Senin, 15 Juni 2015



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sistem kardiovaskuler merupakan salah satu sistem utama yang ada pada organisme. Sistem kardiovaskuler berfungsi untuk mempertahankan kualitas dankuantitas cairan yang ada di dalam tubuh agar tetap homeostatis. Organ-organ penyusun sistem kardiovaskuler terdiri atas jantung sebagaialat pompa utama, pembuluh darah, serta darah. Sistem kardiovaskuler yang sehatditandai dengan proses sirkulasi yang normal, apabila sirkulasi terhambat akibat keabnormalan dari organ-organ penyusun sistem kardiovaskuler ini maka akan dapat menimbulkan berbagai penyakit bahkan bisa mematikan.
Tubuh manusia tersusun atas berbagai organ penting yang saling berhubungan dan melakukan fungsinnya masing – masing. Salah satunya adalah jantung.  Jantung merupakan organ yang sangat penting bagi tubuh karena jantung membawa bahan-bahan yang mutlak dibutuhkan oleh sel-sel seluruh tubuh melalui medium darah, sehingga jantung berperan penting dalam sistem sirkulasi.
  Denyut nadi dan tekanan darah merupakan hal yang amat penting dalam bidang kesehatan pada umumnya dan khususnya di bidang Kedokteran, karena denyut nadi maupun tekanan darah merupakan faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler seseorang.
Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding pembuluh darah (arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi untuk menghasilkan daya dorong terhadap darah dan tidak boleh terlalu tinggi yang dapat menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung. Tekanan sistol adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri sewaktu darah dipompa kedalam pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel. Sedangkan tekanan diastol adalah tekanan terendah yang terjadi di arteri sewaktu darah mengalir keluar pembuluh-pembuluh hilir tersebut sewaktu relaksasi ventrikel. Tekanan arteri ini akan berubah tergantung pada volume darah dalam pembuluh dan daya regang dinding pembuluh darah.
Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dengan memasukkan kanula kedalam pembuluh darah arteri dan dimonitor dengan alat pendeteksi tekanan darahnya. Cara ini tidak lazim digunakan karena tidak mudah pelaksanaannya. Cara tidak langsung dengan menggunakan alat sphygmomanometer, yang lebih nyaman dan mudah dilakukan setiap saat.
Denyut nadi dan tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya adalah perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik.
Dengan mengamati serta mempelajari hasil pengaruh perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah, kita akan memperoleh sebagian gambaran mengenai sistem kardiovaskuler seseorang.
Manusia memiliki organ ± organ tertentu yang memiliki fungsi penting untuk kelangsungan hidupnya, tanpa organ tersebut manusia tidak dapat hidup. Organ yangmemiliki fungsi penting untuk kelangsungan hidup manusia disebut organ vital. Organvital tersebut sebagian besar terdapat pada bagian dalam tubuh, dilindungi oleh rangkatubuh manusia. Organ vital seperti organ otak merupakan bagian dari sistem saraf yang membentuk sistem koordinasi tubuh pada manusia; organ lambung, usus halus, dan usus besar merupakan bagian dari sistem pencernaan, yang berfungsi mencerna makanan yang kitamakan, mengubahnya dari bentuk kasar menjadi bentuk halus, sehingga dapat diasorbsioleh usus halus, dan hasil metabolisme makanan tersebut dapat diedarkan ke seluruhtubuh oleh darah. Jantung adalah organ vital terpenting yang berfungi memompa darah ke seluruhtubuh yang membentuk sistem peredaran darah dalam tubuh bersama pembuluh daraharteri dan pembuluhdarah vena.Selain organ ± organ yang telah disebutkan di atas masih ada lagi organ vital yangmembentuk sistem di dalam tubuh yang memiliki fungsi penting untuk kelangsunganhidup manusia.Dalam praktikum anatomi fisiologi manusia, mahasiswa dikenalkan mengenaiorgan ± organ dalam melalui alat peraga.
Denyut nadi dan tekanan darah merupakan hal yang amat penting dalam bidang kesehatan pada umumnya dan khususnya di bidang Kedokteran, karena denyut nadi maupun tekanan darah merupakan faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler seseorang.
Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding pembuluh darah (arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi untuk menghasilkan daya dorong terhadap darah dan tidak boleh terlalu tinggi yang dapat menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung. Tekanan sistol adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri sewaktu darah dipompa kedalam pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel. Sedangkan tekanan diastol adalah tekanan terendah yang terjadi di arteri sewaktu darah mengalir keluar pembuluh-pembuluh hilir tersebut sewaktu relaksasi ventrikel. Tekanan arteri ini akan berubah tergantung pada volume darah dalam pembuluh dan daya regang dinding pembuluh darah.
Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dengan memasukkan kanula kedalam pembuluh darah arteri dan dimonitor dengan alat pendeteksi tekanan darahnya. Cara ini tidak lazim digunakan karena tidak mudah pelaksanaannya. Cara tidak langsung dengan menggunakan alat sphygmomanometer, yang lebih nyaman dan mudah dilakukan setiap saat.
Denyut nadi dan tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya adalah perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik.

Dalam tubuh kita terdapat banyak aliran darah yang sering kita sebut dengan pembuluh darah. Bila pembuluh darah dipotong atau dirobek, sangat penting untuk menghentikan keluarnya darah dari sistem sebelum berakhir dengan kematian. Dari sudut mekanisme pendarahan dapat berhenti jika (1) bila tekanan darah dalam pembuluh darah lebih kecil dari pada tekanan diluar pembulu darah, keadaan tersebut dapat terjadi jika banyak darah yang tergenang disekitar pembulu darah yang robek terjadi penurunan tekanan darah secara menyeluruh (2) bila ada sumbat yang dapat menyumbat lubang pembuluh darah yang robek. Pembentukan sumbat hemostatis dari komponen-komponen darah merupakan mekanisme yang penting dalam hemostasis alamiah. Adanya gangguan terhadap homeostasis alamiah mengakibatkan pendarahan agak sukar dikendalikan seperti halnya pada hemofilia. Sumbat hemostatis mula-mula terbentuk dari agresi trombosit tetapi kemudian fibrin akan terbentuk. Fibrin yang merupakan serat-serat panjang akan membentuk jendolan lewat penjeratan sel darah merah dan sel darah putih, jendolan tadi disebut koagulum.
Pemadatan atau lebih dikenal dengan pembekuan darah mampu menghentikan semua pendarahan kecuali pada pembuluh darah yang rusak, keping darah melekat pada permukaan dalam dinding pembuluh darah tersebut. Dinding rombosit bersifat sangat rapuh dan cenderung untuk melekat pada permukaan kasar seperti pada pembuluh darah yang robek.
Pada waktu darah membeku, sebetulnya fibrin pada saat itu adalah anyaman fibrin yang menjerat sel-sel darah. Fibrin yang baru dibentuk bersifat sangat lekat, sehingga fibrin saling melekat. Selain itu, sel-sel darah, jaringan-jaringan dan benda-benda asing tertentu akan melekat pada fibrin. Sifat lekat ini sangat efektif bagi darah yang membeku. Pada darah yang baru membeku, koagulum yang baru terbentuk itu masih merupakan masa yang lunak seperti selei. Tetapi lamam kelamaan koagulum akan mengkerut sampai 40% dari volume semula dan cairan akan dibebaskan. Cairan yang dibebaskan dari koagulum tersebut disebut serum. Serum merupakan plasma tanpa fibrinogen dan faktor-faktor lain yang terlibat dalam proses pembekuan darah. Koagulum akhirnya akan bersifat agak keras, lebih padat. Kenyal dan lebih efesien sebagai sumbat. Pengerutan koagulum terjadi kurang sempurna kalau trombosit secara percobaaan diambil atau pada keadaan dimana jumlah trombosit menurun. Koagulum yang terbentuk akan segera lenyap bila pemyembuhan luka telah terjadi. Pross pemecahan atau penguraian koagoulum disebut fibrinolisis


Tujuan dan Manfaat
            Praktikum Anatomi dan Fisiologi Ternak yang berjudul fisiologi kardiovaskuler ini adalah mempelajari cara pengukuran tekanan darah secara tidak langsung. Untuk mendengar bunyi jantung. Untuk menentukan kemampuan fisik (kesehatan) seseorang dengan menilai kesanggupan jantung dan paru-parunya melalui frekuensi dengan nadi setelah melakukan suatu latihan/ kegiatan.
            Adapun manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengetahui cara pengukuran tekanan darah, mendengarkan bunyi jantung, menentukan kemampuan fisik masing-masing praktikan.
           
Didalam tubuh terdapat suatu hal yang terpenting yaitu darah. Jantung merupakan organ terpenting dalam peredaran darah,yang memiliki fungsi sebagai pemompa darah untuk dialirkan atau disirkulasikan keseluruh tubuh melalui pembuluh darah.
Darah merupakan jaringan pengikat dengan sel-selnya terendam dalam cairan matriks (plasma darah) yang terdiri dari senyawa organik dan anorganik.Ilmu yang mempelajari tentang darah disebut hematologi.
            Darah mempunyai fungsi sebagai transportasi yaitu pembawa zat-zat makanan dan oksigen ke seluruh sel di dalam tubuh, pembawa karbondioksida dan zat metabolism atau zat yang berbahaya lainnya untuk dibuang, mempertahankan lingkungan asam basa, mempertahankan homeostasis, serta sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan mikroorganisme (antigen) melalui fagostisosis dan aktivitas antibodi.
            Darah yang diperiksa agar tidak membeku dapat diberi antikoagulan. Tidak semua antikoagulan dapat dipakai karena berpengaruh terhadap bentuk eritrosit atau leukosit, yang akan diperiksa hematologinya. Antikoagulan (anti beku darah) yang umum digunakan ada 4 macam, yaitu: oxalat, natrium oksalat,heparin dan Ethylene Diamine Tetra Acetic Acids (EDTA).
Pendarahan akan berhenti ketika terjadi luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah kembali. Di tempat terjadinya pendarahan, gumpalan darah beku terbentuk, yang menyumbat dan menyembuhkan luka pada saatnya.Ini mungkin sebuah kejadian yang sederhana dan lumrah bagi Anda, namun para ahli biokimia telah menyaksikan melalui penelitian mereka bahwa hal ini sebenarnya adalah hasil dari sistem yang amat rumit yang tengah bekerja. Hilangnya satu bagian saja dari sistem ini atau kerusakan apa pun padanya akan menjadikan keseluruhan proses tidak bekerja.
Jika terjadi pendarahan, pembekuan darah harus terbentuk segera untuk mencegah makhluk hidup mengalami kematian.Selain itu, darah beku tersebut harus menutupi keseluruhan luka, dan lebih penting lagi, harus hanya terbentuk tepat di atas, dan tetap berada di atas luka tersebut. Jika tidak, seluruh darah makhluk hidup akan membeku dan menyebabkan kematian, itulah mengapa bekuan darah itu harus terjadi pada waktu dan tempat yang tepat
Pembekuan darah sangat penting tidak hanya untuk luka yang tampak, namun juga untuk robeknya pembuluh darah halus dalam tubuh kita yang terjadi sepanjang waktu.Meskipun tidak kita sadari, selalu terjadi pendarahan kecil dalam tubuh yang terus-menerus.Ketika lengan terbentur pintu atau duduk terlalu lama, ratusan pembuluh darah halus darah robek.Pendarahan tersebut segera dihentikan dengan adanya sistem pembekuan darah dan pembuluh darah halus dapat pulih sebagaimana keadaan normal.
Laju endap darah (LED) merupakan suatu pemeriksaan darah yang dapat membantu penentuan status kesehatan seekor hewan. LED ditentukan dengan mengukur jarak dalam mm yang ditempuh dalam satuanwaktu tertentu oleh lapisan teratas yang beradadi dalam tabung-tabung standar yang ditempatkan dalam posisi vertikal. Kecepatan pengendapan darah berbagai spesies hewan sangat bervariasi.
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma).
Hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada dalam darah yang diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan semprit dalam suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah tabung tersebut dipusingkan / sentripus dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka SDM akan mengendap. Dari skala Hematokrit yang tertulis di dinding tabung dapat dibaca berapa besar bagian volume darah seluruhnya. Nilai hematokrit yang disepakati normal pada laki – laki dewasa sehat ialah 45% sedangkan untuk wanita dewasa adalah 41%.
Darah merupakan jaringan pengikat dengan sel-selnya terendam dalam cairan matrik (plasma darah) yang terdiri dari senyawa organik dan anorganik. Darah terdiri atas dua komponen utama, yaitu plasma dan sel-sel darah. Plasma darah merupakan bagian darah yang padat, terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosis).
Hemoglobin merupakan pigmen eritrosit yang terdiri dari protein kompleks terkonyugasi yang mengandung besi. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan kadar hb dalam darah, yaitu metode hematin-asam, metode wong, metode cyanmethemoglobin, dan metode oksihemoglobin. Pada praktikum ini penentuan kadar hb dilakukan dengan metode hematin-asam.
Penghitungan total leukosit penting untuk diagnosa klinik, tapi akan lebih memberikan gambaran yang lengkap dengan penghitungan diferensial leukosit. Diferensial leukosit merupakan persentase setiap jumlah sel darah putih dari total leukosit. Setiap jenis sel darah putih mempunyai fungsi yang berbeda dalam melawan infeksi dan setiap penyakit menghasilkan perbedaan sel daarah putih yang di dalam darah.

1.2 Tujuan dan Manfaat
            Pada praktikum mengenai pemeriksaan hematologi mempunyai tujuan yaitu tujuan dari praktikum preparat natif darah ialah pertama, mengamati, memperhatikan bentuk sel darah (eritrosit dan leukosit) mamalia dan unggas. Kedua, mengamati, memperhatikan ada tidaknya sel yang mengalami pengkerutan (krenasi), dan bentuk rouleaux. Ketiga, mengamati ada tidaknya mikroorganisme didalam darah.
Tujuan dari praktikum Waktu perdarahan ialah untuk menentukan lama waktu perdarahan dengan metode Duke.
Tujuan dari praktikum waktu beku darah ialah untuk menentukan waktu beku darah (waktu koagulasi darah) ternak atau manusia   
Pada Laju Endap Darah tujuannya ialah untuk menentukan laju endap darah dengan tabung Watergreen.
 Sedangkan tujuan praktikum Hemolisis ialah untuk mengamati hemolisis darah dan keriput pada membran peritrosit (krenasi) akibat perubahan larutan medium darah dan menentukan batas konsentrasi NaCl dari medium dimana eritrosit mulai lisis (minimum resistance) dan hemolisis total (maximum resistance).          
Pada praktikum mengenai Hematokrit adalah menentukan nilai hematokrit (% volume eritrosit di dalam darah) dengan metode mikrohematokrit.       
Pada praktikum mengenai hemoglobin tujuannya ialah menentukan kadar hemoglobin di dalam darah menurut metode Sahli.           
Pada praktikum mengenai Menghitung Jumlah Sel Darah tujuannya ialah untuk mengetahui jumlah sel darah merah dan sel darah putih per  darah.    
Pada praktikum mengenai Diferensial Leukosit (Leukogram) tujuannya  ialah untuk mempelajari cara membuat preparat ulas/upas darah, mengamati berbagai macam bentuk sel-sel darah pada preparat darah periferr (khususnya bentuk sel darah putih), dan menghitung % jenis ssel darah putih (leukosit) pada preparat ulas darah perifer.
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah pada praktikum mengenai preparat natif darah manfaatnya ialah mahasiswa mengetahui bentuk sel darah, mengetahui ada tidaknya sel yang mengalami pengkerutan (krenasi) dan bentuk rouleaux, mengetahui ada tidaknya mikroorganisme dalam darah.
Manfaat  dari praktikum Waktu perdarahan ialah mengetahui lama waktu perdarahan dengan metode Duke.            
Manfaat  dari praktikum waktu beku darah ialah  mengetahui waktu beku darah (waktu koagulasi darah) ternak atau manusia   
Pada Laju Endap Darah manfaatnya ialah untuk mengetahui  laju endap darah dengan tabung Watergreen.           
 Sedangkan manfaat  praktikum Hemolisis ialah untuk mengetahui hemolisis darah dan keriput pada membran peritrosit (krenasi) akibat perubahan larutan medium darah dan mengetahui  batas konsentrasi NaCl dari medium dimana eritrosit mulai lisis (minimum resistance) dan hemolisis total (maximum resistance).        
Pada praktikum mengenai Hematokrit adalah mengetahui nilai hematokrit (% volume eritrosit di dalam darah) dengan metode mikrohematokrit.       
Pada praktikum mengenai hemoglobin manfaatnya ialah mengetahui kadar hemoglobin di dalam darah menurut metode Sahli.           
Pada praktikum mengenai Menghitung Jumlah Sel Darah manfaatnyanya ialah mengetahui jumlah sel darah merah dan sel darah putih per  darah.    
Pada praktikum mengenai Diferensial Leukosit (Leukogram) ialah untuk mengetahui cara membuat preparat ulas/upas darah, mngetahui berbagai macam bentuk sel-sel darah pada preparat darah periferr (khususnya bentuk sel darah putih), dan mengetahui  % jenis sel darah putih (leukosit) pada preparat ulas darah perifer.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem kardiovaskuler terdiri dari jantung dan dua sistem veaskuler, sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonalis. Jantung selanjutnya memompa darah ke kedua sistem vastikuler – sirkulasi tekanan pulmonalis lambat dimana disini terjadi pertukaran gas, dan kemudian sirkulasi sistemik, dimana darah dialirkan ke setiap organ, sesuai suplai dari permintaan metabolisme. Tekanan darah dan aliran darah berperan penting untuk mengontrol melalui nervus autonomi sistem. Dan juga berpengaruh pada pembedahan dan anatesi obat.pengetahuan yang baik tentang fisiologi kardiovaskuler merupakan kebutuhan untuk anastesi praktis yang baik (benar) (http://www.nda.ox.ac.uk, 2008).
Setiap orang tahu bahwa jantung merupakan organ vital. Kita tidak bisa hidup tanpa jantung. Bagaimanapun, jantung hanyalah sebuah pompa. Kompleks dan penting, tapi hanyalah sebuah pompa. Seperti dengan pompa-pompa yang lain jantung bisa menjadi tersumbat, kerja menurun dan membutuhkan perbaikan (adaptasi\0. Ini menjadi alasan mengapa kita perlu mengetahui tentang bagaimana keja jantung. Dengan sedikit pengetahuan tentang jantung kita dan mana yang baik dan mana yang sebaiknya atau yang buruk untuk jantung, kamu bisa setidaknya sedikit mengurangi bahaya dari ¬penyakit jantung (www.howstuffworks.com, 2008).
Peristiwa yang terjadi pada jantung berawal dari permulaan sebuah denyut jantung berikutnya disebut siklus jantung. Setiap siklus diawali oleh pembentukan potensial aksi yang spontan di dalam nodus sinus. Nodus ini terletak pada dinding lateral superior atrium kanan dekat tempat masuk vena kava superior , dan potensial aksi menjalar dari sini dengan kecepatan tinggi melalui kedua atrium dan kemudian melalui berkas AV ke ventrikel. Karena terdapat pengaturan khusus dalam sistem konduksi dari atrium menuju ke ventrikel, ditemukan keterlambatan selama lebih dati 0,1 detik ketika impuls jantung dihantarkan dari atrium ke ventrikel. Keadaan ini akan menyebabkan atrium akan berkontraksi mendahului kontraksi ventrikel, sehingga akan memompakan darah ke dalam ventrikel sebelum erjadi kontraksi atrium yang kuat. Jadi, atrium itu bekerja sebagai pompa pendahulu bagi ventrikel, dan ventrikel selanjutnya akan menyediakan sumber kekuatan utama untuk memompakan darah ke sistem pembuluh darah tubuh (Guyton, 2000).
Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol). Selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua serambi mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan. Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam serambi kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam bilik kanan. Darah dari bilik kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan. Darah yang kaya akan oksigen (darah bersih) mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke serambi kiri. Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam serambi kiri akan didorong menuju bilik kiri, yang selanjutnya akan memompa darah bersih ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru (http://id.wikipedia.org, 2008).

