersebut diwariskan dari setiap tertua. Jika anggota pasangan
tadi berlainan dalam efeknya yang tepat terhadap fenotifnya, maka disebut
alelik. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen tunggal, misalnya gen yang
mengendalikan sifat keturunannya (Subowo. 1992).
Darah
mempunyai fungsi antara lain: mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh
tubuh, mengangkut karbondioksioda dari jaringan tubuh ke paru-paru, mengangkut
sari-sari makanan ke seluruh tubuh, mengangkut sisa-sisa makanan dari seluruh
jaringan tubuh ke alat-alat ekskresi, mengangkut hormon dari kelenjar endokrin
ke bagian tubuh tertentu, mengangkut air untuk diedarkan ke seluruh tubuh,
menjaga stabilitas suhu tubuh dengan memindahkan panas yang dihasilkan oleh
alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang tidak aktif, menjaga tubuh
dari infeksi kuman dengan membentuk antibodi (Abbas, 1997).
Penggumpalan
darah terjadi karena fibrinogen (protein yang larut dalam plasma) diubah
menjadi fibrin yang berupa jaring-jaring. Perubahan
tersebut disebabkan oleh trombin yang terdapat dalam darah sebagai pritrombin.
Pembentukan trombin dari protrombin tergantung pada adanya tromboplastin dan
ion Ca2+ (Poejadi, 1994). Darah mempunyai fungsi antara lain:
mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, mengangkut karbondioksioda
dari jaringan tubuh ke paru-paru, mengangkut sari-sari makanan ke seluruh
tubuh, mengangkut sisa-sisa makanan dari seluruh jaringan tubuh ke alat-alat
ekskresi, mengangkut hormon dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu,
mengangkut air untuk diedarkan ke seluruh tubuh, menjaga stabilitas suhu tubuh
dengan memindahkan panas yang dihasilkan oleh alat-alat tubuh yang aktif ke
alat-alat tubuh yang tidak aktif, menjaga tubuh dari infeksi kuman dengan
membentuk antibodi (Abbas, 1997).
Golongan
darah pada manusia bersifat herediter yang ditentukan oleh alel ganda. Golongan
darah seseorang dapat mempunyai arti yang penting dalam kehidupan. Sistem
penggolongan yang umum dikenal dalam sistem ABO. Pada tahun 1900 dan
1901 Landstainer menemukan bahwa penggumpalan darah (Aglutinasi) kadang-kadang
terjadi apabila eritrosit seseorang dicampur dengan serum darah orang lain.
Pada orang lain lagi, campuran tersebut tidak mengakibatkan penggumpalan darah.
Darah
merupakan suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut
dengan plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan
pengikat dalam arti luas karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan
substansi interselular yang berbentuk plasma. Secara fungsional darah merupakan
jaringan pengikat yang dalam artiannya menghubungkan seluruh bagian-bagian
dalam tubuh sehingga merupakan integritas. Darah yang merupakan suspensi
tersebut terdapat gen, dimana gen merupakan ciri-ciri yang dapat diamati secara
kolektif atau fenotifnya dari suatu organisme. Pada organisme diploid, setiap
sifat fenotif dikendalikan oleh setidak-tidaknya satu pasang gen dimana satu
pasang anggota tersebut diwariskan dari setiap tertua. Jika anggota pasangan
tadi berlainan dalam efeknya yang tepat terhadap fenotifnya, maka disebut
alelik. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen tunggal, misalnya gen yang
mengendalikan sifat keturunannya (Subowo. 1992).
Bila sel darah merah dimasukkan
kedalam laritan NaCl 0, 3 %, semua sel darh merah akan mengalami hemolisa
sempurna. (Wulangi, 1993: 43)
Yang kedua, hemolisis kimiawi
membran sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti,
kloroform, aseton, alkohol, benzena dan eter, substansi lain adalah bisa ular,
kalajengking, dan garam empedu,. (wulangi, 1993: 43).
Portal Pendidikan Biologi
(2002).Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari
stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan dan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam
empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari
stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili Elapidae.
Sarkar & Devi (1968)Hemolisis
secara langsung tidak dibutuhkan penambahan lesitin sedangkan hemolisis tidak
langsung kehadiran lesitin pada sel darah merah atau penambahan dari luar
sangat diperlukan.Secara umum, mekanisme hemolisis berlangsung dua tahap.Tahap
pertama lesitin dalam sel darah atau yang ditambahkan dari luar akan diubah
menjadi lisolesitin oleh lesithinase A.
Lisolesitin merupakan bentuk lesitin yang memiliki aktivitas hemolitik. Selanjutnya,
lisolesitin menyebabkan sel darah merah lisis dengan menyerap material lemak
dinding sel sehingga merusak keutuhan
struktur sel darah.
BAB
III
MATERI
DAN METODA
3.1
Waktu dan Tempat
Praktikum
anatomi dan fisiologi ternak di laksanakan pada hari Sabtu,28 Maret sampai
dengan 25 April 2015 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai bertempat di
Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
3.2
Materi
Adapun alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum anatomi dan fisiologi ternak adalah Pada
praktikum fisiologi kardiovaskuler alat dan bahan digunakan dalam praktikum ini
adalah praktikan, sphygmomanometer, stetoskop, cuff, manometer merkuri, arloji
tangan, bangku setinggi 50 cm, treadmill dan stopwatch.
Pada
praktikum mengenai preparat natif darah alat dan bahan yang digunakan ayaitu:
jarum penusuk pembuluh darah, kapas, tissue,kaca benda (object glass),cover
glass(kaca penutup),mikroskop, alkohol 70%, larutan garam faali (NaCl
fisiologis/NaCl 0.9%), darah sapi,kambing dan ayam yang sudah diberi
antikoagulan.
Pada praktikum mengenai waktu perdarahan alat dan bahan
yang digunakan adalah kapas atau tissue, lanset steril, alkohol 70%, ujung jari
praktikan.
Pada praktikum mengenai waktu beku darah alat dan bahan
yang digunakan adalah lanset steril, jarum pentul, gelas arloji berlapis
paraafin, pipa kapiler tanpa heparin,kapas alat pencatat waktu (stopwatch atau
arloji tangan), alkohol 70%.
Pada praktikum mengenai Laju Endap Darah (LED) alat dan
bahan yang digunakan adalah tabung westergreen dengan raknya, darah
sapi,kambing, dan ayam yang sudah diberi antikoagulan.
Pada praktikum mengenai hemolisis dan ketahanan osmotik
eritrosit alat dan bahan yang digunakan adalah tabung reaksi (10 buah), object
glass, cover glass, pipet Pasteur , mikroskop, larutan NaCl dengan konsentraasi
0.9%, 0.65%, 0.45%, 0.25%, dan 3.0%, larutan 1% urea dalam aquades, larutan, 1%
urea dalam NaCl 0.9%, larutan 1% saponin dalam aquades, larutan 1% saponin
dalam NaCl 0.9%, darah sapi,kambing, dan ayam yang sudah diberi antikoagulan.
Pada praktikum mengenai Hematokrit alat dan bahan yang
digunakan adalah pipa kapiler, sntrifus, chrysta seal, lilin atau sabun, reader
hematokrit, darah sapi, kambing, dan ayam yang sudah diberi antikoagulan.
Pada praktikum mengenai hemoglobin alat dan bahan yang
digunakan adalah hemometer sahli terdiri dari tabung sahli, pipet sahli,
standar warna pengaduk, darah sapid an ayam yang telah diberi antigoagulan
EDTA, HCl 0.1 N dan aquades, kertas saring/tissue, pipetpasteur, pengukur
waktu.
Pada praktikum mengenai menghitung jumlah sel darah alat
dan bahan yang digunakan adalah Hemocytometer Naubauer Improved, pipet
pengencer untuk eritrosit berskala 0-0.5-1 -101, pipet pengencer untuk leukosit
berskala 0 -0.5 -1 -11, darah sapi, ayam, kambing yang sudah diberi
antikoagulan, larutan pengencer:larutan hayem untuk eritrosit, larutan turk
untuk leukosit mamalia, dan larutan BCB (Briliant Cresyl Blue) untuk unggas.
Pada praktikum mengenai Diferensial Leukosit (Leukogram)
alat dan bahan yang digunakan adalah object glass, bak celup untuk fiksasi dan
bak celup untuk pewarnaan, diferensial
counter, mikroskop, darah sapi, kambing, ayam yang sudah diberi antikoagulan, methanol
absolute, larutan giemsa, aquadest, minyak emersi.
3.3
Metoda
Adapun cara
atau metoda yang digunakan pada praktikum anatomi dan fisiologi ternak
mengenai pemeriksaan tekanan darah ini adalah Cuff dililitkan pada
lengan atas dan stetoskop ditempelkan dibagian cuff tepat pada pembuluh darah
lengan, cuff dipompa sampai kira-kira diatas tekanan sistolik. Tekanan pada
cuff yang tinggi ini akan menyebabkan aliran pada arteri terhenti,
kemudian secara perlahan tekanan pada
cuff dikurangi. Dengan demikian, pada saatnya akan membuka aliran arteri. Pada
saat ini aliran darah akan mengalir cepat dan tiba-tiba, sehingga akan
menghasilkan suatu getaran atau suara (disebut tekanan sistolik darah) yang
bisa didengarkan dengan stetoskop. Pada penurunan tekanan cuff selanjutnya
masih akan tetap terdengar getaran atau suara sampai pada suatu saat akan
berhenti sama sekali. Pada saat berhentinya suara tersebut disebut tekanan
diastolic darah.