Otot jantung berbeda dari otot kerangka dalam hal struktur dan fungsinya. Untuk berkontraksi otot jantung tidak memerlukan stimulus sebab otot jantung memiliki sifat otomatis. Pada sel otot jantung dapat terjadi peristiwa depolarisasi secara spontan tanpa ada stimulus. Selain itu otot jantung juga memiliki sifat ritmis, peristiwa depolarisasi dan repolarisasi berjalan menurut irama tertentu (Susanto, 2012).
Jantung berongga ditemukan pada vertebrata. Jantung ini merupakan organ berotot yang mampu mendorong darah ke berbagai bagian tubuh. Jantung bertanggung jawab untuk mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep yang melengkapinya. Untuk menjamin kelangsungan sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodik. Apabila cairan tubuh berhenti bersirkulasi maka hewan mati (Isnaeni, 2006:178-179).
Otot jantung (cardiacmuscle) vertebrata hanya ditemukan pada satu tempat yakni jantung. Seperti otot rangka, otot jantung berlurik. Perbedaan utama antara otot rangka dan otot jantung adalah dalam sifat membran dan listriknya. Sel-sel otot jantung mempunyai daerah khusus yang disebut cakram berinterkalar (intercalateddisc), dimana persambungan longgar memberikan pengkopelan listrik langsung di antara sel-sel otot jantung.
Dengan demikian suatu potensial aksi yang dibangkitkan pasa satu bagian jantung akan menyebar keseluruh sel otot jantung. Dengan demikian, suatu potensial aksi yang dibangkitkan pada satu bagian jantung akan menyebar ke seluruh sel otot jantung. Dan jantung akan berkontraksi. Sel-sel otot jantung tidak akan berkontraksi kecuali dipicu oleh inpu neuron motoris yang mengontrolnya. Akan tetapi, sel-sel otot jantung dapat membangkitkan potensial aksinya sendiri, tanpa suatu input apapun dari sistem saraf. Membran plasma otot jantung mempunyai ciri pacu jantung yang menyebabkan depolarisasi berirama, yang memicu potensial aksi dan menyebabkan sel otot jantung tunggal untuk berdenyut bahkan ketika diisolasi daari jantung dan ditempatkan dalam biakan sel. Potensial aksi sel otot jantung berbeda dari potensial aksi sel otot rangka, yang bertahan sampai dua puluh kali lebih lama. Potensial aksi sel otot rangka hanya berfungsi sebagai pemicu kontraksi dan tidak menguntrol durasi kontraksi tersebut. Pada sel jantung durasi potensial aksi memainkan peranan penting dalam pengontrolan durasi kontraksi (Campbell, 2004: h. 262).
Darah yang kaya oksigen kembali ke atrium kiri jantung, dan kemudian sebagian besar di antaranya dipompakan ke dalam sirkuit sistematik. Sirkuit sistemik (systemiccircuit) membawa darah yang kaya oksigen ke seluruh organ tubuh dan kemudian mengembalikan darah yang miskin oksigen ke atrium kanan melalui vena. Skema ini,yang disebut sirkulasi ganda (doublecirculation), menjamin aliran darah yang keluar ke otak, otot, dan organ-organ lain, karena darah itu dipompa untuk kedua kalinya setelah kehilangan tekanan dalam hamparan kapiler pada paru-paru atau kulit (Campbell, 2004: h. 45).

Sistem kardiovaskuler banyak terdapat serabut-serabut saraf sistem saraf otonom yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu sistem parasimpatis dan simpatis.  Keduanya mempunyai efek yang saling berlawanan dalam kerja jantung.  Didalam persyarafan jantung terdapat 2 buah sensor utama yaitu baroreseptor dan kemoreseptor.  Baroreseptor terletak di lengkung aorta dan sinus karotikus.  Fungsinya adalah untuk menghambat aktivitas jantung dan menurunnya tekanan arteria memulai refleks kegiatan jantung.  Sedangkan kemoreseptor terletak dalam badan karotis dan badan aorta. Fungsinya untuk meningkatkan aktifitas jantung dengan adanya rangsangan dari medulla oblongata (Evelyn, 2009).
Jantung terbagi menjadi 2 atrium (atrium dextra dan atrium sinistra) dan 2 ventrikel (ventrikel dextra dan ventrikel sinistra).  Ruangan jantung bagian atas (atrium) dan pembuluh darah besar (arteria pulmonalis dan aorta) membentuk dasar jantung.  Secara anatomi, atrium terpisah terpisah dari ruangan jantung sebelah bawah (ventrikel) oleh suatu annulus fibrosus (tempat terletaknya keempat katup jantung dan tempat meletaknya keempat katup jantung dan tempat melekatnya katup maupun otot.  Jantung dibagi menjadi 2 pompa yang terpisah yaitu bagian pompa sisi kanan dan sisi kiri.  Bagian dextra memompa darah dari seluruh tubuh menuju pulmo untuk dibersihkan. Namun bagian sinistra memompa darah dari pulmo menuju seluruh tubuh (Sylvia ,2006).
Macam Peredaran Darah Peredaran darah manusia merupakan peredaran darah tertutup karena darah yang dialirkan dari dan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah dan darah mengalir melewati jantung sebanyak dua kali sehingga disebut sebagai peredaran darah ganda  yang terdiri dari peredaran darah panjang/besar/sistemik Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah yang kaya oksigen dari bilik (ventrikel) kiri jantung lalu diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen bertukar dengan karbondioksida di jaringan tubuh. Lalu darah yang kaya karbondioksida dibawa melalui vena menuju serambi kanan ( atrium ) jantung. Peredaran darah pendek/kecil/pulmonal adalah peredaran darah yang mengalirkan darah dari jantung ke paru-paru dan kembali ke jantung. Darah yang kaya karbondioksida dari bilik kanan dialirkan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis , di alveolus paru-paru darah tersebut bertukar dengan darah yang kaya akan oksigen yang selanjutnya akan dialirkan ke serambi kiri jantung melalui vena pulmonalis (Soewolo, 1999).
Darah yang mengandung banyak CO2 mengalir melalui vena cava superior (dari ekstremitas atas, cavitas thorax, cavitas abdominalis) dan inferior (dari ekstremitas bawah). Darah masuk ke atrium dexter untuk selanjutnya mengalir menuju ventrikel dexter melewati katup trikuspidal.  Kemudian darah keluar dari ventrikel untuk menuju pulmo melewati arteri pulmonalis yang memiliki katup semilunar pulmonalis untuk dibersihkan darahnya (disaring CO2 nya untuk diganti dengan O2 melalui alveolus pulmo).  Setelah dibersihkan darah keluar dari pulmo menuju atrium sinister melalui vena pulmonalis.  Setelah tiba di atrium dexter, darah akan mengalir menuju ventrikel sinister melalui katup bikuspidal.  Kemudian darah akan dipompa ke seluruh tubuh melalui aorta yang terdapat katup semilunar aorta (Wulangi, 2006).
Sistem sirkulasi berkontribusi terhadap homeostasis dalam tubuh. Sistem ini berfungsi sebagai perangkat untuk pemindahan dan penyaluran berbagai bahan dari suatu bagian tubuh ke bagian lain dengan cepat.  Tanpa sistem sirkulasi ini, zat-zat yang berguna bagi tubuh akan sampai dengan waktu yang relatif lebih lama.  Namun dengan sistem transportasi ini hanya perlu beberapa detik untuk  sampai ke tujuan melalui kerja pompa cepat jantung secara difusi sehingga organ-organ didalam tubuh akan tetap bekerja secara normal (Sherwood, 2001). 

Detak jantung akan meningkat saat seseorang berdiri, karena darah yang
kembali ke jantung akan lebih sedikit. Kondisi ini yang mungkin menyebabkan adanya peningkatan detak jantung mendadak ketika seseorang bergerak dari posisi duduk atau berbaring ke posisi berdiri(Ganong, 2002).
Tekanan sistole adalah tekanan ruangan dalam suatu bilik maksimum. Pada waktu sistole darah terpompa ke aorta, setelah darah terpompa ke aorta dinding bilik berelaksasi ruangan jantung membesar maksimum sehingga tekanannya menjadi minimum. Tekanan terendah dalam ruangan jantung akibat dari otot jantung berelaksasi disebut tekanan diastole ( Prawirohartono, 2004 ).
Debaran atau denyutan jantung atau lebih tepat debaran apex, adalah pukulan ventrikel kiri kepada dinding anterior yang terjadi selama kontraksi ventrikel. Debaran atau denyutan ini dapat diraba dan dirasakan denyutannya, dan sering terjadi dan terlihat juga pada ruang interkostal ke lima kiri, kira-kira empat sentimeter dari garis tengah sternum, misalnya ketika kita memegang dada kita, akan terasa adanya pukulan dari dalam ( Pearce, 2002 ).
Jantung mempunyai empat katub utama yang terbuat dari jaringan endokarium. Katub merupakan bangunan mirip penutup yang membuka dan menutup sebagai respon terhadap pemompaan jantung. Dengan membuka dan menutup, katub memungkinkan darah bergerak ke depan keseluruh tubuh dan paru-paru dan mencegah aliran darah kembali ( Atwood et al, 1996 ).
Standart denyut jantung pada keadaan normal tiap menit adalah sebagai berikut : kelinci 120–150 kali, marmot 120–150 kali, ayam 120–170 kali, burung merpati 100–150 kali, sapi 40–60 kali, dan domba 70–80 kali tiap menit. Denyut jantung dipengaruhi oleh kesehatan dari hewan ternak, sehingga frekuensi denyut jantungnya melambat. Dengan terganggunya kesehatan pada ternak memungkinkan adanya hormon yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga ternak mempunyai frekuensi yang dibawah normal ( Akoso, 1996 ).
Sel darah merah pada unggas (ayam) mengalami pengkerutan (krenasi). Pada pengamatan ini menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40x. hal tersebut tidak sesui dengan yang menyatakan bahwa Pada pengamatan sel darah merah pada darah mamamalia terlihat bentuk sel seperti cakram, bikonkaf, sorkular dan tidak berinti. (Arifa:2011)
Mikrajuddin (2004), yang menyatakan bahwa darah manusia ataupun hewan terdiri dari dua kompoen penting yaitu sel-sel darah dan plasma darah (cairan drah). Dimana sel-sel darah itu sendiri terdiri dari sel drah merah dan sel drah putih serta kepng drah, sedangkan cairan drah terdiri dari cairan darah (Plasma darah).
Menurut Anonim (2009), yang menyatakan bahwa susunan darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), keeping-keping darah (trombosit), dan plasma darah.
Mikrajuddin (2004), yang menyatakan bahwa darah manusi ataupun hewan terdiri dari dua kompoen penting yaitu sel-sel darah dan plasma darah (cairan drah). Dimana sel-sel darah itu sendiri terdiri dari sel drah merah dan sel drah putih serta kepng drah, sedangkan cairan drah terdiri dari cairan darah (Plasma darah).
Menurut Anonim (2009), yang menyatakan bahwa susunan darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), keeping-keping darah (trombosit), dan plasma darah. Pada praktikum ini ditemukan sel darah putih (leukosit), hal ini dikarenakan cirri-ciri dan spesifikasi leukosit yang memiliki inti atau nucleus.
Syaifuddin (2002) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik dari sel darah putih yakni memiliki inti atau nucleus serta mampu bergerak bebas dalam darah.
Watson (2002), yang menyatakan bahwa salah satu cirri dari sel darah putih tidak berwarna.
Pendarahan dapat berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit sampai beberapa jam. Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme trombosit. Vasa kontraksi timbul melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot pembuluh darah kemudian anoksia dan refleks lalu adanya serotonis yang keluar dari trombosit yang menyebabkan vasa kontraksi ( Schmid, 1997 ).
Sistem vasikuler darah terdiri atas lingkaran pembuluh yang aliran darahnya dipertahankan oleh jantung yang memompa terus menerus. Sistem arteri membentuk jalinan yang menuju kapiler yang merupakan tempat utama pertukaran gas dan metabolit antara jaringan darah, sistem vena mengembalikan darah dari kapiler ke jantung. Sebaliknya, sistem vasikuler limfe semata-mata adalah sistem drainase pasif untuk mengembalikan cairan ekstra vasikuler yang berlebihan, yaitu limfe kedalam sistem vasikuler darah   ( Burkitt et al, 1995 ).
Darah adalah suatu cairan jaringan yang beredar melalui jantung beserta pembuluhnya yang berperan dalam:
1.    Mengangkut oksigen dari alat pernapasan ke seluruh jaringan tubuh yang membutuhkan oksigen. Tugas ini dilakukan oleh hemoglobin.
2.    Sebagai benteng pertahanan tubuh dari infeksi berbagai kuman penyakit. Tugas ini dilaksanakan oleh zat antibodi, eritrosit dan leukosit.
3.    Menjaga stabilitas suhu tubuh dengan memindahkan panas yang dihasilkan oleh alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang tidak aktif.
4.    Mengatur keseimbangan asam dan basa untuk menghindari kerusakan jaringan tubuh.
( Prawirohartono, 2004 ).
Cairan darah atau sering disebut darah pada avertebrata mengandung sedikit dalam plasma darahnya. Unsur seluler darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit (platelets) dan zat-zat terlarut lainnya, misal protein plasma (albumin, fibrinogen, dan globin) ( Nurcahyo, 1998 ).
Keping darah (platelet) akan bereaksi jika terjadi luka pada pembuluh. Waktu pendarahan adalah waktu pada saat darah keluar hingga berhenti keluar. Darah yang keluar biasanya mempunyai selang waktu antara 15-20 detik. Biasanya setelah terjadi pendarahan akan terjadi koagulasi darah. Jadi waktu pendarahan sangat berkaitan dengan proses koagulasi darah ( Swenson, 1997 ).
Waktu pendarahan adalah waktu yang dibutuhkan kulit berdarah untuk berhenti estela penusukan kulit. Darah dihapus setiap 30 detik atau luka diredam dalam larutan fisiologis (Sonjaya, 2008).
Anonim (2009), waktu pendarahan adalah interval waktu mulai timbulnya tetes darah dari pembuluh darah yang luka sampai darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh darah. Penghentian pendarahan ini disebabkan oleh terbentuknya agregat yang menutupi celah pembuluh darah yang rusak. Peningkatan waktu pendarahan setelah pemberian bahan uji menunjukkan adanya efek antiagregasi platelet.
(Dsyoghi, 2010) Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik.
(Anonim, 2009) Waktu pendarahan diamati sebagai interval waktu timbulnya tetes darah dari mulai pembulh darah yang luka sampai darah terhenti mengalir keluar dari pembuluh darah. Penghentian pendarahan ini disebabkan oleh terbentuknya agregat pletelat yang menutupi calah pembuluh darah yang rusak.
Pada dasarnya plasma adalah larutan garam-garam anorganik yang secara tetap ditukarkan dengan cairan ekstra sel dari jaringan tubuh. Plasma juga mengandung protein, protein plasma, yang dapat dibedakan dalam jenis utama yaitu albumin, globulin, dan fibrinogen. Secara kolektif protein plasma menimbulkan tekanan osmotik koloid didalam sistem sirkulasi, yang membantu mengatur pertukaran larutan cair diantara plasma dan cairan ekstra sel ( Burkit et al, 1995 ).
Hemostatis merupakan peristiwa penghentian pendarahan akibat putusnya atau robeknya pembulih darah, sedangkan trombosit terjadi ketika endotelium yang melapisi pembuluh darah rusak atau hilang. Peristiwa ini mencakup pembekuan darah (koagulasi) dan melibatkan pembuluh darah, agregasi trombosit (platelet) serat protein plasma baik yang menyebabkan pembekuan maupun yang melarutkan bekuan ( Murrary, 1999 ).
Proses pembekuan darah adalah dimulai dari luka yang terdapat pada pembuluh darah. Sehingga mengenai trombosit, trombosit akan pecah dan pecahnya trombosit tersebut akan menghasilkan anzim trombokinase yang dapat mengubah protrombin menjadi trombin. Kemudian trombin yang dibentuk tersebut akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin yang berupa filamen-filamen/jala ( Ganong, 1995 ).
Keping darah (platelet) akan bereaksi jika terjadi luka pada pembuluh. Waktu pendarahan adalah waktu pada saat darah keluar hingga berhenti keluar. Darah yang keluar biasanya mempunyai selang waktu antara 15-20 detik. Biasanya setelah terjadi pendarahan akan terjadi koagulasi darah. Jadi waktu pendarahan sangat berkaitan dengan proses koagulasi darah ( Swenson, 1997 ).
Koagulasi darah adalah suatu fungsi penting dari darah untuk mencegah banyaknya darah yang hilang dari pembuluh darah yang rusak (terluka). Bagian dari darah yang sangat berperan dalam proses koagulasi adalah trombosit atau keping darah. Trombosit berasal dari sistem sel di sumsum tulang yaitu mengakarosit yang berkembang menjadi trombosit ( Nurcahyo, 1998 ).
. (Sonjaya, 2008) Waktu pendarahan biasanya dapat juga diartikan sebagai waktu ulai keluarnya tetesan darah pertama sampai tidak ada lagi noda di kertas saring atau tissue. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yaitu besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas, kadar hemaglobin dalam plasma dan kadar globulin dalam darah.
Hemofilia yaitu defisiensi herediter yang semuanyan menyebabkan kecenderungan pendarhan yang sukar dibedakan satu yang lainnya (Syaifuddin, 2002).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pendarahan yaitu besar kecilnya luka atau umur, temperature atau suhu, dalam menggunakan kertas saring yang terlalu ditekan atau dapat pula oleh kadar kalsium dalam darah. Faktor yang lainnya yaitu tingkat kesehatan setiap individu dan banyak tidaknya zat kalsium yang terkansung dalam darah (Frandson,2002).
Ariwibowo (2007), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi waktu koagulasi darah yaitu adanya pembentukan tromboplastin, adanya ion kalsium dan substansi faktor trombosit bereaksi dengan faktor anti hemofilik membentuk tromboplastin, protrombin, prokonvertin, akseleretor konversi serum protrombin dan ion kalsium.Dari data diatas juga terlihat darah masih dalam kisaran normal baik pria maupun wanita
Siregar (2005) yang menyatakan bahwa masa pembekuan normal berkisar 5-8 menit.
Proses koagulasi atau penggumpalan darah terjadi ketika luka pada tubuh mulai mengeluarkan darah. Sebuah enzim yang disebut tromboplastin yang dihasilkan sel-sel jaringan yang terluka bereaksi dengan kalsium dan protrombin di dalam darah. Akibat reaksi kimia, jalinan benang-benang yang dihasilkan membentuk lapisan pelindung, yang kemudian mengeras (Indah, 2008).
Waktu beku darah dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik Faktor ekstrinsik dapat mengaktifkan faktor-faktor intrinsik (Drake, 2005).
(Puzzy, 2009) Bekuan mulai terbentuk dalam 15 sampai 20 detik bila trauma pembuluh sangat hebat, dan dalam 1 sampai 2 menit bila traumanya kecil.
Koagulum yang terbentuk akan segera lenyap bila pemyembuhan luka telah terjadi. Proses pemecahan atau penguraian koagoulum disebut fibrinolisis ( Wulangi, 2001).
Darah adalah cairan yang terdiri atas sel darah merah dan sel darah putih beserta sel-sel yang terdapat didalam plasma darah. Sewaktu darah menggumpal, sel-sel dan material yang lain akan secara bersama-sama membentuk masa yang pekat seperti gelatin dan bagian yang berupa cairan disebut serutin. Sel darah merah memperoleh warna dari haemoglobin yaitu suatu substansi khusus pewarna darah yang berisi zat besi ( Akoso, 1996 ).
Sel darah merah (SDM) atau erythrocyte berasal dari bahasa Yunani, Crythro merah dan cyte = sel, berasal dari erythrom yang merupakan deferensiasi sel darah dalam sumsum tulang belakang. Dengan pengaruh hormon erythropoitin akan berkembang menjadi erythoid. Erythoid akan berkembang menjadi Erythoblast awal, erythoblas awal terus mengalami perkembangan menjadi erythoblast akhir kemudian berkembang menjadi retikulosit dan akhirnya menjadi erythrocyte ( Nurcahyo, 1998 ).
Erytrosit  atau sel darah merah membawa haemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah berbentuk piring yang  biconcave. Pada mamalia sel darah merah tidak bernukleus kecuali pada awal dan pada hewan hewan tertentu. Sel darah merah pada unggas mempunyai nucleus dan berbentuk elips. Sel darah merah ini terdiri dari air (65%), Hb (33%), dan sisanya terdiri dari sel stroma, lemak, mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya dan ion K ( Kusumawati, 2004 ).
Sel darah merah merupakan bagian utama dari darah. Bentuknya bikonkaf, tidak berinti, tidak dapat bergerak bebas, dan tidak dapat menembus dinding kapiler. Warna sel darah merah sebenarnya kekuning-kuningan, warna ini disebabkan oleh adanya pigmen darah yang disebut hemoglobin. Hemoglobin adalah protein rangkap yang terdiri dari hemin dan globin. Hemin adalah senyawa asam amino yang mengandung zat besi, senyawa inilah yang menyebabkan warna darah menjadi merah ( Prawirohartono, 2004 ).
Cairan darah atau sering disebut darah pada avertebrata mengandung sedikit dalam plasma darahnya. Unsur seluler darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit (platelets) dan zat-zat terlarut lainnya, misal protein plasma (albumin, fibrinogen, dan globin) ( Nurcahyo, 1998 ).
Untuk hewan yang aktivitas sehari-hari biasanya terjadi temperatur maksimum sedangkan pada malam hari akan terjadi temperatur minimum dan hal ini berlangsung sampai pagi hari. Pada hewan yang aktivitasnya pada malam hari yang terjadi sebaliknya. Thermoregulasi pada manusia berpusat pada hipothalamus antherior. Terdapat tiga komponen atau pengatur sistem pengaturan panas yaitu thermoreseptor, hypothalamus, dan saraf afferent dan efektor thermoregulasi ( Giancoli, 2001 ).
Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan langsung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi ( Martini, 1998 ).
Berdasarkan pengaruh suhu dan lingkungan, suhu hewan dibedakan menjadi dua golongan yaitu poikilotherm dan homoitherm. Hewaan poikilotherm suhunya dipengaruhi oleh suhu lingkungan, suhu organ tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu organ luar hewan yang dipengaruhi oleh suhu sekitarnya. Perbedaan suhu pada bagian-bagian ini diakibatkan oleh adanya panas yang diproduksi. Panas yang diperoleh dan panas yang dilepasakan bagian tersebut. Hewan ini disebut juga hewan berdarah dingin ( Duke, 1995 ).
Ternak pada kandang tanpa naungan mengalami cekaman atau beban panas yang lebih besar, sehingga akan melakukan aktivitas mekanisme termoregulasi melalui jalur evaporasi, baik melalui kulit maupun pernafasan, yang lebih besar jika dibandingkan dengan ternak yang berada di bawah naungan ( Arif Qisthon, 2004 ).
Guyton (2003), waktu koagulasi adalah waktu yang dibutuhkan darah untuk menggumpal dimana bervariasi untuk berbagai spesies.
Pembuluh darah yang terpotong atau rusak, maka akan terjadi penyempitan bagian yang terluka. Hal ini terjadi karena kontraksi miogenik otot polos sebagai suatu plasma lokal dan karena refleks simpatik yang merangsang serabut adrogenik yang menginversi otot polos dinding pembuluh lokal. Kontraksi ini membuat darah yang keluar dari pembuluh darah akan berkurang (Frandson, 2002).
Pendarahan dapat berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit sampai beberapa jam. Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme trombosit. Vasa kontraksi timbul melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot pembuluh darah kemudian anoksia dan reflek lalu adanya serotonis yang keluar dari trombosit yang menyebabkan vasa kontraksi (Schmid, 2007).
Kisaran waktu pendarahan yang normal untuk manusia adalah 15 hingga 120 detik. Trombosit melekat pada endotel pada tepi-tepi pembuluh yang rusak. Hal ini terjadi sampai elemen-elemen pembuluh darah yang putus menyempit. Penjedalan darah sangat penting dalam mekanisme penghentian darah (Guyton,2009).
Pembekuan darah disebut juga koagulasi darah. Faktor yang diperlukan dalam penggumpalan darah adalah garam kalsium sel yang luka yang membebaskan trompokinase, trombin dari protombin dan fibrin yang terbentuk dari fibrinogen. Mekanisme pembekuan darah adalah sebagai berikut setelah trombosit meninggalkan pembuluh darah dan pecah, maka trombosit akan mengeluarkan tromboplastin. Bersama-sama dengan ion Ca tromboplastin mengaktifkan protrombin menjadi trombin (Evelyn, 2009).
Trombin adalah enzim yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin inilah yang berfungsi menjaring sel-sel darah merah menjadi gel atau menggumpal (Poedjiadi, 2004). Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam (Frandson, 2002). Koagulasi dapat dicegah dengan penambahan kalium sitrat atau natrium sitrat yang menghilangkan garam kalsium (Schmidt, 2007).
Darah terdiri dari dua komponen, yaitu sel sel dan cairannya (plasma). Plasma tanpa fibrinogen biasa kita sebut dengan serum. Pada abad ke 18, terjadi banyak kematian pada resipien tanpa diketahui sebab sebab nya. Namun Landsteiner menemukan bahwa sel sel darah manusia dari beberapa indivisu akan menggumpal ( beraglutinasi ) dalam kelompok kelompok yang dapat dilihat dengan mata telanjang, apabila dicampur dengan serum dari beberapa orang, tetapi tidak dengan semua orang. Kemudian diketahui bahwa dasar dari menggumpalnya eritrosit tadi ialah adanya reaksi antigen antibodi. Apabila suatu substansi asing disuntikkan ke dalam aliran darah dari seekor hewan akan mengakibatkan terbentuknya antibodi tertentu yang akan beraksi dengan antigen.(Suryo, 2005)
Sel darah merah (eritrosit) membawa hemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dan dibentuk dalam sumsum tulang. Pada mamalia sel darah merah kehilangan intinya sebelum masuk sirkulasi. Pada manusia, sel darah merah hidup dalam sirkulasi 120 hari (Ganong, 297).
Darah merupakan cairan viskus yang mengalami perubahan pada fisiknya yang dapat ditemukan pada beberapa penyakit. Komposisi darah yang unik suatu suspensi sel yang dapat berubah didalam larutan yang kaya protein menghasilkan sifat fisik yang kompleks. Sebagian besar pembuluh darah, shear rates (misalnya perbedaan velositas antara lapisan cairan) sangat tinggi yang bersebelahan dengan dinding arteri besar sebaliknya shear rates yang rendah terdapat pada vena kecil (Underwood,2009).
Unsur seluler suluruh darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit, RBC atau red blood corpuscules), beberapa jenis sel darah putih (leukosit, WBC atau white blood corpuscules), dan pecahan sel yang disebut trombosit. Fungsi sel darah merah adalah untuk transfor dan pertukaran oksigen serta karbondioksida. Sedangkan sel darah putih bertanggung jawab untuk mengatasi infeksi dan trombosit untuk hemostatis (Price, 2004).
Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili Elapidae (Portal Pendidikan Biologi 2002).
Enzim penyebab hemolisis umumnya termasuk ke dalam golongan enzim lipase seperti fosfolipase. Enzim fosfolipase ditemukan pada semua bisa ular dalam beberapa bentuk dan variasi. Bisa ular family elapidae ditemukan 4 jenis fosfolipase, yaitu A1, A2, C, dan D yang diklasifikasikan berdasarkan bagian mana dari ikatan ester 3- sn fosfogliserida yang dihidrolisis (Fry 2009).
Haemoglobin adalah suatu protein yang membawa oksigen dan yang memberi warna merah pada sel darah merah (Barger, 2002:171). Dengan kata lain haemoglobin merupakan komponen yang terpenting dalam eritrosit.
Haemoglobin juga merupakan protein yang kaya zat besi yang memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxsihaemoglobin di dalam sel darah merah. Jumlah haemoglobin dalam darah normal ialah 15 gram setiap 100 ml darah, dan jamlah itu biasanya disebut “100persen”. Menurut Costill (2008:48), haemoglobin adalah zat yang terdapat dalam butir darah merah. Haemoglobin sebenarnya adalah merupakan protein globuler yang di bentuk dari 4 sub unit, dan setiap sub unit mengandung hame.
Hematokrit berasal dari kata haimat yang berarti darah, dan krinein yang berarti memisahkan. (Dep Kes RI, 2009). Hematokrit (mikro) adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen.
Nilai hematokrit digunakan untuk mengetahui nilai eritrosit rata-rata dan untuk mengetahui ada tidaknya anemi. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Nilai normal hematokrit disebut dengan %, nilai untuk pria 40-48 vol % dan untuk wanita 37-43 vol %. Penetapan hematokrit cara manual (metode mikro) dapat dilakukan sangat teliti, kesalahan metodik rata-rata ± 2 % (Gandasoebrata, 2007).
Prinsip pengukuran hematokrit cara manual (metode mikro) adalah darah vena dengan menggunakan antikoagulan, kemudian dimasukkan ke dalam tabung kapiler yang salah satu ujungnya ditutup dengan bahan khusus (malam) dan dipusingkan dengan kecepatan tertentu sehingga terjadi pemadatan sel-sel darah merah. Tingginya sel darah merah diukur dengan menggunakan skala hematokrit yang dinyatakan dalam persen terhadap seluruh darah. (wirawan, 2006).
Alat yang dipakai untuk pemeriksaan hematokrit sendiri adalah tabung mikrokapiler, tabung tersebut dibuat khusus untuk mikro hematokrit dengan panjangnya 75 mm dan diameter dalamnya 1,2 sampai 1,5 mm. Ada pula tabung yang sudah dilapisi heparin, tabung tersebut dapat dipakai untuk darah kapiler dan terdapat juga tabung kapiler tanpa heparin yang dipergunakan untuk darah oxalat atau darah EDTA dari vena (Gandasoebrata, 2007).
Cara mikro ini cepat dan mudah tetapi daya sentrifugal harus dikontrol dan posisi tabung saat membaca dengan skala harus tepat. Metode tersebut memungkinkan untuk memperkirakan volume lekosit dan trombosit yang menyusun buffy coat diantara eritrosit dan plasma, plasma harus pula diamati terhadap adannya ikterus atau hemolisis. (Frances K. Widmann, 1989).
Keuntungan pengukuran hematokrit dengan metoda mikro antara lain volume sampel darah yang digunakan sedikit, waktu pemusingan untuk mendapatkan endapan sel darah merah singkat sehingga sesuai untuk kepentingan rutin, serta dapat digunakan sampel darah kapiler yang lebih mudah.
Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili Elapidae (Portal Pendidikan Biologi 2002).
Enzim penyebab hemolisis umumnya termasuk ke dalam golongan enzim lipase seperti fosfolipase. Enzim fosfolipase ditemukan pada semua bisa ular dalam beberapa bentuk dan variasi. Bisa ular family elapidae ditemukan 4 jenis fosfolipase, yaitu A1, A2, C, dan D yang diklasifikasikan berdasarkan bagian mana dari ikatan ester 3- sn fosfogliserida yang dihidrolisis (Fry 2009).
Haemoglobin adalah suatu protein yang membawa oksigen dan yang memberi warna merah pada sel darah merah (Barger, 2002:171). Dengan kata lain haemoglobin merupakan komponen yang terpenting dalam eritrosit.
Haemoglobin juga merupakan protein yang kaya zat besi yang memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxsihaemoglobin di dalam sel darah merah. Jumlah haemoglobin dalam darah normal ialah 15 gram setiap 100 ml darah, dan jamlah itu biasanya disebut “100persen”. Menurut Costill (2008:48), haemoglobin adalah zat yang terdapat dalam butir darah merah. Haemoglobin sebenarnya adalah merupakan protein globuler yang di bentuk dari 4 sub unit, dan setiap sub unit mengandung hame.
Hematokrit berasal dari kata haimat yang berarti darah, dan krinein yang berarti memisahkan. (Dep Kes RI, 2009). Hematokrit (mikro) adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen.
Nilai hematokrit digunakan untuk mengetahui nilai eritrosit rata-rata dan untuk mengetahui ada tidaknya anemi. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Nilai normal hematokrit disebut dengan %, nilai untuk pria 40-48 vol % dan untuk wanita 37-43 vol %. Penetapan hematokrit cara manual (metode mikro) dapat dilakukan sangat teliti, kesalahan metodik rata-rata ± 2 % (Gandasoebrata, 2007).
Prinsip pengukuran hematokrit cara manual (metode mikro) adalah darah vena dengan menggunakan antikoagulan, kemudian dimasukkan ke dalam tabung kapiler yang salah satu ujungnya ditutup dengan bahan khusus (malam) dan dipusingkan dengan kecepatan tertentu sehingga terjadi pemadatan sel-sel darah merah. Tingginya sel darah merah diukur dengan menggunakan skala hematokrit yang dinyatakan dalam persen terhadap seluruh darah. (wirawan, 2006).
Alat yang dipakai untuk pemeriksaan hematokrit sendiri adalah tabung mikrokapiler, tabung tersebut dibuat khusus untuk mikro hematokrit dengan panjangnya 75 mm dan diameter dalamnya 1,2 sampai 1,5 mm. Ada pula tabung yang sudah dilapisi heparin, tabung tersebut dapat dipakai untuk darah kapiler dan terdapat juga tabung kapiler tanpa heparin yang dipergunakan untuk darah oxalat atau darah EDTA dari vena (Gandasoebrata, 2007).
Cara mikro ini cepat dan mudah tetapi daya sentrifugal harus dikontrol dan posisi tabung saat membaca dengan skala harus tepat. Metode tersebut memungkinkan untuk memperkirakan volume lekosit dan trombosit yang menyusun buffy coat diantara eritrosit dan plasma, plasma harus pula diamati terhadap adannya ikterus atau hemolisis. (Frances K. Widmann, 1989).
Keuntungan pengukuran hematokrit dengan metoda mikro antara lain volume sampel darah yang digunakan sedikit, waktu pemusingan untuk mendapatkan endapan sel darah merah singkat sehingga sesuai untuk kepentingan rutin, serta dapat digunakan sampel darah kapiler yang lebih mudah.
Erytrosit atau sel darah merah membawa haemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah berbentuk piring yang biconcave. Mamalia sel darah merah tidak memiliki nucleus kecuali pada awal dan pada hewan tertentu. Sel darah merah pada unggas mempunyai nucleus dan berbentuk ellips. Sel darah merah terdiri dari air 65%, Hb 33%, dan sisanya terdiri dari sel stoma lemak, mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya serta ion K (Kusumawati, 2004). Sel darah merah berwarna merah kekuningan. Warna merah berasal dari hemoglobin SDM dapat mengikat oksigen karena adanya hemoglobin. SDM mengkatalis reaksi antara CO2 dan air karena SDM mengandung anhidrase karbonat dalam jumlah besar. Reaksi memungkinkan darah bereaksi dengan sejumlah besar CO2 dan mengangkutnya dari jaringan ke paru-paru (Pratiwi, 2000).
Haemoglobin merupakan zat padat dalam eritrosit yang menyebabkan warna merah. Dibanding sel-sel lain, dalam jaringan eritrosit kurang mengandung air. Lipid yang terdapat pada sel darah merah ialah stromatin, limpopoterin, dan elimin. Enzim yang terdapat dalam  eritrosit antara lain anhidrase karbonat, peptidase, kolinesterase, dan enzim pada system glikolisis (Poedjiadi, 2004).
Volume total darah mamalia umumnya berkisar antara 7 sampai  8% dari berat badan. Bahan antar sel atau plasma darah, berkisara antara 45 sampai 65% dari seluruh isi darah, sedangkan sisanya 35 sampai 55% diisi sel darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan kepingan darah (trombosit). Warna merah dari darah segar disebabkan adanya hemoglobin dalam darah merah. Eritrosit mamalia dewasa tidak berinti, berbentuk cawan bikonkaf. Ukuran serta kedalaman konkafnya berbeda untuk setiap jenis.  Anjing, sapi, domba berbentuk konkaf sedang, tetapi pada kuda dan kucing bentuknya konkaf datar. Hewan peliharaan, ukuran eritrosit terbesar pada anjing 7,0 mikrometer dan terkecil pada kambing 4,1 mikrometer. Jumlah total sel darah merah yang dinyatakan dalam 1mm3  darah merefleksikan perbedaan ukurannya. Perbedaan trah (breed), kondisi, aktivitas fisik, dan umur dapat memberikan perbedaaan dalam jumlah eritrosit (Hartono, 2000).
Menurut Schmidt dan Nelson (2000), jumlah eritrosit tiap individu berbeda disebabkan oleh ukuran sel darah merah itu sendiri.
Menurut Dallman dan Brown (2001), hewan yang memiliki ukuran sel darah merah yang kecil, jumlahnya banyak. Sebaliknya hewan yang memiliki ukuran sel darah merah yang besar, jumlahnya lebih sedikit. Jumlah sel darah merah yang banyak menunjukan aktivitas pada hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak akan memiliki eritrosit dalam jumlah banyak, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi oksigen lebih banyak dimana eritrosit memiliki fungsi sebagai transpor oksigen dalam darah.
Menurut Poedjiadi (2004), kelebihan haemoglobin dari keadaan normal disebut policitaemia. Penyebabnya karena kelebihan olahraga, orang yang tinggal di daerah tinggi. Policitaemia mengakibatkan naiknya viscositas darah, kadang sampai 5 kali lipat kadang sampai memberatkan kerja jantung.
 Menurut Evelyn (2005), jika jumlah haemoglobin dalam darah berkurang disebut anemia. Penyebab anemia adalah karena kekurangan zat besi, pendarahan, kegagalan penyerapan vitamin B12, dan kekurangan oksigen dalam darah.