Adapun cara kerja pada praktikum bunyi jantung adalah
letakan stetoskop di dada bagian kiri. Dengarkan menggunakan stetoskop
denganrkan suara jantung teman saudara.
Cara kerja pada test kemampuan fisik pengiraan kemampuan VO2
max (ml/kg/min) dengan cara praktikan berlari selama 12 menit untuk
menempuh jarak tertentu menurut kemampuannya.
Test Schneider dilakukan dengan cara pratikan berbaring/
bersandar selama 5 menit, kemudian ukur denyut nadi dan ulangi sampai 2 kali.
Berdiri santai selama 2 menit kemudian ukur denyut nadi sama seperti di atas.
Kemudian lakukan kegiatan sebagai berikut : berdiri diatas kursi yang tingginya
45 -50 cm. selama 2 menit, setelah itu berdiri dengan satu kaki yang dilakukan
secara berantian selama 3 menit, hitung denyut nadi selama 15 detik, untuk
mendapatkan denyut nadi permenit maka denyut nadi yang diukur selama 15 detik
harus di kali 4, hasil perhitungan denyut nadi cocokan dengan skor dalam tabel
skor Schneider, bagaimanakah status fisiologis pratikan berdasarkan hasil skor
Schneider.
Test Harvard Step dengan caara lambat dilakukian dengan cara
pratrikan melakukan kegiatan naik turu bangku dengan irama 30 kali dalam 1
menit (satu kali naik turun bangku 2 detik). Percobaan ini tidak boleh lebih
dari 5 menit (gunakan waktu maksimal 5 menit). Sesudah latihan ini, pratika
duduk dan denyut nadinya dihitung berturut-turut selama 30 detik, yaitu dari 1
menit sampai 1 menit lebih 30 detik dan 3 menit sampai 3 menit lebih 30 detik.
Selanjutnya kemampuan fisik pratikan dihitung.
Harvard
Step dengan cara cepat dilakukan dengn cara seperti padacara lamba, tetapi
disini hanya di tetapkan bilangan nadi berhitung satu kali saja, yaitu selama
30 detik setelah percobaan selesai dari 1 menit sampai 1 menit 30 detik.
Adapun
cara kerja yang digunakan dalam praktikum anatomi dan fisiologi ternak mengenai
fisiologi darah adalah pada praktikum mengenai prepatif natif darah yaitu: bersihkan alat-alat yang
akan digunakan, bersihkan ujung jari praktikan atau lokasi pengambilan darah
pada ternak dengan alkohol 70%. Bila perlu bulu yang terdapat di lokasi
pengambilan darah dibersihkan terlebih
dahulu, teteskan 1-2 tetes larutan fisiologis (NaCl 0.9%) pada object glass,
tusuk ujung jari praktikan atau pembuluh darah ternak dengan jarum penusuk,
ambil darah kemudian teteskan pada
object glass yang sudah diberi larutan fisiologis, campur dengan hati-hati dan
tutup dengan cover glass, amati dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran
10x dan 40x , lakukan hal yang sama dengan menggunakan darah sapi ayam dan
kambing yang sudah diberi antikoagulan,gambarkan hasil pengamatan saudara,
apabilaarah mulai keluar sudah selesai
alat harus dibersihkan kembali.
Pada praktikum mengenai waktu perdarahan cara kerjanya
yaitu bersihkan ujung jari dengan alkohol 70% kemudian bersihkan/lap dengan
kapas atau tissue bersih, tusuk jari dengan lanset steril hingga mengeluarkan
darah, catat waktu dari saat darah mulai keluar sampai pendarahan berhenti dan
usaplah darah tersebut dengan kapas/tissue, biarkan darah keluar lagi, lakukan
kegiatan tersebut setiap 30 detik sampai darah tidak keluar atau terhenti, dan
catat waktunya, catat waktu perdarahan (waktu ke satu) sampai perdarahan
berhenti (waktu kedua).
Adapun cara kerja pada praktikum
Hemolisis adalah beri kode pada setiap tabung, isi tabung tersebut
masing- masing 5 ml larutan tersebut, tambahkan 3 tetes darah kedalam setiap
tabung dan biarkan selama 30 menit. Periksa / amati warna dan kekeruhan larutan
di dalam tabung. Warna merah cerah menunjukan adanya hemolisis. Warna keruh
belum tentu tidak terjadi perubahan,kemungkinan sebagian sel mengalami
hemolisis atau perubahan lainnya. Untuk memastikan terjadinya hemolisis lakukan
secara mikroskopis, lalu catat hasil pengamatan tersebut.
Adapun cara kerja
pada praktikum Hematokrit adalah darah dihisap dengan
pipa kapiler jarak 1 cm, dari ujung bagian atas. Sumbat ujung pipa dengan
crystal seal. Tembatkan pipa kapiler dalam sentrifus dengan kecepatan 12.034
rpm selama 5 menit. Keluarkan pipa dari sentrifus dan baca nilai hematokritnya
dengan menggunakan reader hematokrit.
Adapun cara kerja
pada praktikum Menghitung Jumlah Sel Darah adalah pada
menghitung sel darah merah yaitu hisap darah dengan pipet untuk eritrosit
sampai angka 0,5.bersihkan ujungnya dengan kertas saring/tissue. Segera hisap
larutan hayem sampai angka 101 ,dengan demikian darah diencerkan 200 kali.
Pengenceran ujung-ujung pipet dengan ibu jari dan telunjuk atau jari tengah
kemudian kocoklah denganmemutar-mutar pergelangan tangan membentuk angka
8,supaya yang tercampur hanya cairan yang terdapat didalam pipet yang menggelembung.
Buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah merah (2-3 tetes), isikan
kedalam kamar hitung yang sudah ada kaca penutupnya dengan menempelkan ujung
pipet pada batas kamar hitung denagan penutup , hitung sel darah pada kamar
hitung (5 bujur sangkar kecil) dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran
10x atau 40x.Pengenceran didalam pipet erirosit adalah 200 kali. Kedalam kamar
hitung 0.1 mm, jadi harus dikali 10. Sel darah merah dihitung pada 5 bujur
sangkar yang masing-masing berukuran 1/25 mm², jadi untuk menghitung jumlah sel
darahdalam 1mm² maka harus dikali kan 5. Dengan demikian faktor pengaliannya
adalah : 200x10x5=10.000. Apabila jumlah sel darah merah yang terhitung E, maka
total sel darah merah per mm²= Ex10.000. Adapun cara atau metoda yang digunakan
pada menghitung sel darah putih yaitu hisap darah dengan pipet untuk leukosit
sampai angka 0,5.bersihkan ujungnya dengan kertas saring/tissue. Segera hisap
larutan turk untuk mamalia dan BCB untuk unggas sampai angka 11 ,dengan
demikian darah diencerkan 20 kali. Pengenceran ujung-ujung pipet dengan ibu
jari dan telunjuk atau jari tengah kemudian kocoklah denganmemutar-mutar
pergelangan tangan membentuk angka 8,supaya yang tercampur hanya cairan yang
terdapat didalam pipet yang menggelembung. Buanglah cairan yang tidak
mengandung sel darah merah (2-3 tetes), isikan kedalam kamar hitung yang sudah
ada kaca penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung
denagan penutup , hitung sel darah pada kamar hitung (5 bujur sangkar kecil)
dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x atau 40x. Penenceran
didalampipet leukosit adalah 20 kali. Kedalam kamar hitung 1/10 mm. Sel darah
putih dihitung pada 4 bujur sangkar yang masin-masing berukuran 1 mm². Untuk
menghitung sel darah 1 mm² maka faktor pengaliannyaadalah: 20x10x1/4=50.
Apabila jumlah sel darah putih yang dihitung pada 4 bujur sangkar adalah L,
maka total sel darah putih per mm² darah Lx50.
Adapun cara kerja
pada praktikum Hemoglobin adalah isikan HCL 0,1 N (± 5
tetes) kedalam tabung sahli sampai angka 10 (garis paling bawah). Hisaplah
darah dengan pipetsahli sampai angka 20 µl. Bersihkan darah yang menempel pada
ujung pipet sahli dengan kertas saring/tissue, kemudian masukkan darah tersebut
kedalam tabung sahli yang sudah berisi HCL 0,1N. Hati-hati jangan sampai
terjadi gelembung udara. Biarkan beberapa saat sampai warna coklat terbentuk.
Tambahnkan setetes deme setetes aquades sambil aduk sampai warna sesuai dengan
batang standar. Persamaan warna dengan batang standar harus diacapai dalam
waktu 3-5 menit setlah darah dan HCL dicampur. Bacalah tinggi permukaan cairan
tabung sahli. Angka yang terbaca menunjukkkan kadar Hb dari sampel darah tersebut.