Delmann & Brown, 2000 Bentuk eritrosit mamalia dewasa tidak berinti, berbentuk cawan bikonkaf. Ukuran serta kedalaman bentuk konkaf berbeda untuk semua jenis. Pada anjing, sapi dan domba, bentuk konkaf sedang, tetapi pada kuda dan kucing konkafnya agak datar. Pada babi dan kambing, eritrosit berbentuk cawan datar. Bentuk eritrosit di pertahankan oleh sejenis protein kontraktil, dekat plasmalema dan terkait membentuk selaput inti utuh yang di sebut spektrin. Kelembutan serta plastisitas di sebabkan oleh matriks koloid yang memungkinkan perubahan bentuk selama ada dalam pembuluh darah sampai yang paling kecil (kapiler) tanpa menyebabkan robek atau pecahnya membran plasma. Bila setetes darah segar di taruh pada kaca sediaan, permukaan sel akan saling melekat sehingga merupakan tumpukan uang logam. Struktur yang kompleks tidak hanya menentukan bentuk eritrosit, tetapi juga sifat fisiologis dasar yang dimilikinya. Membran plasma bersifat permeabel terhadap air, elektrolit dan beberapa polisakarida, tetapi tidak untuk hemoglobin. Karenanya osmolaritas eritrosit ditentukan oleh hemoglobin. Osmolaritas plasma darah sama dengan eritrosit, maka eritrosit dan plasma darah bersifat isotonik satu sama lain .
Widodo, 2004 Laju endap darah yang ditemukan pertama kali oleh Westergren pada tahun 1921. LED merupakan pemerikksaan yang menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dengan plasma.
Barbara, 2006 Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED .
 F. D. Frandson.2000 Hal ini menyebabkan net aliran pelarut air dari cairan ke plasma darah. Akibatnya sel darah merah akan mengembang dan dapat pecah. Adanya hemoglobin dalam darah menimbulkan timbulnya warna merah dalam darah dan hemoglobin tersebut merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin merah

Gandasoebrata, 2008.Metode pemeriksaan secara mikro berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan dicentrifuge dalam jangka waktu dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah dan plasmanya terpisah dalam keadaan mapat. Prosentase volum kepadatan sel darah merah terhadap volume darah semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan hematokrit.
Prodial (2001) profil darah sapi bali menciri anemia, pada sapi-sapi yang kondisinya tidak baik yaitu leleran eksudat di vulva, demodekosis, distokia, kurus, hematuria dan diare.  
Darah memiliki dua komponen penyusun yaitu plasma dan sel darah. Plasma darah merupakan bagian dari komponen darah yang berwarna kekuning-kuningan yang jumlahnya sekitar 60% dari volume darah, sedangkan sel darah adalah komponen selluler dari darah termasuk sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (Leukosit) dan keping-keping darah (trombosit). Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang mengalir ke seluruh tubuh melalui vena dan arteri yang memasok oksigen, dan bahan makanan ke seluruh jaringan tubuh serta mengambil karbondioksida dan sisa metabolisme dari jaringan (Anonim, 2009).
Darah merupakan jaringan tubuh yang terdiri dari bagian cair (plasma) dan bahan-bahan interseluler. Plasma darah dan sel-sel darah dapat terpisah dan bebas bergerak dalam cairan interseluler. Cairan ekstrasel dalam darah mensuplay sel-sel dengan nutrisi dan zat-zat lain yang diperlukan untuk fungsi selular, tetapi sebelum digunakan zat ini harus ditransfort melalui membrane sel dengan dua proses utama yaitu difusi dan osmosis serta transfor aktif. Dinding sel eritrosit sangat permeable terhadap sifat apapun. Darah mempunyai beberapa fungsi yang penting untuk tubuh. Darah mengangkut zat-zat makanan dari alat pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari jaringan tubuh ke ginjal, dan hormon dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh (Sonjaya, 2005).
Darah merupakan cairan dengan volume yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, dan umur setiap orang atau individu. Jumlah darah dalam tubuh bervariasi tergantung pada berat tubuh seseorang. Pada orang dewasa 1/13 berat badan kira-kira 4-5 liternya adalah darah. Faktor lain yang juga menentukan banyaknya darah adalah umur, pekerjaan, keadaan jantung dan pembuluh darah. Total sirkulasi dari volume darah diperkirakan sekitar 5 s/d 8% dari total bobot badan dan angka ini bervariasi menurut umur, spesies, besar tubuh, aktivitas, status kesehatan, status gizi dankondisi fisiologi (bunting dan laktasi) (Syaifuddin, 2002).
Darah merupakan jaringan tubuh yang terdiri dari bagian cair (plasma) dan bahan-bahan interseluler. Oleh karena sel mempunyai fungsi yang sangat spesifik, sehingga sulit untuk melakukan adaptasi yang diperlukan terhadap adanya perubahan pada lingkungannya, maka internal environment harus dipertahankan dalam batas-batas fisiologis tertentu. Usaha untuk mempertahankan lingkungan disekitar sel dalam batas-batas fisiologis disebut homeostasis (Anonim, 2009).
Darah mengangkut oksigen zat-zat makanan dari alat pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari jaringan tubuh ke ginjal dan hormone dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh. Darah juga berpartisipasi dalam pengaturan kondisi asam-basa, keseimbangan elektrolit dan temperature tubuh, dan sebagai pertahanan suatu organisme terhadap penyakit. Semuanya adalah fungsi yang berhubungan dengan pemeliharaan lingkngan interna yang konstan (Sonjaya, 2005).
Darah mengalir lebih lambat dari air, ini kemungkinan disebabkan oleh visikositasnya dan sifat adhensif dari darah. Darah adalah cairan yang terdapat pada hewan tingkat tinggi yang berfungsi sebagai alat transfortasi zat seperti oksigen, bahan hasil metabolisme tbuh, pertahanan tubuh dari serangan kuman, dan lain sebagainya. Beda halnya dengan tumbuhan, manusia dan hewan level tinggi punya sistem transfortasi dengan darah. Darah membantu mengangkut zat-zat makanan yang diperlukan oleh jaringan tubuh. Darah adalah cairan berwarna merah pekat. Warnanya merah cerah di dalam arteri dan berwarna merah unggu gelap di dalam vena, setelah melapas sebagian oksigen ke jaringan dan menerima produk sisa dari jaringan (Anonim, 2009).
Pembentkan sel darah mulai terjadi pada sm-sum tulang setelah minggu ke 20 masa kehidupan embrionik. Dengan semakin bertambahnya usia janin, produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limpa semakin berkurang. Pada orang dewasa pembentukan sel darah diluar sum-sum tulang masih dapat terjadi. bila sum-sum tulang mengalami kerusakan atau mengalami fibrosis. Sampai dengan usia 5 tahun. Pada dasarnya semua tulang dapat menjadi tempat pembentukan sel darah. Dengan semakin bertambahnya usia janin, produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limpa semakin berkurang (Anonim, 2008).
Darah berbentuk cairan yang berwarna merah, agak kental dan lengket. Darah mengalir di seluruh tubuh kita, dan berhubungan langsng dengan sel-sel dalam tubuh kita. Darah manusia tersusun atas da komponen, yaitu sel-sel darah dan plasma darah (cairan darah). Sel-sel darah terdiri atas dua yaitu sel darah merah dan sel darah putih (Sonjaya, 2005).
Sel darah merah mengalami sejumlah stadium dalam perkembangannya di dalam um-sum tulang. Eritroblas adalah sel besar yang mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus. Jumlah sel darah merah bervariasi tergantung jenis kelamin, usia, dan juga ketinggian tempat orang tersebut hidup. Jumlah sel darah merah bisa berkurang misalnya karena luka yang mengeluarkan banyak darah atau karena anemia (Srikini, 2000).
Trombosit mempunyai karakteristik seperti sel pada umumnya walaupun tidak mempunyai inti dan tidak dapat melakukan reproduksi. Dalam sitoplasma trombosit berperan aktif. Membran sel trambosit diliputi oleh glikoprotein yang mencegah perlekatan dengan endothel normal, tetapi mrmudahkan perlekatan dengan endothel yang rusak. Bentuk keeping darah tidak teratur dan tidak mempunyai inti. Diproduksi pada sumsum merah, serta berperan penting pada proses pembekuan darah Membran sel juga mengandung platelet factor 3 untuk proses pembekuan darah (Anonim, 2009).
Plasma darah berguna dalam pengaturan tekanan osmosis darah sehingga dengan sendirinya jumlahnya dalam tubuh akan diatur, misalnya dengan proses ekrenasi. Plasma darah juga bertugas membawa sari-sari makanan, sisa sisa metabolisme, hasil sekresi dan beberapa gas. Serum yang bersal dari hewan tersebut , dapat disuntikkan kepada hewan yang peka terhadap penyakit yang sama untuk memberikan perlindungan paif, selama antibody itu masih berada di tubuh hewan yang peka itu (Sarkini, 2000).
Pembentukan sel darah mulai terjadi pada sm-sum tulang setelah minggu ke 20 masa kehidupan embrionik. Dengan semakin bertambahnya usia janin, produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limpa semakin berkurang. Pada orang dewasa pembentukan sel darah diluar sum-sum tulang masih dapat terjadi. bila sum-sum tulang mengalami kerusakan atau mengalami fibrosis. Sampai dengan usia 5 tahun. Pada dasarnya semua tulang dapat menjadi tempat pembentukan sel darah. Dengan semakin bertambahnya usia janin, produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limpa semakin berkurang (Anonim, 2008).
Pada sum-sum tulang terdapat sel progenitor yang merupakan penghasil semua sel darah. Nampaknya sum-sum tulang mempunyai kelompok sel yang menghasilkan sel darah tertentu, kecuali netrofil dan monosit yang nampaknya berasal dari kelompok sel yang sama. . Terbentuk 8 macam sel yang berbeda dan semua dihasilkan dari satu jenis sel batang pluripoten yang akan menurunkan 5 garis keturunan sel yang berbeda. Garis mieloblas menghasilkan tiga jenis sel granulosit sedangkan garis monoblas dan limfoblas menghasilkan sel agranulosit. Eritrosit atau sel darah merah dan trombosit dibentuk dari garis keturunannya masing-masing (Watson, R 2007).
Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organic dengan satu atom besi. Selain itu juga dapat dikatakan bahwa hemoglobin dalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transfor oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Hemglobin diukur dalam satan gram per 100 ml. Nilai normal adalah 14-16 g per 100 ml. Hemoglobin mempunyai daya tarik yang kuat terhadap oksigen. Ketika sel darah melewati paru-paru, hemoglobin akan bergabng dengan oksigen dari udara dan warnanya menjadi cerah (Watson, 2007).
Sel darah merah mengalami sejumlah stadium dalam perkembangannya di dalam um-sum tulang. Eritroblas adalah sel besar yang mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus. Jumlah sel darah merah bervariasi tergantung jenis kelamin, usia, dan juga ketinggian tempat orang tersebut hidup. Jumlah sel darah merah bisa berkurang misalnya karena luka yang mengeluarkan banyak darah atau karena anemia (Srikini, 2000).
            Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih atau leukosit berukuran lebih besar daripada sel darah merah, diameternya sekitar 10µm, dan jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit per liter darah dan jumlah in bias meningkat sampai 30 X 109 per liter darah bila ada infeksi di dalam badan. Penngkatan ini dikenal sebagai leukositosis (Watson, R 2007).
Nelson (2000) yang menyatakan bahwa jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila terjadi perubahan dan atau pada waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan.Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri.
            Sel darah merah tidak memiliki nucleus, tetapi berisi suatu protein khusus yang disebt hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu pigmen berwarna kuning, tetapi efek keseluruhan hemoglobin adalah membuat darah berwarna merah. Hemoglobin mengandung sejumlah kecil besi dan besi ini esensial bagi kesehatan, meskipun jumlah totalnya di dalam darah dikatakan hanya cukup untuk membat paku sepanjang 2 inci. Dalam kondisi sehat, hamper semua sel darahmerah di dalam darah seharusnya berbentuk eritrosit, dengan hanya sedikit retikulosit. Banyak factor yang menentukan pembentukan normal sel darah merah (Watson, R 2007).
            Eritroblas adalah sel besar yang mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus. Pada stadium ini sel tersebut disebut retikulosit, akhirnya, benag-benang menghilang dan menjadi eritrosit matang yang segera dilepas ke aliran darah (Anonim, 2009).
            Sel darah merah diproduksi di dalam sum- sum merah pada tulang spongiosa, yang terdapat pada ujung tulang panjang dan didalam tulang pipih dan tidak regular (Anonim, 2009)
Keping-keping darah berkerut pada pembuluh darah luka dimana trombosit melepaskan satu bahan yang membatasi kehilangan darah sebelum koagulasi (pembekuan darah) terjadi. Pada kuda jumlahnya berkisar antara 110.000 – 300.000 per mm3 dengan rataan 170.000 (Sonjaya, 2005).
Trombosit atau keeping darah merupakan sel yang berbentuk oval dengan diameter 2µm.Dibentuk di sum-sum tulang dari megakariosit, dan dalam sirkulasi jumlahnya mencapai300.000/micron-L. (Anonim, 2009).
Pada anemia sel sabit, akantositosis, sferositosis serta poikilositosis berat, laju endap darah tidak cepat, karena pada keadaan-keadaan ini pembentukan rouleaux sukar terjadi. Pada polisitemia dimana jumlah eritrosit/µl darah meningkat, Laju Endap Darah (LED) normal (Anonim, 2009)
Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Larutan yang mempunyai tekanan osmotik yang sama yaitu larutan isotonik. Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih besar dari pada larutan lain disebut larutan hipertonik, sedangkan larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih rendah dari pada larutan lain disebut larutan hipotonik. Membran sel hidup merupakan selaput semipermiabel. Bila sel ditempatkan dalam larutan yang tekanan osmotiknya lebih tinggi (hipertonik), air dalam sel akan keluar sehingga sel berkeriput dan proses ini disebut plasmolisis. Sebaliknya apabila sel ditempatkan dalam larutan yang tekanan osmotiknya lebih rendah (hipotonik), air dari luar akan masuk ke dalam sel dan menyebabkan sel membengkan dan proses ini disebut plasmotipse (Sumardjo, 2009).
Tonisitas merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh larutan terhadap bentuk sel menurut hukum osmosis. Larutan disebut isotonik terhadap cairan sitoplasma sel jika memiliki konsentrasi yang sama dengan konsentrasi partikel yang tidak dapat berdifusi. Air tidak akan berosmosis ke dalam atau ke luar sel. Larutan disebut hipotonik terhadap sel jika larutan lebih encer dibandingkan isi sel. Gerakan air ke dalam sel dapat menyebabkan sel membengkak hingga akhirnya pecah. Larutan disebut hipertonik terhadap sel jika larutan tersebut lebih kental dibandingkan dengan isi sel. Pergerakan air keluar sel menyebabkan sel berkerut atau biasa disebut dengan krenasi (Sloane, 2004).
Darah adalah suatu jaringan yang terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit yang terendam dalam plasma darah cair. Darah beredar dalam sistem vaskular, mengangkut oksigen dari paru-paru dan nutrien dari saluran cerna ke jaringan lain di seluruh tubuh. Darah juga membawa karbon dioksida dari dari jaringan ke paru-paru dan limbah bernitrogen ke ginjal untuk dikeluarkan dari tubuh. Salah satu bagain atau komponen darah adalah sel darah merah (eritrosit). Eritrosit adalah korpuskula darah yang memberi warna merah pada darah. Eritrosit sangat lentur. Bentuk erotrosit dipengaruhi oleh osmolaritas media sekitarnya. Pada larutan hipotonik sedang, eritrosit membengkak. Dalam larutan yang lebih hipotonik eritrosit membengkak dan membran selnya pecah sehingga hemoglobin keluar sel. Pecahnya eritrosit hipotonik disebut hemolisis (Fawcet dan Bloom, 2002).
Darah dapat dibuat preparat apus dengan metode supra vital yaitu suatu metode untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang hidup. Sel-sel darah yang hidup dapat mengisap zat-zat warna yang konsentrasinya sesuai dan akan berdifusi ke dalam sel darah tersebut, selanjutnya zat warna akan mewarnai granula pada sel bernukleus polimorf (Anonim, 2012).
Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai berbagai unsur sel darah tepi seperti eritosit, leukosit, dan trombosit dan mencari adanya parasit seperti malaria, tripanasoma, microfilaria dan lain sebagainya. Sediaan apus yang dibuat dan dipulas dengan baik merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil yang baik (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Dasar dari pewarnaan Romanowsky adalah penggunaan dua zat warna yang berbeda yaitu Azur B (Trimetiltionion) yang bersifat basa dan eosin y (tetrabromoflurescein) yang bersifat asam. Azur B akan mewarnai komponen sel yang bersifat asam seperti kromatin. DNA dan RNA. Sedangkan eosin y akan mewarnai komponen sel yang bersifat basa seperti granula eosinofil dan hemoglobin. Ikatan eosin y pada Azur B yang bergenerasi dapat menimbulkan warna ungu, dan keadaan ini dikenal sebagai efek Romanowsky giemsa efek ini sangat nyata pada DNA tetapi tidak pada RNA sehingga menimbulkan kontras antara inti yang berwarna untuk sitoplasma yang berwarna biru (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler  atau vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada keadaan tertentu dapat pula digunakan darah EDTA. (Arjatmo Tjokronegoro, 1996)

Darah merupakan medium transport dalam tubuh. Darah tersusun atas dua komponen, yaitu plasma darah dan sel darah. Plasma darah merupakan bagian yang cair dan terdiri atas air, elektrolit dan protein darah. Sel darah terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit. Sel darah merah (erotrosit) merupakan cairan bikonkaf dengan diameter sekitar 7 mikron. Eritrosit dapat mengalami lisis. Proeses penghancuran eritrosit terjadi karena proeses patologis atau penambahan larutan yang tidak sesuai dengan konsentrasi dan tekanan osmotik darah (hemolisis). Hemolisis yang terjadi pada eritrosit akan mengakibatkan terurainya komponen hemoglobin menjadi dua, yaitu komponen protein dan heme. Komponen protein yaitu globin yang akan dikembalikan ke pool protein dan dapat digunakan kembali. Komponen heme akan dipecah menjadi dua, yaitu besi yang masih bisa digunakan dan bilirubin yang kan diekskresikan (Handayani dan Haribowo, 2008).
Hemolisis merupakan suatu keadaan yang menunjukkan pecahnya membran sel darah merah (eritrosit) yang menyebabkan hemoglobinkeluar, karena sel darah merah didedahkan dalam medium atau larutan yang bersifat hipotonis. Hemolisis dapat pula diartikan peningkatan destruksi eritrosit yang disertai peningkatan produksi eritrosit. Diagnosis banding hemolisis dapat dikelompokkan berdasarkan penyebab intrinsik dan ekstrinsik hemolisis. Penyebab intrinsik ditandai dengan adanya kelainan pada eritrosit, termasuk kelainan membran, hemoglobin dan enzim. Penyebab hemolisis ekstrinsik ditandai dengan sel eritrosit abnormal, disertai proses ekternal yang menyebabkan hemolisis (Schwartz, 2005).
Hemoglobin merupakan protein yang mengandung zat besi dan memiliki afinitas terhadap oksigen untuk mmebentuk oksihemaglobin didalam eritrosit. Dari mekanisme tersebut dapat berlangsung proses distribusi oksigen dari pulma menuju jaringan (Pearce, 1991).
Hemoglobin adalah metalprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.  Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan (Evelyn, 2009).
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang akan digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
  Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah.  Hemoglobin adalah kompleks protein-pigmen yang mengandung zat besi. Kompleks tersebut berwarna merah dan terdapat didalam eritrosit. Sebuah molekul hemoglobin memiliki empat gugus haeme yang mengandung besi fero dan empat rantai globin (Brooker, 2001).
Dalam system sirkulasi darah merupakan bagian penting yaitu dalam transport oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagiancair yaitu berupa plasma darah dan serum. Bagian padatnya yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).(Dep Kes, 1989).
Hematokrit berasal dari kata haimat yang berarti darah, dan krinein yang berarti memisahkan (Dep Kes RI, 1989)
Darah adalah cairan yang berwarna merah yang terdapat dalam pembuluh darah. Volume darah manusia ± 7 % dari berat badan atau ± 5 liter untuk laki–laki dan 4,5 liter untuk perempuan. Penyimpanan darah dapat dilakukan dengan memberikan natrium sitrat atau natrium oksalat, karena garam–garam ini menyingkirkan ion–ion kalsium dari darah yang berperan penting dalam proses pembekuan darah (Abbas, 1997).
Darah merupakan suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut dengan plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interselular yang berbentuk plasma. Secara fungsional darah merupakan jaringan pengikat yang dalam artiannya menghubungkan seluruh bagian-bagian dalam tubuh sehingga merupakan integritas. Darah yang merupakan suspensi tersebut terdapat gen, dimana gen merupakan ciri-ciri yang dapat diamati secara kolektif atau fenotifnya dari suatu organisme. Pada organisme diploid, setiap sifat fenotif dikendalikan oleh setidak-tidaknya satu pasang gen dimana satu pasang anggota tersebut diwariskan dari setiap tertua. Jika anggota pasangan tadi berlainan dalam efeknya yang tepat terhadap fenotifnya, maka disebut alelik. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen tunggal, misalnya gen yang mengendalikan sifat keturunannya (Subowo. 1992).
Darah mempunyai fungsi antara lain: mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, mengangkut karbondioksioda dari jaringan tubuh ke paru-paru, mengangkut sari-sari makanan ke seluruh tubuh, mengangkut sisa-sisa makanan dari seluruh jaringan tubuh ke alat-alat ekskresi, mengangkut hormon dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu, mengangkut air untuk diedarkan ke seluruh tubuh, menjaga stabilitas suhu tubuh dengan memindahkan panas yang dihasilkan oleh alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang tidak aktif, menjaga tubuh dari infeksi kuman dengan membentuk antibodi (Abbas, 1997).
Penggumpalan darah terjadi karena fibrinogen (protein yang larut dalam plasma) diubah menjadi fibrin yang berupa jaring-jaring. Perubahan tersebut disebabkan oleh trombin yang terdapat dalam darah sebagai pritrombin. Pembentukan trombin dari protrombin tergantung pada adanya tromboplastin dan ion Ca2+ (Poejadi, 1994). Darah mempunyai fungsi antara lain: mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, mengangkut karbondioksioda dari jaringan tubuh ke paru-paru, mengangkut sari-sari makanan ke seluruh tubuh, mengangkut sisa-sisa makanan dari seluruh jaringan tubuh ke alat-alat ekskresi, mengangkut hormon dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu, mengangkut air untuk diedarkan ke seluruh tubuh, menjaga stabilitas suhu tubuh dengan memindahkan panas yang dihasilkan oleh alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang tidak aktif, menjaga tubuh dari infeksi kuman dengan membentuk antibodi (Abbas, 1997).
Golongan darah pada manusia bersifat herediter yang ditentukan oleh alel ganda. Golongan darah seseorang dapat mempunyai arti yang penting dalam kehidupan. Sistem penggolongan yang umum dikenal dalam sistem ABO. Pada tahun 1900 dan 1901 Landstainer menemukan bahwa penggumpalan darah (Aglutinasi) kadang-kadang terjadi apabila eritrosit seseorang dicampur dengan serum darah orang lain. Pada orang lain lagi, campuran tersebut tidak mengakibatkan penggumpalan darah.
Darah merupakan suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut dengan plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interselular yang berbentuk plasma. Secara fungsional darah merupakan jaringan pengikat yang dalam artiannya menghubungkan seluruh bagian-bagian dalam tubuh sehingga merupakan integritas. Darah yang merupakan suspensi tersebut terdapat gen, dimana gen merupakan ciri-ciri yang dapat diamati secara kolektif atau fenotifnya dari suatu organisme. Pada organisme diploid, setiap sifat fenotif dikendalikan oleh setidak-tidaknya satu pasang gen dimana satu pasang anggota tersebut diwariskan dari setiap tertua. Jika anggota pasangan tadi berlainan dalam efeknya yang tepat terhadap fenotifnya, maka disebut alelik. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen tunggal, misalnya gen yang mengendalikan sifat keturunannya (Subowo. 1992).
Bila sel darah merah dimasukkan kedalam laritan NaCl 0, 3 %, semua sel darh merah akan mengalami hemolisa sempurna. (Wulangi, 1993: 43)
Yang kedua, hemolisis kimiawi membran sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti, kloroform, aseton, alkohol, benzena dan eter, substansi lain adalah bisa ular, kalajengking, dan garam empedu,. (wulangi, 1993: 43).
Portal Pendidikan Biologi (2002).Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular  famili Elapidae.
Sarkar & Devi (1968)Hemolisis secara langsung tidak dibutuhkan penambahan lesitin sedangkan hemolisis tidak langsung kehadiran lesitin pada sel darah merah atau penambahan dari luar sangat diperlukan.Secara umum, mekanisme hemolisis berlangsung dua tahap.Tahap pertama lesitin dalam sel darah atau yang ditambahkan dari luar akan diubah menjadi lisolesitin oleh lesithinase A.  Lisolesitin merupakan bentuk lesitin yang  memiliki aktivitas hemolitik. Selanjutnya, lisolesitin menyebabkan sel darah merah lisis dengan menyerap material lemak dinding sel  sehingga merusak keutuhan struktur sel darah.


           



     


BAB III
MATERI DAN METODA
3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum anatomi dan fisiologi ternak di laksanakan pada hari Sabtu,28 Maret sampai dengan 25 April 2015 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai bertempat di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

3.2 Materi
            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum anatomi dan fisiologi ternak adalah Pada praktikum fisiologi kardiovaskuler alat dan bahan digunakan dalam praktikum ini adalah praktikan, sphygmomanometer, stetoskop, cuff, manometer merkuri, arloji tangan, bangku setinggi 50 cm, treadmill dan stopwatch.
Pada praktikum mengenai preparat natif darah alat dan bahan yang digunakan ayaitu: jarum penusuk pembuluh darah, kapas, tissue,kaca benda (object glass),cover glass(kaca penutup),mikroskop, alkohol 70%, larutan garam faali (NaCl fisiologis/NaCl 0.9%), darah sapi,kambing dan ayam yang sudah diberi antikoagulan.
            Pada praktikum mengenai waktu perdarahan alat dan bahan yang digunakan adalah kapas atau tissue, lanset steril, alkohol 70%, ujung jari praktikan.
            Pada praktikum mengenai waktu beku darah alat dan bahan yang digunakan adalah lanset steril, jarum pentul, gelas arloji berlapis paraafin, pipa kapiler tanpa heparin,kapas alat pencatat waktu (stopwatch atau arloji tangan), alkohol 70%.
            Pada praktikum mengenai Laju Endap Darah (LED) alat dan bahan yang digunakan adalah tabung westergreen dengan raknya, darah sapi,kambing, dan ayam yang sudah diberi antikoagulan.
            Pada praktikum mengenai hemolisis dan ketahanan osmotik eritrosit alat dan bahan yang digunakan adalah tabung reaksi (10 buah), object glass, cover glass, pipet Pasteur , mikroskop, larutan NaCl dengan konsentraasi 0.9%, 0.65%, 0.45%, 0.25%, dan 3.0%, larutan 1% urea dalam aquades, larutan, 1% urea dalam NaCl 0.9%, larutan 1% saponin dalam aquades, larutan 1% saponin dalam NaCl 0.9%, darah sapi,kambing, dan ayam yang sudah diberi antikoagulan.
            Pada praktikum mengenai Hematokrit alat dan bahan yang digunakan adalah pipa kapiler, sntrifus, chrysta seal, lilin atau sabun, reader hematokrit, darah sapi, kambing, dan ayam yang sudah diberi antikoagulan.
            Pada praktikum mengenai hemoglobin alat dan bahan yang digunakan adalah hemometer sahli terdiri dari tabung sahli, pipet sahli, standar warna pengaduk, darah sapid an ayam yang telah diberi antigoagulan EDTA, HCl 0.1 N dan aquades, kertas saring/tissue, pipetpasteur, pengukur waktu.
            Pada praktikum mengenai menghitung jumlah sel darah alat dan bahan yang digunakan adalah Hemocytometer Naubauer Improved, pipet pengencer untuk eritrosit berskala 0-0.5-1 -101, pipet pengencer untuk leukosit berskala 0 -0.5 -1 -11, darah sapi, ayam, kambing yang sudah diberi antikoagulan, larutan pengencer:larutan hayem untuk eritrosit, larutan turk untuk leukosit mamalia, dan larutan BCB (Briliant Cresyl Blue) untuk unggas.
            Pada praktikum mengenai Diferensial Leukosit (Leukogram) alat dan bahan yang digunakan adalah object glass, bak celup untuk fiksasi dan bak celup untuk  pewarnaan, diferensial counter, mikroskop, darah sapi, kambing, ayam yang sudah diberi antikoagulan, methanol absolute, larutan giemsa, aquadest, minyak emersi.

3.3 Metoda
            Adapun cara atau metoda yang digunakan pada praktikum anatomi dan fisiologi ternak mengenai  pemeriksaan tekanan darah ini adalah Cuff dililitkan pada lengan atas dan stetoskop ditempelkan dibagian cuff tepat pada pembuluh darah lengan, cuff dipompa sampai kira-kira diatas tekanan sistolik. Tekanan pada cuff yang tinggi ini akan menyebabkan aliran pada arteri terhenti, kemudian  secara perlahan tekanan pada cuff dikurangi. Dengan demikian, pada saatnya akan membuka aliran arteri. Pada saat ini aliran darah akan mengalir cepat dan tiba-tiba, sehingga akan menghasilkan suatu getaran atau suara (disebut tekanan sistolik darah) yang bisa didengarkan dengan stetoskop. Pada penurunan tekanan cuff selanjutnya masih akan tetap terdengar getaran atau suara sampai pada suatu saat akan berhenti sama sekali. Pada saat berhentinya suara tersebut disebut tekanan diastolic darah.
Adapun cara kerja pada praktikum bunyi jantung adalah letakan stetoskop di dada bagian kiri. Dengarkan menggunakan stetoskop denganrkan suara jantung teman saudara.
Cara kerja pada test kemampuan fisik pengiraan kemampuan VO2 max (ml/kg/min) dengan cara praktikan berlari selama 12 menit untuk menempuh jarak tertentu menurut kemampuannya.
Test Schneider dilakukan dengan cara pratikan berbaring/ bersandar selama 5 menit, kemudian ukur denyut nadi dan ulangi sampai 2 kali. Berdiri santai selama 2 menit kemudian ukur denyut nadi sama seperti di atas. Kemudian lakukan kegiatan sebagai berikut : berdiri diatas kursi yang tingginya 45 -50 cm. selama 2 menit, setelah itu berdiri dengan satu kaki yang dilakukan secara berantian selama 3 menit, hitung denyut nadi selama 15 detik, untuk mendapatkan denyut nadi permenit maka denyut nadi yang diukur selama 15 detik harus di kali 4, hasil perhitungan denyut nadi cocokan dengan skor dalam tabel skor Schneider, bagaimanakah status fisiologis pratikan berdasarkan hasil skor Schneider.
Test Harvard Step dengan caara lambat dilakukian dengan cara pratrikan melakukan kegiatan naik turu bangku dengan irama 30 kali dalam 1 menit (satu kali naik turun bangku 2 detik). Percobaan ini tidak boleh lebih dari 5 menit (gunakan waktu maksimal 5 menit). Sesudah latihan ini, pratika duduk dan denyut nadinya dihitung berturut-turut selama 30 detik, yaitu dari 1 menit sampai 1 menit lebih 30 detik dan 3 menit sampai 3 menit lebih 30 detik. Selanjutnya kemampuan fisik pratikan dihitung.
Harvard Step dengan cara cepat dilakukan dengn cara seperti padacara lamba, tetapi disini hanya di tetapkan bilangan nadi berhitung satu kali saja, yaitu selama 30 detik setelah percobaan selesai dari 1 menit sampai 1 menit 30 detik.
Adapun cara kerja yang digunakan dalam praktikum anatomi dan fisiologi ternak mengenai fisiologi darah adalah pada praktikum mengenai prepatif  natif darah yaitu: bersihkan alat-alat yang akan digunakan, bersihkan ujung jari praktikan atau lokasi pengambilan darah pada ternak dengan alkohol 70%. Bila perlu bulu yang terdapat di lokasi pengambilan darah  dibersihkan terlebih dahulu, teteskan 1-2 tetes larutan fisiologis (NaCl 0.9%) pada object glass, tusuk ujung jari praktikan atau pembuluh darah ternak dengan jarum penusuk, ambil darah kemudian  teteskan pada object glass yang sudah diberi larutan fisiologis, campur dengan hati-hati dan tutup dengan cover glass, amati dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x , lakukan hal yang sama dengan menggunakan darah sapi ayam dan kambing yang sudah diberi antikoagulan,gambarkan hasil pengamatan saudara, apabilaarah mulai keluar  sudah selesai alat harus dibersihkan kembali.
            Pada praktikum mengenai waktu perdarahan cara kerjanya yaitu bersihkan ujung jari dengan alkohol 70% kemudian bersihkan/lap dengan kapas atau tissue bersih, tusuk jari dengan lanset steril hingga mengeluarkan darah, catat waktu dari saat darah mulai keluar sampai pendarahan berhenti dan usaplah darah tersebut dengan kapas/tissue, biarkan darah keluar lagi, lakukan kegiatan tersebut setiap 30 detik sampai darah tidak keluar atau terhenti, dan catat waktunya, catat waktu perdarahan (waktu ke satu) sampai perdarahan berhenti (waktu kedua).
           