Adapun cara kerja
pada praktikum Diferensial Leukosit adalah siapkan 2 buah gelas objek dalam
keadaan bersih, pegang ujung sebuah objek glass dengan ibu jari dan telunjuk
tangan kiri, atau letakan objek glass diatas meja yang rata, letakkan satu
tetes darah pada ujung object glass (sebelah kanan) dengan tangan kanan pegang
objek glass lain, lalu letakkan ujung objek glass pada ujung objek glass yang
sudah di tetesi darah membentuk sudut 30, gerakkan object glass (tangan kanan)
kebelakang sampai menyinggung tetesan darah hingga darah menyebar sepanjang
sudut, antara kedua object glass tersebut. Dorong kedepan object glass di
tangan kanan setelah darah menyebar. Maka terbentuk preparat ulas darah yang
tipis, preparat dikeringkan lalu lakukan pewarnaan. Cara untuk mewarnai
preparat dengan warna giemsa adalah preparat ulas darah yang sudah di keringkan
di fiksasi dengan memasukkan ke dalam methanol selama 5 menit, angkat dan
biarkan kering di udara, kemudian masukkan ke dalam larutan gimsa biarkan 30
menit, angkat preparat dan bilas kelebihan zat warna dengan menggunakan air
kran yang mengalir. Keringkan di udara dengan menggunakan kertas hisap dan
perlahan ditekan. Periksa preparat yang sudah di warnai dengan mikroskop
(pembesaran 100x), sebelumnya preparat ulas ditetesi minyak emersi. Perhitungan
leukosit sampai 100 sel dengan menggunakan diferensial counter.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Fisiologi Kardiovaskuler
4.1.1
Pemeriksaan Tekanan Darah
Tabel
Pemeriksaan Tekanan Darah
|
Praktikum
|
Hasil
Dari Praktikum
|
||
|
Tekanan
Darah
|
KLP
|
Hasil
|
Interprestasi
|
|
1
|
100/80 mmHg
|
Normal
|
|
|
2
|
90/80 mmHg
|
Rendah
|
|
|
3
|
110/100 mmHg
|
Normal
|
|
|
4
|
100/100 mmHg
|
Normal
|
|
|
5
|
110/110 mmHg
|
Normal
|
|
|
6
|
130/110 mmHg
|
Normal
|
|
|
7
|
120/90 mmHg
|
Normal
|
|
|
8
|
70/100 mmHg
|
Normal
|
|
|
9
|
130/110 mmHg
|
Normal
|
|
|
10
|
125/70
|
Normal
|
|
|
11
|
130/110
|
Normal
|
|
Pada
pemeriksaan tekanan darah pada saudara Idris Anggara Tampubolon memiliki
tekanan darah 110/100 mmHg. Yakni tekanan systole 110 mmHg dan tekanan diastole
100 mmHg.Maka dapat disimpulkan bahwa tekanan darah pada saudara Idris normal.
Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan
terisi darah (disebut diastol). Selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa
darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua serambi mengendur dan
berkontraksi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi
secara bersamaan. Darah
yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari
seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam
serambi kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke
dalam bilik kanan. Darah
dari bilik kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri
pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang
sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap
oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan. Darah yang kaya akan oksigen (darah
bersih) mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke serambi kiri. Peredaran
darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut
sirkulasi pulmoner. Darah
dalam serambi kiri akan didorong menuju bilik kiri, yang selanjutnya akan
memompa darah bersih ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri
terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh,
kecuali paru-paru.
Pada
diastole terjadi hal sebaliknya, dimana diastole merupakan suatu fasesaat
atrium kontraksi serta ventrikel relaksasi. Pada fase ini darah yang
berasaldari daerah tubuh bagian atas melalui vena cava superior dan darah dari
tubuh bagian bawah melalui vena cava inferior akan masuk pada atrium
dexter. Pada saat terjadi kontraksi atrium terjadi tekanan yang lebih besar
pada ruang atrium akibat kontraksinya tersebut, sehingga adanya tekanan yang
lebih besar pada bagian atrium ini di bandingkan dengan daerah ventrikel,
maka darah akan mengalir menuju ventrikel yang bertekanan rendah.Darah tidak
akan dapat mengalir lagi ke tempat semulanya. Hal ini diakibatkan adanya katub
yang menjaga agar tidak terjadi regurgitasi. Selain menjaga agar darah tidak
kembali lagi ke tempat semula, katub ini juga berfungsi menjaga agar darah yang
bersih dan kaya akan oksigen tidak bercampur kembali dengan darah yang kaya
akan karbondioksida. Setelah terjadi mekanisme sistole dan diastole,
selanjutnya darah akan mengalir ke pembuluh darah berupa pembuluh aorta menuju
ke seluruh tubuh.Adanya mekanisme sistole dan diastole ini juga akan membuat
darah akan mengalir secara kontinyu di pembuluh darah dalam mekanisme peredaran
darah. Pada sistem kardiovaskuler tekanan sistole dan diastole ini dapat
diukur. Pada tubuh yang normal didapatkan bahwa tekanan sistole sebesar 120
mmHg serta tekanan pada saat diastole sebesar 80 mmHg.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah yaitu
keadaan jantung itu sendiri serta pengaruh dari luar jantung seperti usia,
aktifitas maupun penyakit yang dapat menyebabkan kelainan dan gangguan
pada sistem kardiovaskuler sehingga darah tidak dapat beredar secara
normal. Untuk menjaga agar sistem kardiovaskuler ini tetap dalam
keadaan normal sehingga mampu mempertahankan homeostatis cairan tubuh perlu
perhatian yang mendalam dan menjaga agar sistem kardovaskuler ini tetap
berjalan normal terhadap arti pentingnya dalam kehidupan manusia yang tidak
akan pernah mampu hidup jika sistem kardiovaskuler ini berhenti bekerja
terutama jantung berhenti berdetak walaupun hanya beberapa detik saja.
Beberapa ahli fisiologi
mempertimbangkan diastole untuk mulai ketika perhentian jantung yang
mengeluarkan darah. oleh karena itu, periode antara akhir penutup dan
pengeluaran dari semilunar klep memanggil periode yang protodiastolic.
Setelah A-V klep membuka, semua ventricular musculature tinggal dalam keadaan relaksasi sampai kepada titik A-V klep terpotong. alinea terlalu besar, (guyton,2001)
Setelah A-V klep membuka, semua ventricular musculature tinggal dalam keadaan relaksasi sampai kepada titik A-V klep terpotong. alinea terlalu besar, (guyton,2001)
Sirkulasi
darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat
nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi (kekebalan) dan senyawa
N, dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang
cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke bagian jaringan-jaringan tubuh
(Afrianto, 2012).sirkulasi darah di bantu oleh system kardiovaskuler. Di mana,
jantung sangat berperan penting dalam hubungannya dengan pemompaan darah ke
seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah.
Keefektifan kerja jantung dikendalikan oleh faktor
instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik adalah sistem nodus, yang
mengantarkan rambatan depolarisasi dan pacu jantung (sinus spenosus ke
bagian-bagian dari jantung. Meskipun kontraksi otot jantung tidak tergantung
pada impuls saraf tetapi laju kontraksinya dikendalikan oleh saraf otonom.
Selain itu aktivitas jantung juga dipengaruhi oleh bermacam-macam bahan kimia,
hormon, ion-ion, dan metabolit (Tim Dosen, 2012: h. 11).
4.1.2
Bunyi Jantung
Tabel Bunyi Jantung
|
Praktikum
|
Hasil
Dari Praktikum
|
|
|
Bunyi
Jantung
|
KLP
|
Hasil
|
|
1
|
84 detakan
|
|
|
2
|
85 detakan
|
|
|
3
|
72 detakan
|
|
|
4
|
55 detakan
|
|
|
5
|
86 detakan
|
|
|
6
|
76 detakan
|
|
Untuk
mendengarkan suara jantung pertama, dengan meletakkan stetoskop pada dada orang
coba yaitu pada ruangan intercostal V sebelah kiri sternum di atas apeks
jantung. Di tempat ini terdengar sangat jelas dengan intensitas maksimum. Suara
jantung pertama didengar dengan menggunakan diafragma stetoskop karena memiliki
frekuensi bunyi yang tinggi. Bunyi S1 yaitu bunyi “lub”. Bunyi “lub” disebabkan
oleh penutupan katup mitral dan trikuspidalis. Peristiwa ini menyebabkan
turbulensi getaran dalam darah. Getaran kemudian merambat melalui jaringan di
dekatnya ke dinding dada, sehingga apat terdengar sebagai bunyi, (Guyton &
Hall, 1997 : 347).
Pada
daerah pulmonal (pinggir kiri sternum bagian atas) normal dapat didengar dua
komponen S2 (suara ke dua terpisah). Komponen I disebabkan oleh penutupan katub
aorta sedangkan komponen II disebabkan oleh penutupan katup pulmonalis. Bunyi
“dub” ditimbulkan oleh penutupan katup semilunaris yang berlangsung tiba-tiba,
ketika katup semilunaris menutup, katup ini menonjol ke arah ventrikel dan
renggang elastik katup akan melentingkan darah kembali ke arteri, yang menyebabkan
pantulan yang membolak-balikkan darah antara dinding arteri dan katup
semilunaris dan juga antara katup dan dinding ventrikel. Getaran yang terjadi
di dinding arteri akan menimbulkan suara yang dapat didengar, (Guyton &
Hall, 1997 : 348).
Suara
dari S3 yaitu “lub…dub…dee…”. Suara ini disebabkan oleh isolasi pada dinding
jantung bagian ventrikel akibat masuknya darah dari atrium dengan cepat,
(Guyton, 1997 : 348).
Bunyi S4 merupakan
bunyi abnormal, terdengar seperti “dee…lub…dub…”. Hal ini disebabkan oleh
dorongan prematur darah ke dalam ventrikel yang kaku atau dilatasi karena gagal
jantung dan hipertensi, (Potter & Perry, 2005 : 876).