     Adapun cara kerja pada praktikum Hemolisis adalah beri kode pada setiap tabung, isi tabung tersebut masing- masing 5 ml larutan tersebut, tambahkan 3 tetes darah kedalam setiap tabung dan biarkan selama 30 menit. Periksa / amati warna dan kekeruhan larutan di dalam tabung. Warna merah cerah menunjukan adanya hemolisis. Warna keruh belum tentu tidak terjadi perubahan,kemungkinan sebagian sel mengalami hemolisis atau perubahan lainnya. Untuk memastikan terjadinya hemolisis lakukan secara mikroskopis, lalu catat hasil pengamatan tersebut.
Adapun cara kerja pada praktikum Hematokrit adalah darah dihisap dengan pipa kapiler jarak 1 cm, dari ujung bagian atas. Sumbat ujung pipa dengan crystal seal. Tembatkan pipa kapiler dalam sentrifus dengan kecepatan 12.034 rpm selama 5 menit. Keluarkan pipa dari sentrifus dan baca nilai hematokritnya dengan menggunakan reader hematokrit.
Adapun cara kerja pada praktikum Menghitung Jumlah Sel Darah adalah pada menghitung sel darah merah yaitu hisap darah dengan pipet untuk eritrosit sampai angka 0,5.bersihkan ujungnya dengan kertas saring/tissue. Segera hisap larutan hayem sampai angka 101 ,dengan demikian darah diencerkan 200 kali. Pengenceran ujung-ujung pipet dengan ibu jari dan telunjuk atau jari tengah kemudian kocoklah denganmemutar-mutar pergelangan tangan membentuk angka 8,supaya yang tercampur hanya cairan yang terdapat didalam pipet yang menggelembung. Buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah merah (2-3 tetes), isikan kedalam kamar hitung yang sudah ada kaca penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung denagan penutup , hitung sel darah pada kamar hitung (5 bujur sangkar kecil) dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x atau 40x.Pengenceran didalam pipet erirosit adalah 200 kali. Kedalam kamar hitung 0.1 mm, jadi harus dikali 10. Sel darah merah dihitung pada 5 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1/25 mm², jadi untuk menghitung jumlah sel darahdalam 1mm² maka harus dikali kan 5. Dengan demikian faktor pengaliannya adalah : 200x10x5=10.000. Apabila jumlah sel darah merah yang terhitung E, maka total sel darah merah per mm²= Ex10.000. Adapun cara atau metoda yang digunakan pada menghitung sel darah putih yaitu hisap darah dengan pipet untuk leukosit sampai angka 0,5.bersihkan ujungnya dengan kertas saring/tissue. Segera hisap larutan turk untuk mamalia dan BCB untuk unggas sampai angka 11 ,dengan demikian darah diencerkan 20 kali. Pengenceran ujung-ujung pipet dengan ibu jari dan telunjuk atau jari tengah kemudian kocoklah denganmemutar-mutar pergelangan tangan membentuk angka 8,supaya yang tercampur hanya cairan yang terdapat didalam pipet yang menggelembung. Buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah merah (2-3 tetes), isikan kedalam kamar hitung yang sudah ada kaca penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung denagan penutup , hitung sel darah pada kamar hitung (5 bujur sangkar kecil) dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x atau 40x. Penenceran didalampipet leukosit adalah 20 kali. Kedalam kamar hitung 1/10 mm. Sel darah putih dihitung pada 4 bujur sangkar yang masin-masing berukuran 1 mm². Untuk menghitung sel darah 1 mm² maka faktor pengaliannyaadalah: 20x10x1/4=50. Apabila jumlah sel darah putih yang dihitung pada 4 bujur sangkar adalah L, maka total sel darah putih per mm² darah Lx50.
Adapun cara kerja pada praktikum Hemoglobin adalah isikan HCL 0,1 N (± 5 tetes) kedalam tabung sahli sampai angka 10 (garis paling bawah). Hisaplah darah dengan pipetsahli sampai angka 20 µl. Bersihkan darah yang menempel pada ujung pipet sahli dengan kertas saring/tissue, kemudian masukkan darah tersebut kedalam tabung sahli yang sudah berisi HCL 0,1N. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara. Biarkan beberapa saat sampai warna coklat terbentuk. Tambahnkan setetes deme setetes aquades sambil aduk sampai warna sesuai dengan batang standar. Persamaan warna dengan batang standar harus diacapai dalam waktu 3-5 menit setlah darah dan HCL dicampur. Bacalah tinggi permukaan cairan tabung sahli. Angka yang terbaca menunjukkkan kadar Hb dari sampel  darah tersebut.
Adapun cara kerja pada praktikum Diferensial Leukosit adalah siapkan 2 buah gelas objek dalam keadaan bersih, pegang ujung sebuah objek glass dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, atau letakan objek glass diatas meja yang rata, letakkan satu tetes darah pada ujung object glass (sebelah kanan) dengan tangan kanan pegang objek glass lain, lalu letakkan ujung objek glass pada ujung objek glass yang sudah di tetesi darah membentuk sudut 30, gerakkan object glass (tangan kanan) kebelakang sampai menyinggung tetesan darah hingga darah menyebar sepanjang sudut, antara kedua object glass tersebut. Dorong kedepan object glass di tangan kanan setelah darah menyebar. Maka terbentuk preparat ulas darah yang tipis, preparat dikeringkan lalu lakukan pewarnaan. Cara untuk mewarnai preparat dengan warna giemsa adalah preparat ulas darah yang sudah di keringkan di fiksasi dengan memasukkan ke dalam methanol selama 5 menit, angkat dan biarkan kering di udara, kemudian masukkan ke dalam larutan gimsa biarkan 30 menit, angkat preparat dan bilas kelebihan zat warna dengan menggunakan air kran yang mengalir. Keringkan di udara dengan menggunakan kertas hisap dan perlahan ditekan. Periksa preparat yang sudah di warnai dengan mikroskop (pembesaran 100x), sebelumnya preparat ulas ditetesi minyak emersi. Perhitungan leukosit sampai 100 sel dengan menggunakan diferensial counter.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Fisiologi Kardiovaskuler
4.1.1 Pemeriksaan Tekanan Darah
Tabel Pemeriksaan Tekanan Darah
Praktikum
Hasil Dari Praktikum
Tekanan Darah
KLP
Hasil
Interprestasi
1
100/80 mmHg
Normal
2
90/80 mmHg
Rendah
3
110/100 mmHg
Normal
4
100/100 mmHg
Normal
5
110/110 mmHg
Normal
6
130/110 mmHg
Normal
7
120/90 mmHg
Normal
8
70/100 mmHg
Normal
9
130/110 mmHg
Normal
10
125/70
Normal
11
130/110
Normal

Pada pemeriksaan tekanan darah pada saudara Idris Anggara Tampubolon memiliki tekanan darah 110/100 mmHg. Yakni tekanan systole 110 mmHg dan tekanan diastole 100 mmHg.Maka dapat disimpulkan bahwa tekanan darah pada saudara Idris normal.
Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol). Selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua serambi mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan. Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam serambi kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam bilik kanan. Darah dari bilik kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan. Darah yang kaya akan oksigen (darah bersih) mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke serambi kiri. Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam serambi kiri akan didorong menuju bilik kiri, yang selanjutnya akan memompa darah bersih ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru.
Pada diastole terjadi hal sebaliknya, dimana diastole merupakan suatu fasesaat atrium kontraksi serta ventrikel relaksasi. Pada fase ini darah yang berasaldari daerah tubuh bagian atas melalui vena cava superior dan darah dari tubuh bagian bawah melalui vena cava inferior akan masuk pada atrium dexter. Pada saat terjadi kontraksi atrium terjadi tekanan yang lebih besar pada ruang atrium akibat kontraksinya tersebut, sehingga adanya tekanan yang lebih besar pada bagian atrium ini di bandingkan dengan daerah ventrikel, maka darah akan mengalir menuju ventrikel yang bertekanan rendah.Darah tidak akan dapat mengalir lagi ke tempat semulanya. Hal ini diakibatkan adanya katub yang menjaga agar tidak terjadi regurgitasi. Selain menjaga agar darah tidak kembali lagi ke tempat semula, katub ini juga berfungsi menjaga agar darah yang bersih dan kaya akan oksigen tidak bercampur kembali dengan darah yang kaya akan karbondioksida. Setelah terjadi mekanisme sistole dan diastole, selanjutnya darah akan mengalir ke pembuluh darah berupa pembuluh aorta menuju ke seluruh tubuh.Adanya mekanisme sistole dan diastole ini juga akan membuat darah akan mengalir secara kontinyu di pembuluh darah dalam mekanisme peredaran darah. Pada sistem kardiovaskuler  tekanan sistole dan diastole ini dapat diukur. Pada tubuh yang normal didapatkan bahwa tekanan sistole sebesar 120 mmHg serta tekanan pada saat diastole sebesar 80 mmHg.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah yaitu keadaan jantung itu sendiri serta pengaruh dari luar jantung seperti usia, aktifitas maupun penyakit yang dapat menyebabkan kelainan dan gangguan pada sistem kardiovaskuler sehingga darah tidak dapat beredar secara normal. Untuk menjaga agar sistem kardiovaskuler ini tetap dalam keadaan normal sehingga mampu mempertahankan homeostatis cairan tubuh perlu perhatian yang mendalam dan menjaga agar sistem kardovaskuler ini tetap berjalan normal terhadap arti pentingnya dalam kehidupan manusia yang tidak akan pernah mampu hidup jika sistem kardiovaskuler ini berhenti bekerja terutama jantung berhenti berdetak walaupun hanya beberapa detik saja.
Beberapa ahli fisiologi mempertimbangkan diastole untuk mulai ketika perhentian jantung yang mengeluarkan darah. oleh karena itu, periode antara akhir penutup dan pengeluaran dari semilunar klep memanggil periode yang protodiastolic.
Setelah A-V klep membuka, semua ventricular musculature tinggal dalam keadaan relaksasi sampai kepada titik A-V klep terpotong. alinea terlalu besar, (guyton,2001)
Sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi (kekebalan) dan senyawa N, dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke bagian jaringan-jaringan tubuh (Afrianto, 2012).sirkulasi darah di bantu oleh system kardiovaskuler. Di mana, jantung sangat berperan penting dalam hubungannya dengan pemompaan darah ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah.
Keefektifan kerja jantung dikendalikan oleh faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik adalah sistem nodus, yang mengantarkan rambatan depolarisasi dan pacu jantung (sinus spenosus ke bagian-bagian dari jantung. Meskipun kontraksi otot jantung tidak tergantung pada impuls saraf tetapi laju kontraksinya dikendalikan oleh saraf otonom. Selain itu aktivitas jantung juga dipengaruhi oleh bermacam-macam bahan kimia, hormon, ion-ion, dan metabolit (Tim Dosen, 2012: h. 11).


4.1.2 Bunyi Jantung
Tabel  Bunyi Jantung
Praktikum
Hasil Dari Praktikum
Bunyi Jantung
KLP
Hasil
1
84 detakan
2
85 detakan
3
72 detakan
4
55 detakan
5
86 detakan
6
76 detakan

Untuk mendengarkan suara jantung pertama, dengan meletakkan stetoskop pada dada orang coba yaitu pada ruangan intercostal V sebelah kiri sternum di atas apeks jantung. Di tempat ini terdengar sangat jelas dengan intensitas maksimum. Suara jantung pertama didengar dengan menggunakan diafragma stetoskop karena memiliki frekuensi bunyi yang tinggi. Bunyi S1 yaitu bunyi “lub”. Bunyi “lub” disebabkan oleh penutupan katup mitral dan trikuspidalis. Peristiwa ini menyebabkan turbulensi getaran dalam darah. Getaran kemudian merambat melalui jaringan di dekatnya ke dinding dada, sehingga apat terdengar sebagai bunyi, (Guyton & Hall, 1997 : 347).
Pada daerah pulmonal (pinggir kiri sternum bagian atas) normal dapat didengar dua komponen S2 (suara ke dua terpisah). Komponen I disebabkan oleh penutupan katub aorta sedangkan komponen II disebabkan oleh penutupan katup pulmonalis. Bunyi “dub” ditimbulkan oleh penutupan katup semilunaris yang berlangsung tiba-tiba, ketika katup semilunaris menutup, katup ini menonjol ke arah ventrikel dan renggang elastik katup akan melentingkan darah kembali ke arteri, yang menyebabkan pantulan yang membolak-balikkan darah antara dinding arteri dan katup semilunaris dan juga antara katup dan dinding ventrikel. Getaran yang terjadi di dinding arteri akan menimbulkan suara yang dapat didengar, (Guyton & Hall, 1997 : 348).
Suara dari S3 yaitu “lub…dub…dee…”. Suara ini disebabkan oleh isolasi pada dinding jantung bagian ventrikel akibat masuknya darah dari atrium dengan cepat, (Guyton, 1997 : 348).
Bunyi S4 merupakan bunyi abnormal, terdengar seperti “dee…lub…dub…”. Hal ini disebabkan oleh dorongan prematur darah ke dalam ventrikel yang kaku atau dilatasi karena gagal jantung dan hipertensi, (Potter & Perry, 2005 : 876).
Mendengarkan suara denyut jantung dalam tubuh disebut auskultasi dan biasanya dilakukan dengan memakai alat yang disebut stetoskop. Menurut Setjen (2010), pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah, selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung. Kedua atrium jantung dapat berkontraksi dan relaksasi secara bersamaan, kedua bilik juga dapat berkontraksi dan relaksasi secara bersamaan. Darah dari tubuh masuk ke dalam atrium kanan, ventrikel kanan dan kemudian dipompakan ke paru-paru. Katup-katup menjaga agar darah tidak mengalir balik dari aorta ke ventrikel, atrium dan vena. Katup-katup tersebut membuka dan menutup karena perbedaan tekanan darah dalam ruang-ruang jantung. Adanya cairan perikardial menghalangi gesekan membran perikardial satu dengan yang lainya pada setiap denyutan jantung. 
Suara denyut jantung terutama datang dari bergolaknya darah yang disebabkan oleh menutupnya katup jantung. Pada setiap siklus jantung hanya suara jantung pertama dan kedua yang cukup keras didengar melalui stestoskop. Suara pertama yang terdengar adalah suara “lup” lebih keras dan sedikit lebih panjang daripada suara yang kedua. Suara “lup” ini dihasilkan dari gerak balik darah yang menutup katup atrioventrikular segera setelah sistol ventrikel mulai. Suara kedua lebih pendek dan tidak sekeras suara pertama yaitu suara “dup”, suara ini adalah akibat gerak balik darah menutup katup semilunar pada diastol ventrikel, sedangkan waktu antara suara jantung kedua dengan suara jantung pertama berikutnya kira-kira dua kali lebih lama dari pada waktu antara suara jantung pertama dengan suara jantung kedua dalam satu siklus (Soewolo dkk, 2003:248-249).

            Diantara bunyi kedua dan bunyi pertama dari siklus selanjutnya terdapat satu periode istirahat yang lamanya dua kali daripada periode istirahat antara bunyi pertama dan bunyi kedua dalam satu siklus. Dengan demikian, siklus jantung dapat didengarkan sebagai lub, dup, istirahat; lub, dup, istirahat; lub, dup, istirahat; dan seterusnya (Tortora, 1984:470).
Denyut jantung secara lengkap terdiri atas kontraksi atrium, relaksasi atrium dan kontraksi ventrikel serta relaksasi ventrikel. Pada manusia satu denyutan jantung secara lengkap memerlukan waktu sekitar 0,8 detik sehingga jumlah denyutan per satu menit (laju denyut jantung) sekitar 75 kali. Secara teoritis, semakin banyak darah yang masuk ke jantung, semakin banyak pula darah yang akan dikeluarkan dari jantung. Menurut  Soewolo (2000) pada umumnya laju denyut jantung hewan yang bertubuh kecil lebih tinggi dari pada hewan yang bertubuh besar.
Secara normal, katup mitral terbuka sedikit lebih cepat sebelum katup trikuspidal. Sama dengan pada katup mitral dan trikuspidal, pada katup semilunar juga terdapat desinkronisasi penutupan katup. Katup semilunar aortik secara normal mengatup dengan bunyi keras lebih dulu daripada katup semilunar pulmonari. Bila nafas ditarik pelan-pelan dan dalam, maka pengisian ventrikel kanan akan sedikit tertunda sebab pembuluh darah pulmonari tertekan oleh peningkatan tekanan intrapulmonari (Basoeki, dkk. 2000:112).
Denyut nadi adalah frekwensi irama denyut/detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) di permukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. Frekuensi denyut nadi pada umumnya sama dengan frekuensi denyut/detak jantung (Setjen, 2010). Denyutan dinyatakan sebagai ekspresi dan dorongan balik arteri secara berganti-ganti. Ada 2 faktor yang bertanggungjawab bagi kelangsungan denyutan yang dapat dirasakan. Pertama, pemberian darah secara berkala dengan selang waktu pendek dari jantung ke aorta, yang tekannya berganti-ganti naik turun dalam pembuluh darah. Bila darah mengalir teta dari jantung ke aorta, tekanan akan tetap sehingga tidak ada denyutan. Faktor yang kedua, elastisitas dari dinding arteri yang memungkinkannya meneruskan aliran darah dan aliran balik. Bila dinding tidak elastis maka tetap ada pergantian tekanan tinggi rendah dalam sistol dan diastole ventrikel, namun dinding tersebut tidak dapat melanjutkan alirannya dan mengembalikan aliran sehingga denyutpun tidak dapat dirasakan (Soewolo, 2003:263).
Usia, jenis kelamin, kebugaran fisik dan suhu tubuh juga mempengaruhi laju jantung sehingga berpengaruh juga pada jumlah denyutan pada nadi. Bayi yang baru lahir mempunyai laju jantung >120 denyut/menit, kemudian akan turun di usia anak-anak dan akan semakin turun pada usia dewasa. Wanita umumnya sedikit lebih tinggi laju jantungnya daripada pria (Soewolo, 2003:252).


4.1.3 Test Schneider
Tabel Test Schneider
Praktikum
Hasil Dari Praktikum

Test Schneider
KLP
Hasil
Interprestasi

1
9
Cukup

2
10
Cukup

3
10
Cukup

4
9
Cukup

5
9
Cukup

6
13
Baik












              Komponen Sistem Kardiovaskular Sistem kardiovaskular merupakan suatu sistem transpor tertutup yang terdiri atas:
A. Jantung, sebagai org an pemompa.
B.  Komponen darah, sebagai pembawa materi oksigen dan nutrisi.
C.  Pembuluh darah, sebagai media yang mengalirkan komponen darah.
Efek impuls neuron ini adalah untuk meningkatkan frekuensi jantung. Impuls ini menjalar melalui serabut simpatis dalam saraf jantung menuju jantung. Ujung serabut saraf mensekresi neropineprin, yang meningkatkan frekuensi pengeluaran impuls dari nodus S -A, mengurangi waktu hantaran melalui nodus A - V dan sistem Purkinje, dan meningkatkan eksitabilitas keseluruhan jantung. Hall tersebut sesuai dengan yang menyatakan bahwa Pusat refleks kardioinhibitor juga terdapat dalam medulla oblongata. efek impuls dari neuron ini adalah untuk mengurangi frekuensi jantung. Warigan ( 2002).
Sementara hasil dan pembahasan yang diperoleh pada test Schneider adalah, test ini merupakan test kemampuan fisik kelasik yang digunakan sejak tahun 1920 untuk menguji setatus kesehatan seseorang atau efisiensi sirkulasi darahnya.dengan interperstasi skor :
15                   : sangat baik
12 – 4             : baik
9 – 11             : cukup
< 9                  : buruk

4.1.4 Test Harvad Step (Lambat dan Cepat)
Tabel Test Harvd Step (Lambat dan Cepat)
Praktikum
Hasil dari Praktikum

KLP
Hasil
Interprestasi

Lambat
Cepat
Lambat
Cepat

Test Harvard Step (Lambat dan Cepat)
1
71
12
k. cukup
Kurang

2
79.37
18
k. cukup
Kurang

3
96
51
k. amat baik
Kurang

4
42
60
k.kurang
Sedang

5
91.46
15
k. amat baik
Kurang

6
69
29
k. cukup
Kurang




                                                                              
              Hasil pada Test Harvard Setp terdapat dua cara yaitu cara lambat dan cara cepat. Sedangkan Tes Harvard sendiri adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk mendeteksi dan atau mendiagnosa kelainan kardivaskuler. Tes ini juga salah satu ukuran yang bagus bagi kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari olahraga berat. Semakin cepat jantung kembali normal maka semakin bugar tubuhnya. Firhazona.(2008).
              Uchenk (2008) yaitu Tes Harvard adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk mendeteksi dan atau mendiagnosa kelainan kardivaskuler. Tes ini juga salah satu ukuran yang bagus bagi kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari olahraga berat. Semakin cepat jantung kembali normal maka semakin bugar tubuhnya  Dengan melakukan naik turun bangku selama 5 menit, tidak boleh lebih 5 menit dalam melakukan naik dan turun mangku, satu kali naik turun bangku 2 detik.

AIK lambat dengan rumus :

Aik  = lama naik turun bangku (detik ) x 100
                     2 x ( jumlah 3 bilangan nadi terhitung )
                     AIK cara cepat dengan rumus :
Aik  = lama naik turun bangku (detik ) x 100
                               5.5 x nadi pada hitungan menit pertama
                     Interperestasi AIK adalah sebagai berikut :
< 55              : kemampuan kurang
55 – 64           : kemampuan sedang
65    – 78           : kemampuan cukup
80    – 89           : kemampuan baik
>90              : kemampuan amat baik

4.2 Fisiologi Darah
4.2.1 Preparat Natif Darah
Tabel Preparat Natif Darah
No
Kelompok
Gambar PREPARAT
Bentuk Sel Darah
Krenasi
Mikroorganisme
ada
tidak
Ada
Tidak
1
1 dan 2

Cakram bikonkaf, sirkulasi dan tidak berinti
ü   


ü   
2
3 dan 4

Cakram bikonkaf, sirkulasi dan tidak berinti
ü   


ü   
3
5 dan 6

Lonjong atau oval danberinti
ü   


ü   

            Dari hasil yang telah didapatkan pada 3 sampel yaitu sampel darah sapi, kambing, dan ayam,bahwa ketiga sampel ini tergolong kedalam mamalia (sapid an kambing) dan unggas (ayam).
Sel darah merah membawa haemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah berbentuk piring atau biconcave, pada mamalia sel darah merah tidak bernukleus kecuali pada awal dan pada hewan-hewan tertentu. Sel darah merah pada unggas mempunyai nukleus dan berbentuk elips. Sel darah merah terdiri dari air (65%), Hb (33%), dan sisanya terdiri dari sel stroma, lemak, mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya dan ion K (Kusumawati, 2004).
Eritrosit mamalia berbentuk kepingan bikonkaf yang diratakan dan diberikan tekanan di bagian tengahnya, dengan bentuk seperti "barbel" jika dilihat secara melintang. Bentuk ini (setelah nuklei dan organelnya dihilangkan) akan mengoptimisasi sel dalam proses pertukaran oksigen dengan jaringan tubuh di sekitarnya. Bentuk sel sangat fleksibel sehingga muat ketika masuk ke dalam pembuluh kapiler yang kecil. Eritrosit biasanya berbentuk bundar, kecuali pada eritrosit di keluarga Camelidae (unta), yang berbentuk oval.  (Santi, 2003).
Pada jaringan darah yang besar, eritrosit kadang-kadang muncul dalam tumpukan, tersusun bersampingan. Formasi ini biasa disebut roleaux formation, dan akan muncul lebih banyak ketika tingkat serum protein dinaikkan, seperti contoh ketika peradangan terjadi. (Marsya, 2008).

4.2.2 Waktu Perdarahan
Tabel Waktu Perdarahan
Kelompok
Nama
Waktu Perdarahan
1

1 menit 43 detik
2

35 detik
3

25 detik
4

1 menit 20 detik
5

2 menit 37 detik
6

16 menit 13 detik
7
Mualip Alvian
Sri Wahyuni
13 detik
15 detik
8
Merry Herlina
Frengky
16 detik
27 detik
9
Risky Keliat
Firda
1 menit 25 detik
1 menit 28 detik
10
Fadhol Adha
Suhartini
23 detik
19 detik

Subhan (2003) yang menyatakan bahwa  waktu pendarahan di pembuluh kecil itu lebih lama pendarahan waktu pertama keluar darah : 10 menit waktu akhir/kering : 30 menit Terjadi penggumpalan.
Pada jari yang ditusuk dengan lanset sterill terdapat pembuluh darah kecil. Yang dimaksud dengan pendarahan adalah peristiwa keluarnya darah dari pembuluh darah karena pembuluh tersebut mengalami kerusakan. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh benturan fisik, sayatan, atau pecahnya pembuluh darah yang tersumbat.
Berdasarkan letak keluarnya darah, pendarahan dibagi menjadi 2 macam, yaitu pendarahan terbuka dan pendarahan tertutup. Pada pendarahan terbuka, darah keluar dari dalam tubuh. Tekanan dan warna darah pada saat keluar tergantung dari jenis pembuluh darah yang rusak. Jika yang rusak adalah pembuluh arteri (pembuluh nadi), maka darah memancar dan berwarna merah terang. Jika yang rusak adalah pembuluh vena (pembuluh balik), maka darah mengalir dan berwarna merah tua. Jika yang rusak adalah pembuluh kapiler (pembuluh rambut), maka darah merembes seperti titik embun dan berwarna merah terang.
Waktu pendarahan adalah interval waktu mulai timbulnya tetes darah dari pembuluh darah yang luka sampai darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh darah. Penghentian pembuluh darah ini disebabkan terbentuknya agregat yang menutupi celah pembuluh darah yang rusak. (Dsyoghi, 2010)
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik. (Dsyoghi, 2010)

4.2.3 Waktu Beku Darah
Tabel Waktu Beku Darah

Kelompok
Nama
Waktu Beku Darah
1

9 menit 27 detik
2

8 menit 30 detik
3

10 menit 9 detik
4

11 menit 9 detik
5

2 menit 21 detik
6

1 menit 4 detik
7
Mualip Alvian
Sri Wahyuni
20 detik
22 detik
8
Merry Herlina
Frengky
1 menit 29 detik
18 detik
9
Risky Keliat
Firda
2 menit 10 detik
1 menit 32 detik
10
Fadhol Adha
Suhartini
20 detik
1 menit 14 detik

Tambayon (2003) menyatakan bahwa cepatnya proses pembekuan darah karena di dalam darah manusia terdapat globin dan hem (sekitar 40%) sebagai proses konjugasi protein dalam tubuh manusia.
Pada darah manusia terjadi pembekuan (terbentuk benang putih) karena darah tidak dibri antikoagulan. Sedangkan darah sapi, kambing , dan ayam tidak terjadi pembekuan karena darah – darah tersebut diberi antikoagulan.
Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit (Wibowo, 2009).




4.2.4 Laju Endap Darah
Grafik LED dari Ayam
Grafik LED Sapi
Grafik LED Kambing

4.2.5 Hemolisis dan Ketahanan Osmotik Eritrosit
Tabel  Hemolisis dan Ketahanan Osmotik Eritrosit
Nomor Tabung
Konsentrasi
Makroskopis (Hemolisis)
Mikroskopis
Bentuk
Besar
1
0.65% (Sapi)
_
Bulat Cincin
2
0.65% (Kambing)
_
Bulat Cincin
3
0.65 (Ayam)
_
Oval
4
1% Urea dalam Aquades (Sapi)
+
Hemolisis Sempurna

5
1% Urea dalam Aquades (Kambing)
+
Hemolisis Sempurna

6
1% Urea dalam Aquades (Ayam)
+
Hemolisis Sempurna

.
 (Feni, 2011). Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam tabung khusus LED dalam posisi tegak lurus selama satu jam.
 (Ega, 2009). Sel darah merah akan mengendap ke dasar tabung sementara plasma darah akan mengambang di permukaan. Kecepatan pengendapan sel darah merah inilah yang disebut LED. Atau dapat dikatakan makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya (Sintia, 2010).

Pada darah yang diberi ureua terjadi sebaliknya yaitu jika ditambah aquades eritrosit menggembung sedangkan jika diberi NaCl eritrosit pecah. Hal tersebut terjadi karena aquades menjadi larutan hipotonis dan NaCl menjadi larutan hipertonis (Leni, 2013).
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma)( Anonim, 2008 ).

            Hemolisis merupakan suatu proses yang menunjukkan terjadinya lisis pada sel darah merah (eritrosit) dimana hemoglobin keluar dari sel. Hemolisis terjadi jika sel didedahkan dalam medium yang hipotonis. Eritrosit memiliki membran yang bersifat selektif permiabel yang artinya hanya senyawa atau zat tertentu saja yang dapat menembus atau memasuki dinding selnya. Rusaknya membran dari eritrosit biasanya disebabkan karena penambahan larutan hipotonis atau hipertonis ke dalam sel darah.
Hal yang mungkin terjadi bila eritrosit dimasukan ke dalam medium yang hipotonis adalah medium tersebut akan masuk ke dalam membran pada eritrosit sehingga sel darah akan menggembung. Pecahnya sel dari eritrosit disebabkan sel tidak dapat menahan tekanan yang terdapat dari dalam sel eritrosit itu sendiri. Sebaliknya bila eritrosit ditempatkan pada larutan yang hipertonis, maka cairan dari dalam erotrosit akan keluar dari dalam sel menuju medium sehingga eritrosit akan menjadi berkerut. Peristiwa ini biasa dikenal dengan krenasi.
Sel darah ketika ditambahkan akuades akan memperlihatkan penampakan sel darah merah (eritrosit) tampak pecah. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi peristiwa hemolisis pada sel darah merah yang dikarenakan larutan akuades bersifat hipotonis. Akuades merupakan cairan hipotonis yang menyebabkan perbedaan konsentrasi dimana konsentrai darah lebih tinggi daripada konsentrasi aquades, sehingga beberapa cairan dari aquades masuk kedalam sel-sel darah merah tersebut sampai konsentrasinya seimbang akan tetapi membran atau lapisan yang dimiliki darah tidak kuat untuk menampung semua itu sehingga terjadilah hemolisis (pecahnya sel darah merah).
            Peristiwa hemolisis dan krenasi tidak pernah terlepas dari peran osmosis dan difusi. Kerusakan pada membran sel darah dikaarenakan sel darah didedahkan pada medium yang hipotonis atau hipertonis. Apabila larutan bersifat hipotonis larutan dari luar akan masuk ke dalam eritrosit sehingga eritrosit menggembung melebihi kemampuan dari sel dan akhirnya pecah karena larutan masuk melalui membran eritrosit yang bersifat semi permiabel. Sedangkan bila larutan bersifat hipertonis dimasukan dalam darah akan menyebabkan isi sel keluar menuju medium sehingga sel mengkerut.

4.2.6 Hematokrit
Tabel Hasil Hematokrit
Kelompok
Ternak/Ungas
Sapi
Kambing
Ayam
1
29
39
_
2
29
44
34
3
28
39
21
4
_
39
25
5
28
39
22
6
31

25
7
40
32
27
8
24
33
27
9
25
33
23
10
27
34
25
11
29
27
20


Hematokrit atau packed cell volume (pcv) merupakan persentase sel-sel darah merah di dalam 100 ml darah,darah yang ditambah antikoagulan kemudian disentrifuse dengan kecepatan tinggi ,maka darah terpisah menjadi 3 bagian yaitu :
1.Lapisan teratas : Plasma berwarna kuning
2.Lapisan tengah : Buffy coat yang terdiri dari trombosit (bagian teratas kuning coklat ),Leukosit (bagian tengah berwarna abu-abu kemerahan).
3.Lapisan Terbawah : eritrosit berwarna merah tua,eritrosit terpisah di bagian bawah karena mempunyai BJ terbesar.



 
                                         Plasma

                                       Buffy Coat


 
           
                                                       Sel darah Merah


                                                  Lilin Penyumbat


                    Gambar Hematokrit

Hematokrit merupakan suatu hasil pengukuran yang menyatakan perbandingan sel darah merah terhadap volum darah. Kata hematokrit berasal dari bahasa Yunani, yaitu hema (berarti darah) dan krite (yang memiliki arti menilai atau mengukur). Secara harafiah, hematokrit berarti mengukur atau menilai darah.
Semakin tinggi persentase hematokrit berarti konsentrasi darah semakin kental, dan diperkirakan banyak plasma darah yang keluar dari pembuluh darah hingga berlanjut pada kondisi syok hipovolemik. Penurunan hematokrit terjadi pada pasien yang mengalami kehilangan darah akut, anemia, leukemia, dan kondisi lainnya.
Nilai normal hematokrit (Ht) sangat bervariasi menurut masing-masing laboratorium dan metode pemeriksaan . Gandasoebrata R (2006).

4.2.7 Hemoglobin
Tabel Hasil Hemoglobin
Kelompok
Ternak/Unggas
Sapi %
Kambing %
Ayam %
1
11.6
11.1
11.30
2
8.8
9.2
7
3
11
12
12
4
10
9
7.2
5
6.6
6.8
1.8
6
12
9.8
7.8
7
12
9.8
7.8
8
12
9.8
7.8
9
12
9.8
7.8
10
7.8
12
9.8
11
12
9.8
7.8

Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah.
Hemoglobin adalah merupakan zat protein yang ditemukan dalam sel darah merah (SDM), yang memberi warna merah pada darah. Haemoglobin terdiri atas zat besi yang merupakan pembawa oksigen, kadar haemoglobin yang tinggi abnormal tejadi karena keadaan hemokonsentrasi akibat dari dehidrasi (kehilangan cairan) kadar haemoglobin yang rendah berkaitan dengan berbagai masalah klinis (Joice Leafever Kee, 2000). Haemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut (heme) dan protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul haemoglobin dalam setiap sel darah merah. (Elizabeth J.Corwin, 2000).
Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting dalam diagnosa suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus yang ada dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan hemoglobin yang biasa disebut anemia. Hemoglobin bisa saja berada dalam keadaan terlarut langsung dalam plasma. Akan tetapi kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen tidak bekerja secara maksimum dan akan mempengaruhi pada faktor lingkungan.
Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin.