Mendengarkan suara denyut jantung dalam
tubuh disebut auskultasi dan biasanya dilakukan dengan memakai alat yang
disebut stetoskop. Menurut Setjen (2010), pada saat berdenyut, setiap ruang
jantung mengendur dan terisi darah, selanjutnya jantung berkontraksi dan
memompa darah keluar dari ruang jantung. Kedua atrium jantung dapat
berkontraksi dan relaksasi secara bersamaan, kedua bilik juga dapat
berkontraksi dan relaksasi secara bersamaan. Darah dari tubuh masuk ke dalam
atrium kanan, ventrikel kanan dan kemudian dipompakan ke paru-paru. Katup-katup
menjaga agar darah tidak mengalir balik dari aorta ke ventrikel, atrium dan
vena. Katup-katup tersebut membuka dan menutup karena perbedaan tekanan darah
dalam ruang-ruang jantung. Adanya cairan perikardial menghalangi gesekan
membran perikardial satu dengan yang lainya pada setiap denyutan jantung.
Suara denyut jantung
terutama datang dari bergolaknya darah yang disebabkan oleh menutupnya katup
jantung. Pada setiap siklus jantung hanya suara jantung pertama dan kedua yang
cukup keras didengar melalui stestoskop. Suara pertama yang terdengar adalah
suara “lup” lebih keras dan sedikit lebih panjang daripada suara yang kedua.
Suara “lup” ini dihasilkan dari gerak balik darah yang menutup katup
atrioventrikular segera setelah sistol ventrikel mulai. Suara kedua lebih
pendek dan tidak sekeras suara pertama yaitu suara “dup”, suara ini adalah
akibat gerak balik darah menutup katup semilunar pada diastol ventrikel,
sedangkan waktu antara suara jantung kedua dengan suara jantung pertama
berikutnya kira-kira dua kali lebih lama dari pada waktu antara suara jantung
pertama dengan suara jantung kedua dalam satu siklus (Soewolo dkk,
2003:248-249).
Diantara bunyi kedua dan bunyi pertama dari siklus selanjutnya terdapat satu
periode istirahat yang lamanya dua kali daripada periode istirahat antara bunyi
pertama dan bunyi kedua dalam satu siklus. Dengan demikian, siklus jantung
dapat didengarkan sebagai lub, dup, istirahat; lub, dup, istirahat; lub, dup,
istirahat; dan seterusnya (Tortora, 1984:470).
Denyut jantung
secara lengkap terdiri atas kontraksi atrium, relaksasi atrium dan kontraksi
ventrikel serta relaksasi ventrikel. Pada manusia satu denyutan jantung secara
lengkap memerlukan waktu sekitar 0,8 detik sehingga jumlah denyutan per satu
menit (laju denyut jantung) sekitar 75 kali. Secara teoritis, semakin banyak
darah yang masuk ke jantung, semakin banyak pula darah yang akan dikeluarkan
dari jantung. Menurut Soewolo (2000) pada umumnya laju denyut jantung
hewan yang bertubuh kecil lebih tinggi dari pada hewan yang bertubuh besar.
Secara normal, katup mitral terbuka
sedikit lebih cepat sebelum katup trikuspidal. Sama dengan pada katup mitral
dan trikuspidal, pada katup semilunar juga terdapat desinkronisasi penutupan
katup. Katup semilunar aortik secara normal mengatup dengan bunyi keras lebih
dulu daripada katup semilunar pulmonari. Bila nafas ditarik pelan-pelan dan
dalam, maka pengisian ventrikel kanan akan sedikit tertunda sebab pembuluh
darah pulmonari tertekan oleh peningkatan tekanan intrapulmonari (Basoeki, dkk.
2000:112).
Denyut nadi adalah frekwensi irama
denyut/detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) di permukaan kulit pada
tempat-tempat tertentu. Frekuensi denyut nadi pada umumnya sama dengan
frekuensi denyut/detak jantung (Setjen, 2010). Denyutan dinyatakan sebagai
ekspresi dan dorongan balik arteri secara berganti-ganti. Ada 2 faktor yang
bertanggungjawab bagi kelangsungan denyutan yang dapat dirasakan. Pertama,
pemberian darah secara berkala dengan selang waktu pendek dari jantung ke
aorta, yang tekannya berganti-ganti naik turun dalam pembuluh darah. Bila darah
mengalir teta dari jantung ke aorta, tekanan akan tetap sehingga tidak ada
denyutan. Faktor yang kedua, elastisitas dari dinding arteri yang
memungkinkannya meneruskan aliran darah dan aliran balik. Bila dinding tidak
elastis maka tetap ada pergantian tekanan tinggi rendah dalam sistol dan
diastole ventrikel, namun dinding tersebut tidak dapat melanjutkan alirannya
dan mengembalikan aliran sehingga denyutpun tidak dapat dirasakan (Soewolo,
2003:263).
Usia, jenis kelamin, kebugaran fisik
dan suhu tubuh juga mempengaruhi laju jantung sehingga berpengaruh juga pada
jumlah denyutan pada nadi. Bayi yang baru lahir mempunyai laju jantung >120
denyut/menit, kemudian akan turun di usia anak-anak dan akan semakin turun pada
usia dewasa. Wanita umumnya sedikit lebih tinggi laju jantungnya daripada pria
(Soewolo, 2003:252).
4.1.3
Test Schneider
Tabel
Test Schneider
|
Praktikum
|
Hasil
Dari Praktikum
|
|||
|
Test
Schneider
|
KLP
|
Hasil
|
Interprestasi
|
|
|
1
|
9
|
Cukup
|
||
|
2
|
10
|
Cukup
|
||
|
3
|
10
|
Cukup
|
||
|
4
|
9
|
Cukup
|
||
|
5
|
9
|
Cukup
|
||
|
6
|
13
|
Baik
|
||
|
|
||||
Komponen Sistem Kardiovaskular Sistem kardiovaskular
merupakan suatu sistem transpor tertutup yang terdiri atas:
A. Jantung,
sebagai org an pemompa.
B. Komponen darah, sebagai pembawa materi oksigen
dan nutrisi.
C. Pembuluh darah, sebagai media yang
mengalirkan komponen darah.
Efek impuls neuron ini adalah untuk
meningkatkan frekuensi jantung. Impuls ini menjalar melalui serabut simpatis
dalam saraf jantung menuju jantung. Ujung serabut saraf mensekresi
neropineprin, yang meningkatkan frekuensi pengeluaran impuls dari nodus S -A,
mengurangi waktu hantaran melalui nodus A - V dan sistem Purkinje, dan
meningkatkan eksitabilitas keseluruhan jantung. Hall tersebut sesuai dengan yang menyatakan bahwa Pusat refleks
kardioinhibitor juga terdapat dalam medulla oblongata. efek impuls dari neuron
ini adalah untuk mengurangi frekuensi jantung. Warigan ( 2002).
Sementara hasil dan pembahasan yang diperoleh pada test Schneider
adalah, test ini merupakan test kemampuan fisik kelasik yang digunakan sejak
tahun 1920 untuk menguji setatus kesehatan seseorang atau efisiensi sirkulasi
darahnya.dengan interperstasi skor :
15 : sangat baik
12 – 4 : baik
9 – 11 : cukup
< 9 : buruk
4.1.4
Test Harvad Step (Lambat dan Cepat)
Tabel
Test Harvd Step (Lambat dan Cepat)
|
Praktikum
|
Hasil
dari Praktikum
|
|||||
|
KLP
|
Hasil
|
Interprestasi
|
||||
|
Lambat
|
Cepat
|
Lambat
|
Cepat
|
|||
|
Test
Harvard Step (Lambat dan Cepat)
|
1
|
71
|
12
|
k.
cukup
|
Kurang
|
|
|
2
|
79.37
|
18
|
k.
cukup
|
Kurang
|
||
|
3
|
96
|
51
|
k.
amat baik
|
Kurang
|
||
|
4
|
42
|
60
|
k.kurang
|
Sedang
|
||
|
5
|
91.46
|
15
|
k.
amat baik
|
Kurang
|
||
|
6
|
69
|
29
|
k.
cukup
|
Kurang
|
||
Hasil pada Test Harvard Setp
terdapat dua cara yaitu cara lambat dan cara cepat. Sedangkan Tes Harvard sendiri adalah salah satu
jenis tes stress jantung untuk mendeteksi dan atau mendiagnosa kelainan
kardivaskuler. Tes ini juga salah satu ukuran yang bagus bagi kebugaran, dan
kemampuan untuk pulih dari olahraga berat. Semakin cepat jantung kembali normal
maka semakin bugar tubuhnya. Firhazona.(2008).
Uchenk (2008) yaitu Tes Harvard adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk
mendeteksi dan atau mendiagnosa kelainan kardivaskuler. Tes ini juga salah satu
ukuran yang bagus bagi kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari olahraga
berat. Semakin cepat jantung kembali normal maka semakin bugar tubuhnya Dengan melakukan naik turun bangku
selama 5 menit, tidak boleh lebih 5 menit dalam melakukan naik dan turun
mangku, satu kali naik turun bangku 2 detik.
AIK
lambat dengan rumus :
Aik
= lama naik turun bangku (detik ) x 100
2
x ( jumlah 3 bilangan nadi terhitung )
AIK
cara cepat dengan rumus :
Aik
= lama naik turun bangku (detik ) x 100
5.5 x nadi pada hitungan menit
pertama
Interperestasi
AIK adalah sebagai berikut :
< 55 :
kemampuan kurang
55 – 64 :
kemampuan sedang
65
– 78 : kemampuan cukup
80
– 89 : kemampuan baik
>90 : kemampuan amat baik
4.2
Fisiologi Darah
4.2.1
Preparat Natif Darah
Tabel
Preparat Natif Darah
|
No
|
Kelompok
|
Gambar PREPARAT
|
Bentuk Sel Darah
|
Krenasi
|
Mikroorganisme
|
||
|
ada
|
tidak
|
Ada
|
Tidak
|
||||
|
1
|
1
dan 2
|
|
Cakram
bikonkaf, sirkulasi dan tidak berinti
|
ü
|
|
|
ü
|
|
2
|
3
dan 4
|
|
Cakram
bikonkaf, sirkulasi dan tidak berinti
|
ü
|
|
|
ü
|
|
3
|
5
dan 6
|
|
Lonjong
atau oval danberinti
|
ü
|
|
|
ü
|
Dari hasil yang
telah didapatkan pada 3 sampel yaitu sampel darah sapi, kambing, dan ayam,bahwa
ketiga sampel ini tergolong kedalam mamalia (sapid an kambing) dan unggas
(ayam).
Sel darah merah membawa haemoglobin dalam sirkulasi.
Sel darah merah berbentuk piring atau biconcave, pada mamalia
sel darah merah tidak bernukleus kecuali pada awal dan pada hewan-hewan
tertentu. Sel darah merah pada unggas mempunyai nukleus dan berbentuk elips.
Sel darah merah terdiri dari air (65%), Hb (33%), dan sisanya terdiri dari sel
stroma, lemak, mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya dan ion K (Kusumawati,
2004).
Eritrosit
mamalia berbentuk kepingan bikonkaf yang diratakan dan diberikan tekanan di
bagian tengahnya, dengan bentuk seperti "barbel" jika dilihat secara
melintang. Bentuk ini (setelah nuklei dan organelnya dihilangkan) akan
mengoptimisasi sel dalam proses pertukaran oksigen dengan jaringan tubuh di
sekitarnya. Bentuk sel sangat fleksibel sehingga muat ketika masuk ke dalam pembuluh kapiler yang kecil. Eritrosit biasanya berbentuk bundar, kecuali
pada eritrosit di keluarga Camelidae (unta), yang berbentuk oval. (Santi, 2003).
Pada jaringan
darah yang besar, eritrosit kadang-kadang muncul dalam tumpukan, tersusun
bersampingan. Formasi ini biasa disebut roleaux formation, dan akan
muncul lebih banyak ketika tingkat serum protein dinaikkan, seperti contoh ketika
peradangan terjadi. (Marsya, 2008).
4.2.2
Waktu Perdarahan
Tabel
Waktu Perdarahan
|
Kelompok
|
Nama
|
Waktu
Perdarahan
|
|
1
|
|
1 menit 43 detik
|
|
2
|
|
35 detik
|
|
3
|
|
25 detik
|
|
4
|
|
1 menit 20 detik
|
|
5
|
|
2 menit 37 detik
|
|
6
|
|
16 menit 13 detik
|
|
7
|
Mualip Alvian
Sri Wahyuni
|
13 detik
15 detik
|
|
8
|
Merry Herlina
Frengky
|
16 detik
27 detik
|
|
9
|
Risky Keliat
Firda
|
1 menit 25 detik
1 menit 28 detik
|
|
10
|
Fadhol Adha
Suhartini
|
23 detik
19 detik
|
Subhan (2003) yang
menyatakan bahwa waktu pendarahan di
pembuluh kecil itu lebih lama pendarahan waktu pertama keluar darah : 10 menit
waktu akhir/kering : 30 menit Terjadi penggumpalan.
Pada jari yang ditusuk
dengan lanset sterill terdapat pembuluh darah kecil. Yang dimaksud dengan
pendarahan adalah peristiwa keluarnya darah dari pembuluh darah karena pembuluh
tersebut mengalami kerusakan. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh benturan
fisik, sayatan, atau pecahnya pembuluh darah yang tersumbat.
Berdasarkan letak
keluarnya darah, pendarahan dibagi menjadi 2 macam, yaitu pendarahan terbuka
dan pendarahan tertutup. Pada pendarahan terbuka, darah keluar dari dalam
tubuh. Tekanan dan warna darah pada saat keluar tergantung dari jenis pembuluh
darah yang rusak. Jika yang rusak adalah pembuluh arteri (pembuluh nadi), maka
darah memancar dan berwarna merah terang. Jika yang rusak adalah pembuluh vena
(pembuluh balik), maka darah mengalir dan berwarna merah tua. Jika yang rusak
adalah pembuluh kapiler (pembuluh rambut), maka darah merembes seperti titik
embun dan berwarna merah terang.
Waktu pendarahan adalah interval
waktu mulai timbulnya tetes darah dari pembuluh darah yang luka sampai darah
berhenti mengalir keluar dari pembuluh darah. Penghentian pembuluh darah ini
disebabkan terbentuknya agregat yang menutupi celah pembuluh darah yang rusak.
(Dsyoghi, 2010)
Faktor-faktor yang mempengaruhi
waktu pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan,
umur, besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu
pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik. (Dsyoghi, 2010)
4.2.3
Waktu Beku Darah
Tabel
Waktu Beku Darah
|
Kelompok
|
Nama
|
Waktu
Beku Darah
|
|
1
|
|
9 menit 27 detik
|
|
2
|
|
8 menit 30 detik
|
|
3
|
|
10 menit 9 detik
|
|
4
|
|
11 menit 9 detik
|
|
5
|
|
2 menit 21 detik
|
|
6
|
|
1 menit 4 detik
|
|
7
|
Mualip Alvian
Sri Wahyuni
|
20 detik
22 detik
|
|
8
|
Merry Herlina
Frengky
|
1 menit 29 detik
18 detik
|
|
9
|
Risky Keliat
Firda
|
2 menit 10 detik
1 menit 32 detik
|
|
10
|
Fadhol Adha
Suhartini
|
20 detik
1 menit 14 detik
|
Tambayon (2003) menyatakan bahwa cepatnya proses pembekuan darah karena
di dalam darah manusia terdapat globin dan hem (sekitar 40%) sebagai proses
konjugasi protein dalam tubuh manusia.
Pada darah manusia terjadi pembekuan
(terbentuk benang putih) karena darah tidak dibri antikoagulan. Sedangkan darah
sapi, kambing , dan ayam tidak terjadi pembekuan karena darah – darah tersebut
diberi antikoagulan.
Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit (Wibowo, 2009).
Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit (Wibowo, 2009).
4.2.4
Laju Endap Darah
Grafik
LED dari Ayam

Grafik
LED Sapi

Grafik
LED Kambing

4.2.5
Hemolisis dan Ketahanan Osmotik Eritrosit
Tabel Hemolisis dan Ketahanan Osmotik Eritrosit
|
Nomor
Tabung
|
Konsentrasi
|
Makroskopis
(Hemolisis)
|
Mikroskopis
|
|
|
Bentuk
|
Besar
|
|||
|
1
|
0.65% (Sapi)
|
_
|
Bulat Cincin
|
<
|
|
2
|
0.65% (Kambing)
|
_
|
Bulat Cincin
|
<
|
|
3
|
0.65 (Ayam)
|
_
|
Oval
|
>
|
|
4
|
1% Urea dalam Aquades (Sapi)
|
+
|
Hemolisis Sempurna
|
|
|
5
|
1% Urea dalam Aquades (Kambing)
|
+
|
Hemolisis Sempurna
|
|
|
6
|
1% Urea dalam Aquades (Ayam)
|
+
|
Hemolisis Sempurna
|
|
.
Laju Endap Darah (LED) atau dalam bahasa
Inggrisnya Erythrocyte
Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk
darah untuk mengetahui tingkat peradangan dalam
tubuh seseorang.
(Feni, 2011). Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini
diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam tabung khusus LED dalam posisi
tegak lurus selama satu jam.
(Ega,
2009). Sel darah merah akan mengendap ke dasar tabung sementara plasma darah
akan mengambang di permukaan. Kecepatan pengendapan sel darah merah inilah yang
disebut LED. Atau dapat dikatakan makin banyak sel darah merah yang mengendap
maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya (Sintia, 2010).
Pada darah yang
diberi ureua terjadi sebaliknya yaitu jika ditambah aquades eritrosit
menggembung sedangkan jika diberi NaCl eritrosit pecah. Hal tersebut terjadi
karena aquades menjadi larutan hipotonis dan NaCl menjadi larutan hipertonis (Leni, 2013).
Hemolisis adalah pecahnya membran
eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya
(plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain
penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan
permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan
pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.Apabila medium di
sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis)
medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui
membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung.
Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit
itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam
medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang
hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit
(plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat
dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar
eritrosit (plasma)( Anonim, 2008 ).
Hemolisis merupakan suatu proses yang menunjukkan
terjadinya lisis pada sel darah merah (eritrosit) dimana hemoglobin keluar dari
sel. Hemolisis terjadi jika sel didedahkan dalam medium yang hipotonis.
Eritrosit memiliki membran yang bersifat selektif permiabel yang artinya hanya
senyawa atau zat tertentu saja yang dapat menembus atau memasuki dinding
selnya. Rusaknya membran dari eritrosit biasanya disebabkan karena penambahan
larutan hipotonis atau hipertonis ke dalam sel darah.
Hal yang mungkin terjadi bila eritrosit dimasukan ke
dalam medium yang hipotonis adalah medium tersebut akan masuk ke dalam membran
pada eritrosit sehingga sel darah akan menggembung. Pecahnya sel dari eritrosit
disebabkan sel tidak dapat menahan tekanan yang terdapat dari dalam sel
eritrosit itu sendiri. Sebaliknya bila eritrosit ditempatkan pada larutan yang
hipertonis, maka cairan dari dalam erotrosit akan keluar dari dalam sel menuju
medium sehingga eritrosit akan menjadi berkerut. Peristiwa ini biasa dikenal
dengan krenasi.
Sel darah ketika ditambahkan akuades akan memperlihatkan
penampakan sel darah merah (eritrosit) tampak pecah. Hal ini menunjukkan bahwa
telah terjadi peristiwa hemolisis pada sel darah merah yang dikarenakan larutan
akuades bersifat hipotonis. Akuades merupakan cairan hipotonis yang menyebabkan
perbedaan konsentrasi dimana konsentrai darah lebih tinggi daripada konsentrasi
aquades, sehingga beberapa cairan dari aquades masuk kedalam sel-sel darah
merah tersebut sampai konsentrasinya seimbang akan tetapi membran atau lapisan
yang dimiliki darah tidak kuat untuk menampung semua itu sehingga terjadilah
hemolisis (pecahnya sel darah merah).
Peristiwa
hemolisis dan krenasi tidak pernah terlepas dari peran osmosis dan difusi.
Kerusakan pada membran sel darah dikaarenakan sel darah didedahkan pada medium
yang hipotonis atau hipertonis. Apabila larutan bersifat hipotonis larutan dari
luar akan masuk ke dalam eritrosit sehingga eritrosit menggembung melebihi
kemampuan dari sel dan akhirnya pecah karena larutan masuk melalui membran
eritrosit yang bersifat semi permiabel. Sedangkan bila larutan bersifat
hipertonis dimasukan dalam darah akan menyebabkan isi sel keluar menuju medium
sehingga sel mengkerut.
4.2.6
Hematokrit
Tabel
Hasil Hematokrit
|
Kelompok
|
Ternak/Ungas
|
||
|
Sapi
|
Kambing
|
Ayam
|
|
|
1
|
29
|
39
|
_
|
|
2
|
29
|
44
|
34
|
|
3
|
28
|
39
|
21
|
|
4
|
_
|
39
|
25
|
|
5
|
28
|
39
|
22
|
|
6
|
31
|
|
25
|
|
7
|
40
|
32
|
27
|
|
8
|
24
|
33
|
27
|
|
9
|
25
|
33
|
23
|
|
10
|
27
|
34
|
25
|
|
11
|
29
|
27
|
20
|
Hematokrit atau packed cell volume
(pcv) merupakan persentase sel-sel darah merah di dalam 100 ml darah,darah yang
ditambah antikoagulan kemudian disentrifuse dengan kecepatan tinggi ,maka darah
terpisah menjadi 3 bagian yaitu :
1.Lapisan teratas : Plasma berwarna
kuning
2.Lapisan
tengah : Buffy coat yang terdiri dari trombosit (bagian teratas kuning coklat
),Leukosit (bagian tengah berwarna abu-abu kemerahan).
3.Lapisan
Terbawah : eritrosit berwarna merah tua,eritrosit terpisah di bagian bawah
karena mempunyai BJ terbesar.
Gambar Hematokrit
Hematokrit
merupakan suatu hasil pengukuran yang menyatakan perbandingan sel darah merah terhadap volum darah.
Kata hematokrit berasal dari bahasa Yunani, yaitu hema (berarti darah) dan
krite (yang memiliki arti menilai atau mengukur). Secara harafiah, hematokrit
berarti mengukur atau menilai darah.
Semakin tinggi persentase hematokrit berarti konsentrasi
darah semakin kental, dan diperkirakan banyak plasma darah yang keluar dari
pembuluh darah hingga berlanjut pada kondisi syok hipovolemik. Penurunan
hematokrit terjadi pada pasien yang mengalami kehilangan darah akut, anemia,
leukemia, dan kondisi lainnya.
Nilai normal hematokrit (Ht) sangat bervariasi menurut
masing-masing laboratorium dan metode pemeriksaan . Gandasoebrata R (2006).
4.2.7
Hemoglobin
Tabel Hasil Hemoglobin
|
Kelompok
|
Ternak/Unggas
|
||
|
Sapi
%
|
Kambing
%
|
Ayam
%
|
|
|
1
|
11.6
|
11.1
|
11.30
|
|
2
|
8.8
|
9.2
|
7
|
|
3
|
11
|
12
|
12
|
|
4
|
10
|
9
|
7.2
|
|
5
|
6.6
|
6.8
|
1.8
|
|
6
|
12
|
9.8
|
7.8
|
|
7
|
12
|
9.8
|
7.8
|
|
8
|
12
|
9.8
|
7.8
|
|
9
|
12
|
9.8
|
7.8
|
|
10
|
7.8
|
12
|
9.8
|
|
11
|
12
|
9.8
|
7.8
|
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang
berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan
tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan
zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah.
Hemoglobin adalah merupakan zat
protein yang ditemukan dalam sel darah merah (SDM), yang memberi warna merah
pada darah. Haemoglobin terdiri atas zat besi yang merupakan pembawa oksigen,
kadar haemoglobin yang tinggi abnormal tejadi karena keadaan hemokonsentrasi
akibat dari dehidrasi (kehilangan cairan) kadar haemoglobin yang rendah
berkaitan dengan berbagai masalah klinis (Joice Leafever Kee, 2000).
Haemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut (heme) dan
protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul haemoglobin dalam setiap sel
darah merah. (Elizabeth J.Corwin, 2000).
Pemeriksaan hemoglobin
dalam darah mempunyai peranan yang penting dalam diagnosa suatu penyakit,
karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus yang ada dalam sel darah
merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2
dari jaringan ke paru-paru. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini adalah
untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya
kekurangan hemoglobin yang biasa disebut anemia. Hemoglobin bisa saja berada
dalam keadaan terlarut langsung dalam plasma. Akan tetapi kemampuan hemoglobin
untuk mengikat oksigen tidak bekerja secara maksimum dan akan mempengaruhi pada
faktor lingkungan.
Kadar hemoglobin dapat ditetapkan
dengan berbagai cara, antara lain metode Sahli, oksihemoglobin atau
sianmethhemoglobin.
4.2.8
Menghitung Jumlah Sel Darah
Tabel Pengamatan Menghitung Jumlah
Sel Darah
|
Kelompok
|
Pengamatan
|
Darah
|
Jumlah
Sel
|
|
1
|
Eritrosit
|
Sapi
|
1.470.000
|
|
2
|
Eritrosit
|
Kambing
|
4.920.000
|
|
3
|
Leukosit
|
Ayam
|
34.200
|
|
4
|
Leukosit
|
Sapi
|
41.550
|
|
5
|
Leukosit
|
Kambing
|
Tidak Mendapatkan Hasil
|
|
6
|
Eritrosit
|
Kambing
|
80.500.000
|
|
7
|
Eritrosit
|
Ayam
|
2.27 Juta
|
|
8
|
Eritrosit
|
Sapi
|
5.040.000
|
|
9
|
Leukosit
|
Kambing
|
7.550
|
|
10
|
Leukosit
|
Sapi
|
6.850
|
|
11
|
Leukosit
|
Ayam
|
552
|
Menghitung
jumlah eritrosit yang terkandung dalam darah memang bukan suatu hal yang mudah
karena sel-sel darah merah yang terkandung dalam darah berukuran sangat kecil
sehingga dibutuhkan seperangkat alat yang dinamakan dengan Haemocytometer
dengan bantuan mikroskop. Dalam proses penghitungan sel-sel darah merah
dibutuhkan juga ketelitian dan konsisten dalam cara menghitung.
Penghitungan sel-sel darah merah dihitung di
dalam kamar hitung yang bersakala atau berukuran kecil dengan jumlah 40 buah.
Contoh gambar sel-sel darah yang terkandung di dalam kamar hitung.
Menghitung
jumlah leukosit pada prinsipnya sama saja dengan cara menghitung jumlah sel
darah merah (eritrosit) hanya saja yang digunakan pipet dan kamar hitung
yang berbeda, jika tadi pada saat menghitung sel-sel darah merah dengan kamar
hitung yang memiliki skala yang kecil dengan jumlah 40 kamar akan tetapi
sekarang menghitung dalam kamar hitung yang berukuran besar dengan jumlah 25
kamar.
Untuk menghitung jumlah sel darah
merah dipergunakan larutan pengencer yang dinamakan larutan hayem, hal ini
sesuai dengan pernyataan (Vander 2009),
yang menyatakan bahwa hitungan sel darah merah total ditentukan dengan
mengencerkan suatu jumlah darah dengan menggunakansuatu jenis pengencer.Larutan hayem mempunyai komposisi 1 gram NaCl, 5 gram Na2SO4,
0,5 gram HgCl2, dan 200 liter air. Kecuali berfungsi untuk
mengencerkan darah agar sel-sel darah tidak terlalu berdesakan sehingga
mempermudahkan dalam perhitungan, larutan hayem juga harus bersifat isotonik
terhadap cairan didalam sel darah merah dan harus dapat menghancurkan sel –sel
darah lainnya yaitu sel darah putih dan keping darah.
Setelah
dilakukan pengenceraan terhadap darah kambing untuk mengamati dan menghitung
jumlah sel darah putihnya, maka hasil yang kami dapatkan tetap gagal.
Pada
percobaan pertama praktikan telah mengencerkan darah, tetapi darah dalam pipet
pengencer terlalu lama, sehingga kami melakukan pengenceran untuk kedua
kalinya.Sementara kami menunggu mikroskop dan setelah kami mendapatkannya,
setelah kami amati ternyata sel darah rusak.
Kemudian
kami ,melakukan percobaan ketiga hasilnya tetap sama. Maka kami menyimpulkan
bahwa kambing yang diambil darahnya sakit ataupun kemungkinan darah tidak layak
pakai karena sudah terkontaminasi.
Nelson (2000) yang menyatakan
bahwa jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh,
variasi harian, dan keadaan stress. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila
terjadi perubahan dan atau pada waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan
menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan.Banyaknya jumlah eritrosit
juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri.
4.2.9
Diferensial Leukosit
Tabel Diferensial Darah Manusia
Perempuan
|
Jenis
Sel Leukosit
|
Jumlah
Sel
|
%
dari ∑ Leukosit
|
|
Basofil
|
7
|
14.89
|
|
Eusinofil
|
6
|
12.76
|
|
Myelo
|
13
|
27.66
|
|
Juven
|
11
|
23.40
|
|
Stab
|
8
|
17.02
|
|
Seg
|
2
|
4.26
|
|
Manosit
|
_
|
_
|
|
Limp
|
_
|
_
|
|
Total
|
47
|
|
Darah
yang diperiksa adalah darah saudari Catur Aprillia Damayanti, dari table
terlihat bahwa basofil saudari Catur adalah 14.89%, sementara kadar normal %
basofil pada manusia dewasa adalah 0.5-1%. % Eusinofil pada normal adalah 1-2%,
hal ini berarti %eusinofil saudari Catur lebih bessar.Atau jumlah eusinofil
Catur meningkat. Peningkatan eusinofil dapat terjadi karena adanya infeksi
parasit dan alergi.
Hitung
jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x
kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis
leukosit hapusan darah tepi yang aakn digunakan perlu diperhatikan hapusan
darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu
dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat,eritrosit tidak boleh
bergerombol (Ripani,2010).
Hitung
jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relative dari masing- masing jenis sel.
Untuk mendapatkan jumlah absolute dari masing-masing jenis sel maka nilai
relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total. Hitung jenis leukosit berbeda
tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari neutrofil segmen
sedangkan pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi
dari satu sediaan hapus ke sediaan lainnya, dari satu lapang pandang ke lapang
pandang yang lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%. Bila
pada hitung jenis leukosit didapatkan eritrosit berinti lebih dari 10 per 1000
leukosit maka jumlah leukosit per mikro liter perlu dikoreksi. (dr. Boy,2010)
Tabel 2 Diferensial Leukosit (%)
|
Kelompok
|
Darah
|
Myelo
|
Eosinofil
|
Basofil
|
Juven
|
Stab
|
Monosit
|
Seg
|
Lymph
|
|
1
|
Sapi
|
30.76
|
7.69
|
11.53
|
7.69
|
0
|
11.53
|
0
|
30.76
|
|
2
|
Ayam
|
24.3
|
5.4
|
32.4
|
8.1
|
0
|
16.21
|
2.7
|
10.81
|
|
3
|
Kambing
|
22.58
|
3.22
|
6.45
|
6.45
|
35.48
|
3.22
|
6.48
|
16.12
|
|
4
|
Manusia (Lk)
|
0
|
12.5
|
18.75
|
18.75
|
0
|
6.25
|
0
|
18.75
|
|
5
|
Manusia (Pr)
|
27.66
|
12.76
|
14.89
|
14.89
|
17.02
|
0
|
4.26
|
0
|
|
6
|
Sapi
|
47.05
|
0
|
29.41
|
17.64
|
0
|
5.88
|
0
|
O
|
|
7
|
Kambing
|
7
|
0
|
2
|
2
|
10
|
1
|
2
|
5
|
|
8
|
Sapi
|
14
|
11
|
23
|
5
|
8
|
16
|
11
|
57
|
|
9
|
Manusia (Lk)
|
1.60
|
4.82
|
1.07
|
0
|
0.53
|
|
13.37
|
40.64
|
|
10
|
Manusia (Pr)
|
38.46
|
|
30.77
|
30.77
|
|
|
|
|
|
11
|
Sapi
|
11.35
|
13.4
|
3.84
|
5
|
16
|
32
|
7
|
4
|
Leukosit
merupakan unit yang aktif dari sistim pertahanan tubuh dengan menyediakan
pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap agen infeksi. Leukosit dibagi
menjadi dua kelompok yaitu granulosit yang terdiri dari heterofil, eosinofil,
basofil dan kelompok agranulosit terdiri dari monosit dan limfosit. Granulosit
dan monosit mempertahankan tubuh terhadap organisme penyerang dengan cara
fagositosis, sedangkan fungsi utama limfosit adalah berhubungan dengan system
kekebalan tubuh (GUYTON, 1996)
Sebagian
besar granulosit mengandung granula yang berwarna dengan zat warna asam
(eosinofil) dan sebagian mempunyai granula basofilik (basofil). Dua jenis sel
lainnya yang normal ditemukan dalam darah tepi adalah limfosit, yaitu sel
dengan inti besar dan bulat dan sedikit sitoplasma, dan monosit, yaitu sel
dengan banyak sitoplasma agranuler dan inti berbentuk ginjal.(Ganong, 2001)
Leukosit
berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap kuman
-kuman penyakit yang menyerang tubuh
dengan cara fagosit,menghasilkan antibody(Junguera, 1997)
Leukosit
terdiri atas limfosit, monosit, basofil, netrofil daneosinofil merupakan komponen
darah yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh (Nordenson,2002).
Proses pembentukan limfosit disebutlimfopoiesis, pembentukan
limfosit berasal dari pematangan LSC (Lymphoid Stem Cell) atau sel induk, LSC
ini akan berkembang menjadi Limfosit-T(timus)dan Limfosit-B(sumsum
tulang)kemudian masuk ke perifer beredar dengan interval waktu yang bervariasi
bergantung pada sifat sel dan berkumpul dijaringan limfa atau organ limfatik,
sel limfoid paling dini adalah limfoblasyang akan berkembang menjadi limfosit kemudianberdifer
ensiasi
menjadi sel plasma yang membentuk kurang dari 4,5% hitung jenis dari sumsum tulang
normal.Sel plasma berfungsi untuk membentuk antibodi, sel plasma memiliki ciri
morfologiinti sel yang terletak eksentrik dan pola kromatin seperti roda
pedati.Limfosit disimpan pada sumsum tulang dan sebagiandi jaringan
limfa(GuytondanHall, 2007)
Eosinofil pada
pemeriksaan dibawah mikroskop akan tampak seperti kaca mata dengan sitoplasma
merah dan bergrandula. Basofil, granulanya memenuhi inti , sangat jarang
ditemukan hanya ditemukan pada mereka yang memiliki penyakit berat. Stab tampak
seperti cekungan atau tapal kuda. Segmen, tampak lobus-lobus yang telah
memisahkan diri, minimal tiga. Limfosit tampak bulat memiliki inti padat.
Sedangkan monosit tampak transparan seperti vakuola. (Oka,2007)
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum Fisiologi Kardiovaskuler yaitu
tekanan darah pada setiap orang berbeda-beda dan kesanggupan jantung setelah
melakukan suatu kegiatan dapat dihitung dengan menggunakan rumus cepat dan
lambat.Jantung sebaiknya dijaga dengan cara menuju jantung sehat yang paling
utama adalah dengan mengubah gaya hidup ( therapeutic lifestyle change).
Sirkulasi
darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat
nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi (kekebalan) dan senyawa
N, dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang
cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke bagian jaringan-jaringan tubuh.
Keefektifan kerja jantung dikendalikan oleh faktor
instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik adalah sistem nodus, yang
mengantarkan rambatan depolarisasi dan pacu jantung (sinus spenosus ke
bagian-bagian dari jantung. Meskipun kontraksi otot jantung tidak tergantung
pada impuls saraf tetapi laju kontraksinya dikendalikan oleh saraf otonom.
Selain itu aktivitas jantung juga dipengaruhi oleh bermacam-macam bahan kimia,
hormon, ion-ion, dan metabolit
Salah satu indikator
kesehatan jantung adalah terjadinya
peningkatan denyut nadi pada saat
beristirahat. Waktu yang tepat untuk mengecek denyut nadi adalah saat kita
bangun pagi dan sebelum melakukan aktivitas apapun.Pada saat itu kita masih
relaks dan tubuh masih terbebas dari zat-zat pengganggu seperti nikotin dan
kafein.Kita dapat mengecek sendiri dengan merasakan denyut nadi kita di bagian
tubuh tertentu. Test Scheneider merupakan test kemampuan fisik klasik yang
digunakan sejak tahun 1920 untuk menguji status kesehatan seseorang atau
efisiensi sirkulasi darahnya.
Darah
normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan
gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas
plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat
menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya
setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang
lain akan meningkatkan LED.
Darah
pada dasarnya memiliki ketahanan terhadap berbagai tekanan. Namun tidak semua
tekanan dapat ditahan dan tak mempengaruhinya, hal ini dibuktikan dengan
praktikum yang kami laksanakan membuktikan bahwa darah tidak tahan terhadap
keadaan yang hhipotonis yaitu keadaan disekitar darah merah berada dalam
tekanan yang sangat rendah sehingga terjadinya penyerapan kedalam dan
mengakibatkan membran plasma mengembang dan akhirnya pecah.
Waktu
pendarahan adalah interval waktu mulai timbulnya tetes darah dari pembuluh
darah yang luka sampai darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh darah.
Penghentian pembuluh darah ini disebabkan terbentuknya agregat yang menutupi
celah pembuluh darah yang rusak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu
koagulasi darah yaitu adanya pembentukan tromboplastin, adanya ion kalsium dan
substansi faktor trombosit bereaksi dengan faktor anti hemofilik membentuk
tromboplastin, protrombin, prokonvertin, akseleretor konversi serum protrombin
dan ion kalsium.Dari data diatas juga terlihat darah masih dalam kisaran normal
baik pria maupun wanita.
Hematokrit
merupakan persentase sel sel darah merah dalam 100 ml darah. Pada pemeriksaan
hematokrit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara manual dan cara
automatik. Pada cara manual dilakukan dua pengukuran yaitu secara mikro dan
secara makro. Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah
merah yang terdiri dari protein kompleks terkonjugasi yang mengandung besi dan
berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan
tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan
zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna
merah. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain
metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin.
Perhitungan
total leukosit penting untuk diagnosa klinik, tetapi akan lebih memberikan
gambaran yang lengkap dengan perhitungan diferensial leukosit. Diferensial
leukosit merupakan persentase setiap jumlah sel darah putih dari total
leukosit. Setiap sel darah putih memiliki fungsi yang berbeda. Sel darah putihh
terdiri dari leukosit granulosit dan leukosit agranulosit
5.2
Saran
Praktikan harus saling bekerjasama
dalam melaksakan praktikum dan praktikan harus mematuhi tata tertib di
laboratorium agar praktikum dapat berjalan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Akoso,
B. T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius. Yogyakarta.
Ali.2008. Harvard
Steps Test. Fisiologi Kardiovaskular. Jakarta: Erlangga.
Anggi. 2012. Atlas Anatomi. Jakarta: Djambatan.
Anonim b. Koagulasi Darah.
http://www.sciencebiology.com. Diakses 25 April 2015
Anonim c.
Darah. www.medical_blood.gif.blogspot.com. Diakses 26 April 2015
Anonim.
2009.Antikoagulan.http://www.antikoagulan_jevuska.html. Diakses 25 April 2015
Anshari, irwan. Pembekuan darah dan Hemofilia. http://www.irwanashari.com/2009/12/hemofilia.html. Diakses 25 April 2015
Antoni.
2000. Anatomi Umum.
Makassar : Fakultas Kedokteran UNHAS.
Aris. 2010. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta
: Erlangga.
Atwood,
Stanton, Storey. 1996. Pengenalan Dasar Disritma Jantung. Gajah Mada Press. Yogyakarta
Azhar. 2009. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi
Manusia. Departemen Farmasi FMIPA UI : Depok.
Azhar. 2009. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi
Manusia. Departemen Farmasi FMIPA UI : Depok.
Bernard.
2004. Buku Teks Histologi Veteriner. Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia
Press.
Bianco,
Carl. 2000. How Your Heart Works. www.howstuffworks.com, diakses pada tanggal 29 April 2015
Biofagri.
2006. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGIHEWAN.
Burkitt,
Young, Heath. 1995. Histologi Fungsional. EGC. Jakarta.
Debeasi. 2005.
Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Destara. 2010. Anatomi dan Fisiologi
Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Devi.2012.
Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
Dilla. 2011. Anatomi Umum. Makassar : Fakultas Kedokteran UNHAS.
Dilla. 2011. Anatomi Umum. Makassar : Fakultas Kedokteran UNHAS.
Duke,
NH. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing. New York.
Ega.
2009. Kadar Hemoglobin dan Jumlah Sel Darah Merah pada Berbagai Itik Lokal. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED,
Purwokerto.
Evelyn,
Pearce. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Fega. 2001. Fisiologi Kedokteran.
Edisi 14. Jakarta: EGC
Feni.
2011. Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.
Ferdi. 2009. Fisiologi Manusia dan
Mekanismenya terhadap Penyakit. EGC Penerbit Buku kedokteran. Jakarta.
Frandson,
R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Frandson. 2002. Anatomi dan Fisiologi
Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Frandson. 2002. Anatomi dan Fisiologi
Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Ganong,
WF. 2002. Review of Medical
Physiology. 22th Edition, Appleton & Lange A Simon & Schuster Co, Los
Altos, California.
Ganong.
1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.
Gina.
2006. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis.
Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Guyton
and Hall. 2000. Medical Physiology. W.B.Saunders Company : New York
Guyton, Arthur C. 1983. Fisiologi
Manusia dan Mekanismenya terhadap Penyakit. EGC
Penerbit Buku kedokteran : Jakarta.
Guyton. 2004. Biologi Edisi Kelima. Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
Guyton. 2004. Biologi Edisi Kelima. Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
http://web.ipb.ac.id/~tpb/tpb/files/materi/prak_biologi/Pengukuran%20MOLEKUL% 20CO%20hasil%20RESPIRASI.pdf.Diaksespadatanggal
25 April 2015
http://www.cvphysiology.com,
diakses pada tanggal 25 April 2015
Isnaeni,
W. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Yogyakarta.
Ken. 2010. Basic Histology, Appleton and Lange, London.
Keti. 2014. Biokimia Harper. Jakarta: ECG
Kusumawati,
Diah. 2004. Bersahabat dengan hewan coba. Gadjah Mada Press.Yogyakarta.
Kusumawati. 2004.
Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Kusumawati. 2004.
Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Lande, Rante dan J.M. Ch. Pelupessy
, ___, Bunyi Jantung, Cermin dunia Kedokteran,
www.google.com, diakses pada tanggal 2 November 2008.
Lande.
2008. Anatomi dan Fisiologis Untuk
Paramedis. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Leni.
2013. Kadar Hemoglobin dan Jumlah Sel Darah Merah pada Berbagai Itik Lokal. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED.
Purwokerto.
Leni.
2013. Kadar Hemoglobin dan Jumlah Sel Darah Merah pada Berbagai Itik Lokal. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED.
Purwokerto.
Marsya.
2008. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Martini.
1998. Fundamental of Anatomy and Physiology 4th ed. Prentice Hall International
Inc. New Jersey.
Medicine
and linux. 2008. Pemeriksaan Jantung. http://medlinux.blogspot.com, diakses pada tanggal 28 April 2015
Mirna. 2013. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Mirna. 2013. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Moehadsjah, O. K. dkk. 2001. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Jilid I. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Murrary.
1999. Biokimia. EGC. Jakarta.
Nielsen.
1997. Ukuran dan Temperatur Tubuh. Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Nurcahyo,
Heru. 1998. Anatomi dan Fisiologi Hewan. UNY. Yogyakarta.
Pearce.
2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Ph.D,
Klabunde, Richard. 2007. Cardiovascular Physiology Concepts.
Prawirohartono,
Slamet. 2004. Sains Biologi. Bumi Aksara. Jakarta.
Retnosari. 2008. Anatomi
dan Fisiologis Untuk Paramedis. Jakarta, Gramedia
Rini.
2011. Anatomi Dan Fisiologi Untuk
Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Rini. 2011. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika.
Rita. 2011. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika.
Rogers,
James. 2000. Cardiovascular Physiology.http://www.nda.ox.ac.uk, diakses pada tanggal 29 April 2015.
Santi.
2003. Anatomi Dan Fisiologi Untuk
Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Satya. 2010.
Dasar-dasar Anatomi Ternak.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Saul. 2010. Histologi Umum. Jakarta, Sagung Seto.
Schmid,
K, and Friends. 1997. Animal Physiology: Adaptation and Environment. Cambridge University Press. USA.
Schmid,
K. and Friends. 1997. Animal Physiology Adaptation and Environment. Cambridge University Press. USA.
Sinta. 2007. Genetika Manusia. Gadjah
Mada University Press: Yogyakarta.
Sintia. 2010. Hemoglobin Darah. Bandung : Erlangga.
Sintia. 2010. Hemoglobin Darah. Bandung : Erlangga.
Smeltzer,
S.C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Brunner & Suddarth. Edisi 8. Vol. 2. Jakarta: EGC.
Soni. 2008. Hemoglobin Darah. Bandung : Erlangga
Subagiyo,
Edi. 2007. Perbedaan Tekanan darah Sebelum dan Sesudah Terpapar Tekanan Panas
pada Pekerja bagian Moulding Perum Perhutani Unit I Jwa Tengah Semarang. http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH01b9/fa10a15a.dir/do c.pdf.
Diaksespadatanggal 29 April 2015
Sudarmaji.
2008. Pengaruh Penyuntikan Prostaglandin Terhadap Persentase Birahi dan Angka
Kebuntingan Sapi Bali dan PO di Kalimantan Selatan. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/sudarmaji%20100102007.pdf.
Diaksespadatanggal 30 April 2015
Swenson,
M.J. 1997. Duke’s Physiology of Domestic Animal. Comstock. Publ. Co. Inc. Ithaca New York.
Tim Dosen. 2014. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi
Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi.
Tim Dosen. 2014. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi
Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi.
Wikipedia
Indinesia. 2008. Jantung.http://id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 27 2015.
Wulangi S. Kartolo. 1993.
Prinsip-prinsip fisiologo hewan. Jurusan biolobi. ITB: Bandung
Yuwanta,
Tri. 2000. Dasar Ternak Unggas. Kanius. Yogyakarta.
LAMPIRAN
Gambar Eritrosit Ayam

Gambar Eritrosit Sapi

Gambar Eritrosit Kambing

Gambar Pipet Pengencer

Tidak ada komentar:
Posting Komentar