4.2.8 Menghitung Jumlah Sel Darah
            Tabel Pengamatan Menghitung Jumlah Sel Darah
Kelompok
Pengamatan
Darah
Jumlah Sel
1
Eritrosit
Sapi
1.470.000
2
Eritrosit
Kambing
4.920.000
3
Leukosit
Ayam
34.200
4
Leukosit
Sapi
41.550
5
Leukosit
Kambing
Tidak Mendapatkan Hasil
6
Eritrosit
Kambing
80.500.000
7
Eritrosit
Ayam
2.27 Juta
8
Eritrosit
Sapi
5.040.000
9
Leukosit
Kambing
7.550
10
Leukosit
Sapi
6.850
11
Leukosit
Ayam
552

Menghitung jumlah eritrosit yang terkandung dalam darah memang bukan suatu hal yang mudah karena sel-sel darah merah yang terkandung dalam darah berukuran sangat kecil sehingga dibutuhkan seperangkat alat yang dinamakan dengan Haemocytometer dengan bantuan mikroskop. Dalam proses penghitungan sel-sel darah merah dibutuhkan juga ketelitian dan konsisten dalam cara menghitung.
 Penghitungan sel-sel darah merah dihitung di dalam kamar hitung yang bersakala atau berukuran kecil dengan jumlah 40 buah. Contoh gambar sel-sel darah yang terkandung di dalam kamar hitung.
Menghitung jumlah leukosit pada prinsipnya sama saja dengan cara menghitung jumlah sel darah merah (eritrosit) hanya saja yang  digunakan pipet dan kamar hitung yang berbeda, jika tadi pada saat menghitung sel-sel darah merah dengan kamar hitung yang memiliki skala yang kecil dengan jumlah 40 kamar akan tetapi sekarang menghitung dalam kamar hitung yang berukuran besar dengan jumlah 25 kamar.
              Untuk menghitung jumlah sel darah merah dipergunakan larutan pengencer yang dinamakan larutan hayem, hal ini sesuai dengan pernyataan (Vander 2009), yang menyatakan bahwa hitungan sel darah merah total ditentukan dengan mengencerkan suatu jumlah darah dengan menggunakansuatu jenis pengencer.Larutan hayem mempunyai komposisi 1 gram NaCl, 5 gram Na2SO4, 0,5 gram HgCl2, dan 200 liter air. Kecuali berfungsi untuk mengencerkan darah agar sel-sel darah tidak terlalu berdesakan sehingga mempermudahkan dalam perhitungan, larutan hayem juga harus bersifat isotonik terhadap cairan didalam sel darah merah dan harus dapat menghancurkan sel –sel darah lainnya yaitu sel darah putih dan keping darah.
Setelah dilakukan pengenceraan terhadap darah kambing untuk mengamati dan menghitung jumlah sel darah putihnya, maka hasil yang kami dapatkan tetap gagal.
Pada percobaan pertama praktikan telah mengencerkan darah, tetapi darah dalam pipet pengencer terlalu lama, sehingga kami melakukan pengenceran untuk kedua kalinya.Sementara kami menunggu mikroskop dan setelah kami mendapatkannya, setelah kami amati ternyata sel darah rusak.
Kemudian kami ,melakukan percobaan ketiga hasilnya tetap sama. Maka kami menyimpulkan bahwa kambing yang diambil darahnya sakit ataupun kemungkinan darah tidak layak pakai karena sudah terkontaminasi.
Nelson (2000) yang menyatakan bahwa jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila terjadi perubahan dan atau pada waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan.Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri.
4.2.9 Diferensial Leukosit
Tabel Diferensial Darah Manusia Perempuan
Jenis Sel Leukosit
Jumlah Sel
% dari ∑ Leukosit
Basofil
7
14.89
Eusinofil
6
12.76
Myelo
13
27.66
Juven
11
23.40
Stab
8
17.02
Seg
2
4.26
Manosit
_
_
Limp
_
_
Total
47


Darah yang diperiksa adalah darah saudari Catur Aprillia Damayanti, dari table terlihat bahwa basofil saudari Catur adalah 14.89%, sementara kadar normal % basofil pada manusia dewasa adalah 0.5-1%. % Eusinofil pada normal adalah 1-2%, hal ini berarti %eusinofil saudari Catur lebih bessar.Atau jumlah eusinofil Catur meningkat. Peningkatan eusinofil dapat terjadi karena adanya infeksi parasit dan alergi.
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang aakn digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat,eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relative dari masing- masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolute dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total. Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari neutrofil segmen sedangkan pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan hapus ke sediaan lainnya, dari satu lapang pandang ke lapang pandang yang lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%. Bila pada hitung jenis leukosit didapatkan eritrosit berinti lebih dari 10 per 1000 leukosit maka jumlah leukosit per mikro liter perlu dikoreksi. (dr. Boy,2010)
Tabel 2 Diferensial Leukosit (%)
Kelompok
Darah
Myelo
Eosinofil
Basofil
Juven
Stab
Monosit
Seg
Lymph
1
Sapi
30.76
7.69
11.53
7.69
0
11.53
0
30.76
2
Ayam
24.3
5.4
32.4
8.1
0
16.21
2.7
10.81
3
Kambing
22.58
3.22
6.45
6.45
35.48
3.22
6.48
16.12
4
Manusia (Lk)
0
12.5
18.75
18.75
0
6.25
0
18.75
5
Manusia (Pr)
27.66
12.76
14.89
14.89
17.02
0
4.26
0
6
Sapi
47.05
0
29.41
17.64
0
5.88
0
O
7
Kambing
7
0
2
2
10
1
2
5
8
Sapi
14
11
23
5
8
16
11
57
9
Manusia (Lk)
1.60
4.82
1.07
0
0.53

13.37
40.64
10
Manusia (Pr)
38.46

30.77
30.77




11
Sapi
11.35
13.4
3.84
5
16
32
7
4

Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistim pertahanan tubuh dengan menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap agen infeksi. Leukosit dibagi menjadi dua kelompok yaitu granulosit yang terdiri dari heterofil, eosinofil, basofil dan kelompok agranulosit terdiri dari monosit dan limfosit. Granulosit dan monosit mempertahankan tubuh terhadap organisme penyerang dengan cara fagositosis, sedangkan fungsi utama limfosit adalah berhubungan dengan system kekebalan tubuh (GUYTON, 1996)
Sebagian besar granulosit mengandung granula yang berwarna dengan zat warna asam (eosinofil) dan sebagian mempunyai granula basofilik (basofil). Dua jenis sel lainnya yang normal ditemukan dalam darah tepi adalah limfosit, yaitu sel dengan inti besar dan bulat dan sedikit sitoplasma, dan monosit, yaitu sel dengan banyak sitoplasma agranuler dan inti berbentuk ginjal.(Ganong, 2001)
Leukosit berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap kuman
-kuman penyakit yang menyerang tubuh dengan cara fagosit,menghasilkan antibody(Junguera, 1997)

Leukosit terdiri atas limfosit, monosit, basofil, netrofil daneosinofil merupakan komponen darah yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh (Nordenson,2002).
Proses pembentukan limfosit disebutlimfopoiesis, pembentukan limfosit berasal dari pematangan LSC (Lymphoid Stem Cell) atau sel induk, LSC ini akan berkembang menjadi Limfosit-T(timus)dan Limfosit-B(sumsum tulang)kemudian masuk ke perifer beredar dengan interval waktu yang bervariasi bergantung pada sifat sel dan berkumpul dijaringan limfa atau organ limfatik, sel limfoid paling dini adalah limfoblasyang akan berkembang menjadi limfosit kemudianberdifer
ensiasi menjadi sel plasma yang membentuk kurang dari 4,5% hitung jenis dari sumsum tulang normal.Sel plasma berfungsi untuk membentuk antibodi, sel plasma memiliki ciri morfologiinti sel yang terletak eksentrik dan pola kromatin seperti roda pedati.Limfosit disimpan pada sumsum tulang dan sebagiandi jaringan limfa(GuytondanHall, 2007)
           
Eosinofil pada pemeriksaan dibawah mikroskop akan tampak seperti kaca mata dengan sitoplasma merah dan bergrandula. Basofil, granulanya memenuhi inti , sangat jarang ditemukan hanya ditemukan pada mereka yang memiliki penyakit berat. Stab tampak seperti cekungan atau tapal kuda. Segmen, tampak lobus-lobus yang telah memisahkan diri, minimal tiga. Limfosit tampak bulat memiliki inti padat. Sedangkan monosit tampak transparan seperti vakuola. (Oka,2007)



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum Fisiologi Kardiovaskuler yaitu tekanan darah pada setiap orang berbeda-beda dan kesanggupan jantung setelah melakukan suatu kegiatan dapat dihitung dengan menggunakan rumus cepat dan lambat.Jantung sebaiknya dijaga dengan cara menuju jantung sehat yang paling utama adalah dengan mengubah gaya hidup ( therapeutic lifestyle change).
Sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi (kekebalan) dan senyawa N, dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke bagian jaringan-jaringan tubuh.
Keefektifan kerja jantung dikendalikan oleh faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik adalah sistem nodus, yang mengantarkan rambatan depolarisasi dan pacu jantung (sinus spenosus ke bagian-bagian dari jantung. Meskipun kontraksi otot jantung tidak tergantung pada impuls saraf tetapi laju kontraksinya dikendalikan oleh saraf otonom. Selain itu aktivitas jantung juga dipengaruhi oleh bermacam-macam bahan kimia, hormon, ion-ion, dan metabolit
Salah satu indikator kesehatan jantung adalah terjadinya peningkatan denyut nadi pada saat beristirahat. Waktu yang tepat untuk mengecek denyut nadi adalah saat kita bangun pagi dan sebelum melakukan aktivitas apapun.Pada saat itu kita masih relaks dan tubuh masih terbebas dari zat-zat pengganggu seperti nikotin dan kafein.Kita dapat mengecek sendiri dengan merasakan denyut nadi kita di bagian tubuh tertentu. Test Scheneider merupakan test kemampuan fisik klasik yang digunakan sejak tahun 1920 untuk menguji status kesehatan seseorang atau efisiensi sirkulasi darahnya.
Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED.
Darah pada dasarnya memiliki ketahanan terhadap berbagai tekanan. Namun tidak semua tekanan dapat ditahan dan tak mempengaruhinya, hal ini dibuktikan dengan praktikum yang kami laksanakan membuktikan bahwa darah tidak tahan terhadap keadaan yang hhipotonis yaitu keadaan disekitar darah merah berada dalam tekanan yang sangat rendah sehingga terjadinya penyerapan kedalam dan mengakibatkan membran plasma mengembang dan akhirnya pecah.
Waktu pendarahan adalah interval waktu mulai timbulnya tetes darah dari pembuluh darah yang luka sampai darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh darah. Penghentian pembuluh darah ini disebabkan terbentuknya agregat yang menutupi celah pembuluh darah yang rusak.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu koagulasi darah yaitu adanya pembentukan tromboplastin, adanya ion kalsium dan substansi faktor trombosit bereaksi dengan faktor anti hemofilik membentuk tromboplastin, protrombin, prokonvertin, akseleretor konversi serum protrombin dan ion kalsium.Dari data diatas juga terlihat darah masih dalam kisaran normal baik pria maupun wanita.
Hematokrit merupakan persentase sel sel darah merah dalam 100 ml darah. Pada pemeriksaan hematokrit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara manual dan cara automatik. Pada cara manual dilakukan dua pengukuran yaitu secara mikro dan secara makro. Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang terdiri dari protein kompleks terkonjugasi yang mengandung besi dan berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin.
Perhitungan total leukosit penting untuk diagnosa klinik, tetapi akan lebih memberikan gambaran yang lengkap dengan perhitungan diferensial leukosit. Diferensial leukosit merupakan persentase setiap jumlah sel darah putih dari total leukosit. Setiap sel darah putih memiliki fungsi yang berbeda. Sel darah putihh terdiri dari leukosit granulosit dan leukosit agranulosit

5.2 Saran              
             Praktikan harus saling bekerjasama dalam melaksakan praktikum dan praktikan harus mematuhi tata tertib di laboratorium agar praktikum dapat berjalan lancar.





DAFTAR PUSTAKA
Akoso, B. T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius. Yogyakarta.
Ali.2008. Harvard Steps Test. Fisiologi Kardiovaskular. Jakarta: Erlangga.
Anggi. 2012. Atlas Anatomi. Jakarta: Djambatan.
Anonim b. Koagulasi Darah. http://www.sciencebiology.com. Diakses 25 April 2015
Anonim c. Darah. www.medical_blood.gif.blogspot.com. Diakses 26 April 2015
Anonim. 2009.Antikoagulan.http://www.antikoagulan_jevuska.html. Diakses         25 April 2015
Anshari, irwan. Pembekuan darah dan Hemofilia.     http://www.irwanashari.com/2009/12/hemofilia.html. Diakses 25 April 2015
Antoni. 2000. Anatomi Umum. Makassar : Fakultas Kedokteran UNHAS.
Aris. 2010. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
Atwood, Stanton, Storey. 1996. Pengenalan Dasar Disritma Jantung. Gajah Mada             Press. Yogyakarta
Azhar. 2009. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia. Departemen Farmasi FMIPA UI : Depok.
Azhar. 2009. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia. Departemen Farmasi FMIPA UI : Depok.
Bernard. 2004. Buku Teks Histologi Veteriner. Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia Press.
Bianco, Carl. 2000. How Your Heart Works. www.howstuffworks.com, diakses pada       tanggal 29 April 2015
Biofagri. 2006. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGIHEWAN.
Burkitt, Young, Heath. 1995. Histologi Fungsional. EGC. Jakarta.
Debeasi. 2005. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Destara. 2010. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Devi.2012. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
Dilla. 2011. Anatomi Umum. Makassar : Fakultas Kedokteran UNHAS.
Dilla. 2011. Anatomi Umum. Makassar : Fakultas Kedokteran UNHAS.
Duke, NH. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing. New York.
Ega. 2009. Kadar Hemoglobin dan Jumlah Sel Darah Merah pada Berbagai Itik Lokal. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED, Purwokerto.
Evelyn, Pearce. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Fega. 2001. Fisiologi Kedokteran. Edisi 14. Jakarta: EGC
Feni. 2011. Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.
Ferdi. 2009. Fisiologi Manusia dan Mekanismenya terhadap Penyakit. EGC Penerbit Buku kedokteran. Jakarta.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada       University Press : Yogyakarta.
Frandson. 2002. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Frandson. 2002. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Ganong, WF. 2002. Review of Medical Physiology. 22th Edition, Appleton & Lange A Simon & Schuster Co, Los Altos, California.
Ganong. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.
Gina. 2006. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Guyton and Hall. 2000. Medical Physiology. W.B.Saunders Company : New         York
Guyton, Arthur C. 1983. Fisiologi Manusia dan Mekanismenya terhadap Penyakit.            EGC Penerbit Buku kedokteran : Jakarta.
Guyton. 2004. Biologi Edisi Kelima. Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
Guyton. 2004. Biologi Edisi Kelima. Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
http://web.ipb.ac.id/~tpb/tpb/files/materi/prak_biologi/Pengukuran%20MOLEKUL%        20CO%20hasil%20RESPIRASI.pdf.Diaksespadatanggal 25 April 2015
http://www.cvphysiology.com, diakses pada tanggal 25 April 2015
Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Yogyakarta.
Ken. 2010. Basic Histology, Appleton and Lange, London.
Keti. 2014. Biokimia Harper. Jakarta: ECG
Kusumawati, Diah. 2004. Bersahabat dengan hewan coba. Gadjah Mada  Press.Yogyakarta.
Kusumawati. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Kusumawati. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Lande, Rante dan J.M. Ch. Pelupessy , ___, Bunyi Jantung, Cermin dunia Kedokteran, www.google.com, diakses pada tanggal 2 November 2008.
Lande. 2008. Anatomi dan Fisiologis Untuk Paramedis. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Leni. 2013. Kadar Hemoglobin dan Jumlah Sel Darah Merah pada Berbagai Itik Lokal. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED. Purwokerto.
Leni. 2013. Kadar Hemoglobin dan Jumlah Sel Darah Merah pada Berbagai Itik Lokal. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED. Purwokerto.
Marsya. 2008. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Martini. 1998. Fundamental of Anatomy and Physiology 4th ed. Prentice Hall International Inc. New Jersey.
Medicine and linux. 2008. Pemeriksaan Jantung. http://medlinux.blogspot.com,      diakses pada tanggal 28 April 2015
Mirna. 2013. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mirna. 2013. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Moehadsjah, O. K. dkk. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Jilid I. Jakarta: Balai        Penerbit FKUI
Murrary. 1999. Biokimia. EGC. Jakarta.
Nielsen. 1997. Ukuran dan Temperatur Tubuh. Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Nurcahyo, Heru. 1998. Anatomi dan Fisiologi Hewan. UNY. Yogyakarta.
Pearce. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Ph.D, Klabunde, Richard. 2007. Cardiovascular Physiology Concepts.
Prawirohartono, Slamet. 2004. Sains Biologi. Bumi Aksara. Jakarta.
Retnosari. 2008. Anatomi dan Fisiologis Untuk Paramedis. Jakarta, Gramedia
Rini. 2011. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Rini. 2011. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.
Rita. 2011. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.
Rogers, James. 2000. Cardiovascular Physiology.http://www.nda.ox.ac.uk, diakses            pada tanggal 29 April 2015.
Santi. 2003. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Satya. 2010. Dasar-dasar Anatomi Ternak. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Saul. 2010. Histologi Umum. Jakarta, Sagung Seto.
Schmid, K, and Friends. 1997. Animal Physiology: Adaptation and Environment.             Cambridge University Press. USA.
Schmid, K. and Friends. 1997. Animal Physiology Adaptation and Environment. Cambridge University Press. USA.
Sinta. 2007. Genetika Manusia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Sintia. 2010. Hemoglobin Darah. Bandung : Erlangga.
Sintia. 2010. Hemoglobin Darah. Bandung : Erlangga.
Smeltzer, S.C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Brunner & Suddarth.         Edisi 8. Vol. 2. Jakarta: EGC.
Soni. 2008. Hemoglobin Darah. Bandung : Erlangga
Subagiyo, Edi. 2007. Perbedaan Tekanan darah Sebelum dan Sesudah Terpapar Tekanan Panas pada Pekerja bagian Moulding Perum Perhutani Unit I Jwa Tengah          Semarang. http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH01b9/fa10a15a.dir/do         c.pdf. Diaksespadatanggal 29 April 2015
Sudarmaji. 2008. Pengaruh Penyuntikan Prostaglandin Terhadap Persentase Birahi dan Angka Kebuntingan Sapi Bali dan PO di Kalimantan Selatan. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/sudarmaji%20100102007.pdf. Diaksespadatanggal    30 April 2015
Swenson, M.J. 1997. Duke’s Physiology of Domestic Animal. Comstock. Publ. Co.           Inc. Ithaca New York.
Tim Dosen. 2014. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi.
Tim Dosen. 2014. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi.
Wikipedia Indinesia. 2008. Jantung.http://id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 27           2015.
Wulangi S. Kartolo. 1993. Prinsip-prinsip fisiologo hewan. Jurusan biolobi. ITB:    Bandung
Yuwanta, Tri. 2000. Dasar Ternak Unggas. Kanius. Yogyakarta.


LAMPIRAN

Gambar Eritrosit Ayam
Gambar Eritrosit Sapi


Gambar Eritrosit Kambing

Gambar Pipet Pengencer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar